Atmosfer meriah di Piala Dunia 2026 tidak hanya tercipta dari aksi para pemain di lapangan, tetapi juga dipengaruhi oleh musik yang menggema di setiap stadion.
Salah satu lagu yang kini mencuri perhatian adalah “Take Me Home, Country Roads” milik John Denver yang mendadak menjadi favorit suporter Amerika Serikat.
Lagu tersebut perlahan menggantikan identitas suporter AS yang sebelumnya kerap dikritik karena hanya meneriakkan chant sederhana, “USA! USA!”.
Lantas, mengapa lagu-lagu tertentu seperti “Wonderwall”, “Freed from Desire”, atau “Livin’ on a Prayer” hampir selalu terdengar di Piala Dunia? Ternyata, semua itu telah dirancang secara khusus oleh FIFA.
FIFA menyiapkan lebih dari 750 lagu yang digunakan sepanjang Piala Dunia 2026 untuk membangun atmosfer pertandingan.
Melalui Stadium Entertainment Team, FIFA bekerja sama dengan seluruh federasi peserta untuk menyusun daftar lagu yang menggabungkan musik stadion populer dunia dengan lagu-lagu khas dari masing-masing negara.
Setiap tim memiliki musik identitas yang berbeda, mulai dari lagu saat susunan pemain diumumkan, musik pemanasan menjelang kick-off, lagu yang diputar ketika mencetak gol, hingga lagu kemenangan yang dinyanyikan bersama para suporter setelah pertandingan usai.
Konsep tersebut menjadi simbol keberagaman budaya pada Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya diikuti oleh 48 negara.
Lagu Favorit
Meski setiap negara memiliki identitas musik masing-masing, sejumlah lagu telah menjadi “langganan” stadion sepak bola dunia.
Beberapa di antaranya adalah “Seven Nation Army”– The White Stripes, “Thunderstruck”– AC/DC, dan ada juga “Freed from Desire”– Gala.
Lagu-lagu tersebut dianggap mampu membangkitkan semangat karena mudah dikenali dan dinyanyikan oleh ribuan penonton secara bersamaan.
Menurut pengamat budaya chant sepak bola asal Inggris, Andrew Lawn, lagu stadion yang bertahan lama memiliki karakter sederhana namun kuat.
“Lagu-lagu itu harus mudah diingat, menyenangkan, dan langsung dikenali,”
ujar Lawn, seperti dilansir dari Reuters.
Ia menambahkan bahwa faktor emosional juga menjadi alasan sebuah lagu bisa melekat dengan suporter.
“Konteks juga sangat penting. Sebuah lagu akan melekat pada sebuah momen jika momen itu berakhir dengan sukses. Setelah itu lagu tersebut akan terus dikenang karena emosi dari momen tersebut ikut menempel pada lagunya,”
kata Lawn.
Setiap Negara Punya Lagu Khas
Selain lagu-lagu yang bersifat universal, banyak negara memilih musik yang mencerminkan budaya mereka. Argentina, misalnya, menggunakan “El Matador” milik Los Fabulosos Cadillacs sebagai lagu pemanasan sekaligus lagu ketika mencetak gol.
Meski sering dianggap berkaitan dengan ketajaman Lionel Messi karena bagian refreinnya meneriakkan “Matador! Matador!”, lagu tersebut sebenarnya mengangkat kisah tentang kediktatoran militer dan kekerasan di Amerika Latin pada era 1970-an.
Sementara itu, Ghana memilih “Kakalika” karya DopeNation sebagai lagu identitas mereka. Lagu yang dirilis pada 2025 itu memadukan berbagai unsur musik dan bahasa untuk merayakan keberagaman.
Meksiko mempercayakan nuansa stadion kepada tiga lagu dari grup mariachi legendaris Mariachi Vargas, sedangkan Korea Selatan menghadirkan warna K-Pop melalui lagu-lagu dari Blackpink dan BTS.
Prancis memilih “One More Time” milik Daft Punk sebagai lagu perayaan gol, sementara Australia menggunakan lagu klasik “Down Under” dari Men at Work. Belgia pun memiliki identitas tersendiri melalui lagu techno “Pump Up The Jam” karya Technotronic.
Gempita Wonderwall
Salah satu fenomena menarik terjadi pada Timnas Inggris. Lagu “Wonderwall” milik Oasis kini rutin diputar setiap kali The Three Lions meraih kemenangan.
Tradisi tersebut bermula setelah kemenangan 4-2 atas Kroasia pada laga pembuka Piala Dunia 2026, ketika ribuan pendukung kompak menyanyikan lagu tersebut.
Kapten Inggris Harry Kane mengaku momen itu menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama membela negaranya.
“Kami memang memiliki hubungan yang sangat baik dengan para suporter saat ini. Tetapi momen ketika seluruh stadion menyanyikan ‘Wonderwall’ bersama-sama, dan semua orang hafal liriknya, benar-benar terasa sangat istimewa,”
ujar Kane.
Country Roads Pembakar Semangat
Fenomena serupa juga muncul di kubu Amerika Serikat. Lagu “Take Me Home, Country Roads” milik John Denver kini menjadi favorit baru para pendukung AS dan mulai menggantikan chant sederhana “USA! USA!” yang selama ini identik dengan mereka.
Namun, Andrew Lawn menilai budaya suporter sepak bola Amerika masih dalam tahap berkembang karena olahraga tersebut belum memiliki akar tradisi sekuat di Eropa maupun Amerika Selatan.
“Budaya sepak bola Amerika saat ini memang masih terasa agak dipaksakan karena olahraga ini relatif masih baru di sana,”
ucap Lawn.
Meski demikian, ia percaya waktu akan menentukan apakah lagu tersebut benar-benar menjadi tradisi baru.
“Kalau lagu itu terus bertahan, maka itu akan menjadi contoh yang indah. Jika 30 tahun lagi orang-orang masih menyanyikannya, barulah akan muncul perasaan bahwa tradisi itu benar-benar otentik,”
kata Lawn.
Keberadaan musik di Piala Dunia kini bukan lagi sekadar hiburan di sela pertandingan. FIFA menjadikannya bagian dari pengalaman menonton yang mampu memperkuat identitas setiap negara sekaligus menciptakan momen emosional yang akan dikenang para suporter.
Tak heran jika lagu-lagu tersebut terus menggema dan menjadi soundtrack yang melekat dalam perjalanan Piala Dunia 2026—maupun pada edisi-edisi berikutnya.

























