Cape Verde terus melanjutkan kisah luar biasanya pada penampilan perdana di Piala Dunia 2026. Negara kepulauan yang berada di lepas pantai barat Afrika itu sukses mencatat sejarah dengan memastikan tiket ke babak 32 besar.
Hasil imbang tanpa gol melawan Arab Saudi pada laga terakhir Grup H menjadi penentu langkah Blue Sharks menuju fase gugur sekaligus menjadikan mereka negara dengan jumlah penduduk paling sedikit yang pernah lolos dari fase grup Piala Dunia.
Perjalanan Cape Verde di Grup H penuh kejutan. Mereka membuka turnamen dengan menahan imbang Spanyol 0-0, kemudian bermain seri 2-2 melawan Uruguay, sebelum kembali meraih hasil imbang tanpa gol saat menghadapi Arab Saudi di Houston Stadium, Sabtu 27 Juni 2026.
Raihan tiga poin dari tiga hasil seri cukup membawa Cape Verde finis sebagai runner-up Grup H di bawah Spanyol yang keluar sebagai juara grup.
Sementara itu, Uruguay dan Arab Saudi harus mengakhiri perjalanan mereka lebih cepat setelah gagal mengumpulkan poin yang cukup.
Keberhasilan melangkah ke babak 32 besar membuat Cape Verde kini harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
Juara bertahan Argentina sudah menunggu mereka pada pertandingan fase gugur yang akan berlangsung di Miami Stadium, Sabtu 4 Juli 2026. Laga ini menjadi ujian terbesar dalam sejarah sepak bola Cape Verde.
Negara Terkecil yang Cetak Sejarah
Dengan populasi sekitar 525 ribu jiwa, Cape Verde mencatat rekor sebagai negara dengan jumlah penduduk paling sedikit yang berhasil lolos ke fase gugur Piala Dunia.
Jumlah penduduk negara tersebut bahkan masih lebih kecil dibandingkan Wyoming, negara bagian dengan populasi paling sedikit di Amerika Serikat yang memiliki sekitar 576 ribu penduduk.
Prestasi Cape Verde juga melampaui pencapaian negara-negara kecil lainnya seperti Curacao pada 2026 dan Islandia pada 2018 yang gagal melewati fase grup saat menjalani debut di Piala Dunia.
Selain itu, Blue Sharks menjadi tim debutan pertama yang berhasil lolos ke fase gugur sejak Slovakia melakukannya pada Piala Dunia 2010.
Mereka juga menyamai catatan Senegal pada Piala Dunia 2002 sebagai tim debutan yang mampu melewati tiga pertandingan grup tanpa mengalami kekalahan.
Tiga hasil imbang ternyata cukup mengantarkan Cape Verde ke babak gugur. Sebelumnya, hanya beberapa negara yang mampu melakukan hal serupa, seperti Wales pada 1958, Republik Irlandia dan Belanda pada 1990, serta Chile pada 1998.
Keberhasilan itu membuktikan konsistensi menjadi faktor penting dalam perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.
Vozinha Tampil Heroik di Bawah Mistar
Keberhasilan Cape Verde tidak lepas dari penampilan gemilang sang penjaga gawang, Vozinha. Kiper veteran tersebut beberapa kali melakukan penyelamatan krusial yang menjaga gawang timnya tetap aman.
Ia menggagalkan sundulan Mohamed Kanno pada babak pertama, kemudian menepis peluang emas Mohammed Abu Al-Shamat pada menit ke-66.
Aksi heroiknya berlanjut pada menit ke-92 ketika berhasil menghalau peluang Abdullah Al-Hamdan yang nyaris membawa Arab Saudi meraih kemenangan. Penampilan impresif tersebut membuat popularitas Vozinha meningkat pesat, termasuk di media sosial.
Di tribune stadion, dukungan kepada Cape Verde begitu terasa. Sejumlah suporter membentangkan poster bertuliskan “Kepulauan Kecil, Impian yang Besar”, kalimat yang kemudian menjadi simbol perjuangan Blue Sharks di Piala Dunia 2026.
Selain itu, beberapa pendukung bahkan mengecat dada mereka membentuk nama Vozinha sebagai bentuk apresiasi kepada sang kiper.
Momen emosional juga hadir ketika ibu Vozinha, Ana Candida Evora, menyaksikan langsung perjuangan putranya dari tribune VIP sambil mengibarkan bendera kecil Cape Verde.
Cape Verde sebenarnya memiliki sejumlah kesempatan untuk mengamankan kemenangan atas Arab Saudi. Kevin Pina hampir membuka keunggulan lewat tembakan jarak jauh pada menit ke-50, tetapi bola masih melambung tipis.
Laros Duarte juga memperoleh peluang emas pada menit ke-74, namun sepakannya berhasil diamankan Mohammed Al-Owais.
Menjelang akhir laga, Nuno da Costa gagal memanfaatkan peluang matang setelah tendangannya melebar dari sasaran.
Meski gagal mencetak gol, hasil pertandingan lain yang memperlihatkan kemenangan Spanyol atas Uruguay memastikan Cape Verde tetap lolos ke babak berikutnya.
Bubista dan Vozinha Bangga dengan Perjuangan Tim
Pelatih Cape Verde, Bubista, mengaku bangga melihat perjuangan para pemainnya yang berhasil membuktikan kualitas mereka di panggung dunia.
Tim ini sangat berambisi untuk menunjukkan kemampuan kami kepada seluruh dunia. Kami bangga bisa sampai di tahap ini dan membuktikan negara kecil pun mampu memperjuangkan impiannya,”
ujar pelatih Cape Verde, Bubista, dengan bangga.
Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa Cape Verde memang pantas berada di level tertinggi sepak bola internasional.
Setiap orang berhak untuk bermimpi. Di dalam sepak bola, saya percaya bahwa tidak ada hal yang mustahil untuk digapai,”
Bubista menambahkan.
Sementara itu, Vozinha menegaskan bahwa semangat juang menjadi modal terbesar timnya. Ia juga membela kualitas para pemain Cape Verde yang selama ini sering dipandang sebelah mata.
Kami memang kecil. Namun, kami memiliki hati yang besar dan kami semua adalah petarung sejati. Ada banyak pemain berkualitas di dalam tim nasional kami. Mungkin banyak dari Anda yang menilai bahwa kemampuan pesepak bola Cape Verde tidak cukup bagus,”
ungkap Vozinha.
Namun, kami datang ke sini untuk menunjukkan bahwa kami memiliki kualitas yang sangat tinggi untuk bersaing. Pemain-pemain kami juga memiliki kapasitas besar untuk merumput di kompetisi besar serta liga-liga top dunia,”
Vozinha melanjutkan.
Bubista pun menutup kisah bersejarah tersebut dengan keyakinan yang telah lama ia pegang.
Saya selalu mengatakan bahwa cepat atau lambat Cape Verde akan berdiri di panggung sebesar ini. Tentu saja sulit untuk membuat prediksi seakurat ini, tetapi saya selalu tahu kemampuan tim ini,”
ujar Bubista.


















