Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 22 Jul 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • Piala Dunia 2026
  • prabowo
  • MBG
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Hype / Di Balik Harga Murah Fast Fashion, Ada Ancaman Besar bagi Lingkungan
Hype

Di Balik Harga Murah Fast Fashion, Ada Ancaman Besar bagi Lingkungan

Ossid Duha Jussas SalmaHardani Triyoga
Last updated: Juli 22, 2026 1:30 am
By
Ossid Duha Jussas Salma
ByOssid Duha Jussas Salma
Follow:
Hardani Triyoga
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Follow:
3 jam lalu
Share
Ilustrasi limbah tekstil akibat fast fashion (unsplash engin akyurt)
Ilustrasi limbah tekstil akibat fast fashion (Foto: unsplash engin akyurt)
SHARE

Pakaian murah dengan model yang selalu mengikuti tren membuat produk fast fashion semakin diminati. Koleksi yang terus berganti serta harga yang terjangkau mendorong banyak orang membeli pakaian baru lebih sering.

Namun, di balik kemudahan tersebut, industri fast fashion menyimpan dampak lingkungan yang tidak kecil. Mulai dari meningkatnya limbah tekstil, tingginya emisi karbon, hingga pencemaran mikroplastik menjadi persoalan yang kini mendapat perhatian di berbagai negara.

Salah satu tantangan terbesar dari industri fast fashion adalah meningkatnya jumlah limbah tekstil. Banyak pakaian diproduksi untuk mengikuti tren sesaat sehingga umur pemakaiannya relatif singkat sebelum akhirnya dibuang.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan, limbah tekstil di Indonesia diproyeksikan mencapai 3,5 juta ton pada 2030 apabila tidak diimbangi pengelolaan yang lebih baik.

Baca juga:
Jangan Ketipu Label Eco-Friendly, Go Greeners: Kantong Kertas Tak Selalu… Buat kamu yang merasa udah sah jadi agen go green karena modal…
Raja Sawit Ompong Regulasi: Nihil Aturan Khusus, Indonesia Kalah Sat-set… Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mendorong pemerintah dan parlemen segera…
Bukan Karena Gas Langka! Bahlil Bongkar Alasan Harga LNG Industri… Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan alasan pemerintah…
  • Jangan Ketipu Label Eco-Friendly, Go Greeners: Kantong Kertas Tak Selalu Ramah Lingkungan
  • Raja Sawit Ompong Regulasi: Nihil Aturan Khusus, Indonesia Kalah Sat-set dari Malaysia
  • Bukan Karena Gas Langka! Bahlil Bongkar Alasan Harga LNG Industri Diskon Jadi…

Masalah serupa juga terjadi secara global. Ellen MacArthur Foundation (2017) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar limbah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar.

Selain volume limbah yang besar, banyak produk fast fashion menggunakan serat sintetis seperti polyester yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai secara alami.

Dampak Fast Fashion terhadap Lingkungan

Berikut sejumlah dampak lingkungan yang ditimbulkan industri fast fashion, sebagaimana dirangkum dari Earth Island Journal, Rabu, 22 Juli 2026.

  1. Meningkatkan Timbunan Limbah Tekstil

Produksi pakaian dalam jumlah besar dengan harga murah membuat masyarakat cenderung lebih cepat mengganti pakaian. Akibatnya, limbah tekstil terus bertambah setiap tahun.

  1. Produk Baru yang Tak Terjual Berpotensi Menjadi Limbah

Dalam beberapa kasus, produk yang tidak terjual dilaporkan dimusnahkan atau dibuang untuk mengurangi biaya penyimpanan maupun menjaga eksklusivitas merek. Praktik ini turut menambah jumlah limbah tekstil.

Mengenal Capsule Wardrobe, Gaya Berpakaian Simpel yang Kian Populer
  1. Menyumbang Emisi Gas Rumah Kaca

Mulai dari proses produksi bahan baku, manufaktur, hingga distribusi membutuhkan energi dalam jumlah besar. Industri fesyen diperkirakan menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca global, sehingga menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Baca juga:
'Diserempet' Mobil China, Volkswagen Cetak Rekor Bakal PHK 100 Ribu… Produsen mobil terbesar di Jerman, Volkswagen alias VW, berencana memutus hubungan kerja…
Kuota Produksi Nikel 2026: Ogah Gegabah, Kementerian ESDM Pilih Rem… Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum memutuskan final besaran total…
Siap-Siap Saldo Rekening Bengkak, MDKA Bagi Dividen Rp300 Miliar PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memperoleh persetujuan pemegang saham untuk membagikan…
  • 'Diserempet' Mobil China, Volkswagen Cetak Rekor Bakal PHK 100 Ribu Karyawan
  • Kuota Produksi Nikel 2026: Ogah Gegabah, Kementerian ESDM Pilih Rem Revisi RKAB
  • Siap-Siap Saldo Rekening Bengkak, MDKA Bagi Dividen Rp300 Miliar
  1. Menguras Air dan Berpotensi Mencemari Perairan

Produksi tekstil membutuhkan air dalam jumlah besar, termasuk pada proses pencelupan dan pewarnaan kain. Jika limbah produksi tidak diolah dengan baik, pencemaran sungai dan sumber air dapat terjadi.

  1. Menambah Mikroplastik di Laut

Serat sintetis seperti polyester dan akrilik dapat melepaskan partikel mikroplastik saat dicuci. Partikel tersebut kemudian mengalir ke sungai hingga laut dan berpotensi mengganggu ekosistem perairan.

  1. Mendorong Konsumsi Berlebihan

Perubahan tren yang sangat cepat membuat masyarakat terdorong membeli pakaian baru meski pakaian lama masih layak digunakan. Pola konsumsi ini mempercepat peningkatan limbah tekstil.

Tag:dampak lingkunganEmisi Karbonfast fashionindustrilimbah tekstilLingkungan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Hardani Triyoga
ByHardani Triyoga
Asisten Redaktur
Follow:
Hardani Triyoga adalah jurnalis di OWRITE yang berfokus pada peliputan isu nasional, politik, peristiwa, dan dinamika perkotaan.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Nanik S Deyang Resmi Mundur dari Kepala BGN
By Rahmat Baihaqi
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang (tengah) berjalan saat tiba untuk melakukan audiensi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
1
Sayuti Achmad Siap Maju Jadi Ketua PWI Aceh, Usung Visi Perkuat Profesionalisme Wartawan
By Ani Ratnasari
Sayuti Achmad
2
Usai Mundur, Nanik Klaim Prabowo Bakal Siapkan Kursi Ketua Dewan Pengawas BGN
By Natania Longdong
Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang menyapa wartawan sebelum konferensi pers di Kantor Pusat BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
3
PDIP Kritik Keras Wacana Libatkan Babinsa Urus Pajak: Penyalahgunaan Kekuasaan Negara
By Rika Pangesti
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. Doc: IG SekjenPDIP.
4
Nanik Bocorkan Penggantinya di BGN, Sebut Adik yang Bisa ‘Dijewer’ Jika Menyimpang
By Natania Longdong
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang (tengah) berjalan saat tiba untuk melakukan audiensi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
5

BERITA LAINNYA

Lidah Buaya.
Hype

Jangan Remehkan Lidah Buaya! Ini 7 Manfaatnya untuk Kulit, Gula Darah hingga Pencernaan

Lidah buaya (Aloe vera) telah lama dikenal sebagai tanaman herbal yang dimanfaatkan…

Ossid Duha Jussas SalmaHardani Triyoga
By
Ossid Duha Jussas Salma
Hardani Triyoga
12 jam lalu
Tropi Piala Dunia
Hype

Hadiah Juara Piala Dunia 2026 untuk Spanyol Rp897 Miliar, Netizen: Kalah dari Anggaran Kipas Angin Kopdes

Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Argentina dengan skor…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan Syahruna Lubis
19 jam lalu
Rektor Universitas Mercu Buana Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng.
Hype

Mercu Buana Jadi Tuan Rumah Seleksi Fotografi dan Komik Strip PEKSIMIDA DKI 2026

Universitas Mercu Buana (UMB) menjadi salah satu perguruan tinggi yang dipercaya menjadi…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
20 jam lalu
Ilustrasi kegiatan yang menantang adrenalin
Hype

Mengenal Adrenalin Rush, Reaksi Tubuh Saat Menghadapi Situasi Berbahaya

Pernahkah Anda merasakan jantung berdebar kencang, napas menjadi lebih cepat, dan tubuh…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
20 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up