Apakah kamu pernah merasa punya banyak mimpi, target, bahkan sudah membayangkan seperti apa karier yang ingin kamu raih di masa depan? Tapi ujung-ujungnya kamu malah menghabiskan waktumu hanya untuk scroll media sosial.
Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami fenomena yang disebut lazy but ambitious. Istilah ini dibahas oleh YouTuber sekaligus entrepreneur Felicia Putri Tjiasaka dalam podcast Bos Mama.
Menurut Felicia, kondisi ini banyak dialami Gen Z yang sebenarnya memiliki ambisi besar, tetapi kesulitan mengambil langkah pertama.
Lazy but ambitious adalah keadaan ketika kita punya mimpi besar, tapi sulit mengambil tindakan,”
ujar Felicia dalam videonya.
Kalau dilihat sekilas, mungkin kamu berpikir kondisi ini terjadi karena seseorang memang malas. Padahal, menurut Felicia akar masalahnya bukan karena kurang niat, melainkan karena sikap perfeksionis yang ia punya.
Biasanya sejak awal seseorang ingin semuanya berjalan sempurna. Akibatnya, ia justru terus menunda karena takut hasilnya tidak sesuai harapan.
Misalnya, kamu sudah memiliki daftar target, ide konten, atau rencana karier yang jelas. Semua langkahnya bahkan sudah dipikirkan dengan matang. Namun, semua itu hanya berhenti di note tanpa pernah benar-benar kamu eksekusi.
Kondisi inilah yang sebenarnya merupakan bentuk prokrastinasi, yaitu kebiasaan menunda pekerjaan dengan berbagai alasan yang terdengar masuk akal.
Kenapa Otak Lebih Suka Merencanakan daripada Bertindak?
Memang berdasarkan beberapa studi, secara biologis otak manusia memang cenderung memilih hal-hal yang terasa aman dan nyaman.
Karena itu, kegiatan seperti mencari inspirasi, membuat to-do list, menyusun target, atau menonton video motivasi sering kali terasa lebih menyenangkan.
Sebaliknya, saat kamu harus benar-benar mulai bekerja, rasa takut gagal, takut dinilai orang lain, atau khawatir hasilnya tidak sesuai ekspektasi justru mulai muncul.
Akibatnya, kamu terus berada di fase persiapan tanpa pernah benar-benar bergerak.
Di sisi lain, banyak orang juga terbiasa menunggu datangnya motivasi sebelum mulai bekerja. Padahal, menurut Felicia cara pandang seperti ini justru keliru.
Ia menjelaskan bahwa motivasi bukan sesuatu yang datang lebih dulu, melainkan muncul setelah seseorang mulai bertindak.
Motivasi itu bukan sesuatu yang kita tunggu, tapi efek samping dari kita mulai melakukan sesuatu,”
jelasnya.
Menurutnya, perasaan berat memang sering muncul saat akan mulai membaca buku, mengerjakan tugas, atau membuat konten. Namun, setelah lima hingga sepuluh menit berjalan, pekerjaan biasanya terasa jauh lebih ringan dan mengalir.
Anggap Hidup sebagai Eksperimen
Untuk mengatasi kebiasaan menunda, Felicia menyarankan agar tidak menganggap setiap percobaan sebagai penentu masa depan. Sebaliknya, ia mengajak melihat setiap langkah sebagai sebuah eksperimen.
Misalnya, seseorang ingin menjadi content creator. Daripada mengunggah beberapa video lalu langsung menyerah karena jumlah like, viewers, dan komentarnya sedikit, lebih baik terus mencoba sambil mengevaluasi hasilnya.
Dari setiap percobaan inilah, seseorang bisa melihat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki, mulai dari ide, cara penyampaian, hingga format kontennya.
Menurut Felicia, semakin banyak data yang dikumpulkan dari proses mencoba, semakin besar pula peluang menemukan cara yang tepat.
Gunakan External Pressure
Selain itu, Felicia juga membagikan cara lain yang menurutnya cukup efektif, yakni menciptakan external pressure atau dorongan dari luar.
Contohnya, membuat janji dengan teman untuk datang ke kelas melukis, menentukan tenggat waktu bersama rekan kerja, atau menjadwalkan kegiatan yang melibatkan orang lain. Dengan begitu, kamu akan punya komitmen yang membuatnya lebih sulit membatalkan rencana.
Felicia mengaku cara tersebut juga membantunya tetap konsisten membuat podcast dan menyelesaikan berbagai pekerjaan, meski pada awalnya selalu merasa berat untuk memulai.
Fenomena lazy but ambitious memang jadi gambaran Gen Z masa kini. Di era media sosial, anak muda bisa dengan mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari.
Namun, di saat yang sama mereka juga rentan terjebak membandingkan diri, overthinking, hingga takut gagal bahkan sebelum mencoba.
Padahal, Felicia menilai langkah kecil yang dilakukan hari ini jauh lebih berharga daripada rencana yang terlihat sempurna tetapi tidak pernah diwujudkan.
Posting aja dulu. Belum tentu langsung sukses, tapi setidaknya kamu mendapatkan data untuk belajar,”
ujarnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa memiliki mimpi besar saja tidak cukup. Kemajuan justru dimulai ketika seseorang berani mengambil langkah pertama, meski hasilnya belum sempurna.




















