Keputusan Nanik S Deyang yang memilih mundur dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) cukup mengejutkan banyak pihak. Pasalnya Nanik baru menjabat selama 44 hari sejak dilantik pada 8 Juni 2026.
Bukan karena masalah kebijakan, mundurnya Nanik dari kursi kepemimpinan disinyalir karena kondisi kesehatannya yang disebut sudah tidak memungkinkan lagi untuk lanjut bekerja.
Nanik bilang dirinya didiagnosis terkena penyakit jantung koroner dan ingin menjalani pengobatan di luar negeri.
Sebelum mundur, ia mengaku sempat mengalami tekanan mental yang berat selama memimpin BGN, apalagi karena harus mengelola anggaran negara dalam jumlah besar.
Trauma Setiap Kali Harus Menandatangani Dokumen
Ia bahkan bercerita susah tidur, trauma setiap kali harus menandatangani dokumen, sampai merasa “panas dingin” karena takut salah langkah.
Cerita itu pun bikin banyak orang bertanya, benarkah stres yang terus-menerus bisa bikin kolesterol naik sampai akhirnya memicu penyakit jantung?
Melansir dari WebMD dalam artikel berjudul Is Stress Linked to High Cholesterol?, jawabannya adalah iya. Stres yang berlangsung lama memang bisa meningkatkan risiko kolesterol tinggi sekaligus penyakit jantung.
Hal ini terjadi karena saat stres, tubuh akan secara otomatis melepaskan hormon yang bernama adrenalin dan kortisol. Dalam kondisi tertentu hormon ini ternyata sangat berguna buat tubuh.
Tapi kalau stresnya datang terus-terusan tanpa jeda, otomatis kadar kortisol juga akan tetap tinggi. Nah, kondisi inilah yang dapat mempengaruhi proses metabolisme lemak dalam tubuh, karena ada beban tambahan di sistem kardiovaskular tubuh.
WebMD menjelaskan kalau kadar kortisol yang tinggi akibat stres kronis dapat membuat kolesterol LDL atau kolesterol “jahat” meningkat. Padahal yang kita tahu kalau LDL itu nggak baik buat tubuh.
Karena LDL meningkat, lama-kelamaan LDL akan menumpuk di dinding pembuluh darah, membentuk plak yang menyebabkan arteri kita menyempit dan mengeras, atau bisa disebut dengan aterosklerosis.
Karena seseorang mengalami stres yang berlebihan, itu membuat tubuh mengalami peradangan yang membuat kadar HDL atau kolesterol “baik” turun.
Padahal, HDL punya tugas untuk membawa kelebihan kolesterol dari pembuluh darah kembali ke hati, yang kemudian akan dibuang lewat feses.
Nah, karena LDL dan HDL tidak seimbang dan lebih banyak LDL, maka risiko penyakit jantung koroner pun akan meningkat.
Ini bisa terjadi karena ada plak yang menyempitkan jalur pembuluh darah yang menuju ke jantung, karena jalurnya menyempit otomatis aliran darah akan terganggu, dan inilah yang membuat risiko nyeri dada sampai potensi serangan jantung ikut meningkat.
Hubungan antara stres dan kolesterol ini juga didukung oleh sejumlah penelitian. Salah satunya, penelitian dari ICARIA Study Group terhadap lebih dari 91.500 pekerja di Spanyol dari berbagai profesi.
Stres Kerja Berkaitan dengan Kadar LDL
Penelitian tersebut menemukan bahwa stres kerja berkaitan dengan kadar LDL yang lebih tinggi, HDL yang lebih rendah, dan meningkatnya penggunaan obat penurun kolesterol.
Selain lewat perubahan hormon, stres juga sering bikin gaya hidup ikut berantakan. Banyak orang jadi lebih sering makan fast food, makanan tinggi gula dan lemak, merokok, minum alkohol, atau malah malas bergerak saat sedang tertekan.
Dan kebiasaan-kebiasaan ini tentu makin memperbesar risiko kolesterol tinggi dan penyakit jantung.
Menurut American Heart Association (AHA), stres memang bukan penyebab langsung penyakit jantung. Tapi, stres kronis bisa memicu berbagai faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, pola makan yang buruk, kurang tidur, sampai kebiasaan merokok yang akhirnya meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
Karena itu, menjaga kesehatan jantung bukan cuma soal mengontrol kolesterol, tapi juga soal mengelola stres.
Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain rutin olahraga, makan makanan bergizi seimbang, tidur cukup, meditasi atau mindfulness, dan tetap menjaga hubungan sosial yang sehat.
Kalau stres sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bikin susah tidur terus-menerus, atau disertai keluhan fisik seperti nyeri dada, jantung berdebar, atau sesak napas, sebaiknya segera periksa ke dokter supaya penyebabnya bisa diketahui dan ditangani lebih cepat.




















