Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun di tengah upaya memenuhi kebutuhan pangan dunia, masih banyak makanan yang terbuang sia-sia sebelum sempat dikonsumsi.
Kehilangan dan pemborosan pangan ini terjadi di berbagai tahap, mulai dari proses produksi, distribusi, hingga saat makanan sudah berada di meja makan. Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara food loss dan food waste? Meski sama-sama berkaitan dengan makanan yang terbuang, keduanya memiliki pengertian dan penyebab yang berbeda.
Istilah Food Loss dan Food Waste
Dari laman Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Food loss merujuk pada kehilangan pangan yang terjadi di berbagai tahap rantai pasok sebelum makanan sampai ke tangan konsumen. Kehilangan ini dapat terjadi saat proses produksi, penanganan pascapanen, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.
Sementara itu, food waste adalah makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi, tetapi terbuang atau dibuang pada tahap akhir rantai pasok, terutama di tingkat konsumen.
Secara sederhana, food loss terjadi sebelum pangan mencapai konsumen, sedangkan food waste terjadi setelah pangan berada di tangan penjual atau konsumen. Ruang lingkup keduanya dalam rantai pasok pangan dapat dilihat pada gambar berikut.
Penyebab Food Loss dan Food Waste
Food loss umumnya terjadi karena faktor eksternal, seperti kondisi cuaca, serangan hama, keterbatasan infrastruktur penyimpanan dan transportasi, serta pengelolaan rantai pasok yang kurang efisien. Akibatnya, sebagian pangan rusak atau hilang sebelum sampai ke konsumen.
Sementara itu, food waste dipengaruhi oleh perilaku manusia. Penyebabnya antara lain membeli atau menyiapkan makanan secara berlebihan, tidak menghabiskan makanan, kurang memahami nilai pangan, pengelolaan sisa makanan yang kurang baik, atau kadaluwarsa.
Menjadi Isu Masalah Global
Menurut data United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2021, jumlah susut pangan (food loss) dan sampah makanan (food waste) di dunia mencapai sekitar 1,3 miliar ton setiap tahun. Angka tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari total pangan yang diproduksi untuk konsumsi manusia.
Di Indonesia, persoalan ini juga menjadi perhatian serius. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sampah makanan menjadi salah satu jenis sampah yang paling dominan, terutama yang berasal dari rumah tangga.
Kondisi ini tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak pada lingkungan karena meningkatkan emisi gas rumah kaca dari sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir.
Dampak Food Loss dan Food Waste di Indonesia
Dalam Laporan Kajian Food Loss and Waste di Indonesia tahun 2021, Bappenas menyebutkan bahwa pada periode 2000–2019, timbulan food loss dan food waste mencapai 115–184 kilogram per kapita per tahun.
Dari sisi ekonomi, kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai Rp213–551 triliun per tahun atau setara 4–5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sementara dari sisi sosial, kandungan gizi yang hilang akibat food loss dan food waste sebenarnya cukup untuk memberi makan sekitar 61–125 juta orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa pengurangan food loss dan food waste bukan hanya soal mengurangi sampah, tetapi juga upaya menjaga lingkungan, menghemat sumber daya, dan memperkuat ketahanan pangan.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Mengurangi food loss dan food waste membutuhkan peran berbagai pihak, mulai dari produsen, pelaku usaha, hingga konsumen. Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
- Membeli makanan sesuai kebutuhan agar tidak berlebihan.
- Menyusun menu dan daftar belanja sebelum berbelanja.
- Menyimpan makanan dengan cara yang tepat agar lebih tahan lama.
- Mengolah kembali sisa makanan yang masih layak konsumsi.
- Memahami perbedaan tanggal kedaluwarsa dan batas terbaik konsumsi (best before).
- Mengambil atau menyajikan makanan secukupnya untuk menghindari sisa makanan.
- Mendonasikan makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada pihak yang membutuhkan.
Dengan kebiasaan yang lebih bijak dalam mengelola pangan, jumlah makanan yang hilang maupun terbuang dapat dikurangi. Langkah sederhana tersebut tidak hanya membantu menghemat pengeluaran, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan mengurangi dampak lingkungan akibat sampah makanan.























