Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bukanlah debu biasa, karena abu vulkanik mengandung silika yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi penderita asma maupun bronkitis.
Epidemiolog Griffith University Australia dr. Dicky Budiman mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan paparan abu vulkanik yang saat ini terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.
Menurut Dicky, salah satu kandungan yang perlu diperhatikan dalam abu vulkanik adalah silika. Abu ini, punya partikel yang bersifat abrasif sehingga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan.
Dan sekali lagi, imbauan ini dilakukan karena dampak dari debu vulkanik ini, khususnya silika ini, bisa mengganggu kesehatan,”
ujar Dicky.
Abu Vulkanik Mengganggu Pernapasan
Ketika terhirup, abu vulkanik dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan. Paparan dalam jumlah tinggi juga dapat menyebabkan pilek, batuk kering, hingga rasa tidak nyaman di dada seperti sesak atau nyeri.
Gangguan tersebut tidak hanya dapat dialami orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan. Orang sehat pun bisa mengalami keluhan ketika terpapar abu vulkanik dalam konsentrasi tinggi.
Bagi penderita asma atau bronkitis kronis, risikonya bisa lebih besar. Paparan abu dapat memperburuk gejala berupa batuk, mengi atau wheezing, serta sesak napas yang dapat bertahan selama beberapa hari setelah paparan.
Dicky juga mengingatkan bahwa abu vulkanik segar dapat memiliki lapisan asam yang semakin menambah efek iritasi pada mata dan paru-paru sebelum tersapu hujan.
Dampak Abu Vulkanik
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama ketika terpapar abu vulkanik.
Dicky menyebut ada beberapa kelompok rentan yang berisiko mengalami gejala berat akibat abu ini, antara lain anak usia di bawah lima tahun, lansia, serta penderita gangguan pernapasan.
Kelompok ini sebaiknya menghindari aktivitas berat ketika konsentrasi abu vulkanik di udara sedang tinggi.
Pasalnya, aktivitas berat membuat seseorang bernapas lebih cepat. Akibatnya, lebih banyak partikel abu dapat terhirup dan masuk lebih dalam ke paru-paru.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak sebaiknya tidak memaksakan diri melakukan olahraga atau aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika udara masih dipenuhi abu.
Mencegah Paparan Abu Vulkanik
Dicky mengimbau masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik dengan melakukan sejumlah langkah sederhana, seperti:
- Tutup pintu dan jendela rapat-rapat agar abu dari luar tidak mudah masuk ke dalam rumah.
- Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika abu vulkanik masih terlihat atau konsentrasinya tinggi.
- Gunakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
- Pakaian yang sudah terkena abu sebaiknya tidak dikibas-kibaskan di dalam rumah.
- Hindari pula menjemur pakaian di luar ruangan ketika abu vulkanik masih banyak atau terdeteksi di sekitar tempat tinggal.
- Untuk melindungi mata, gunakan kacamata pelindung atau goggles, terutama bagi orang yang harus bekerja di luar ruangan.
Dicky juga mengingatkan agar makanan selalu ditutup rapat, termasuk makanan yang berada di dalam ruangan. Penutup makanan sebaiknya baru dibuka ketika makanan hendak dikonsumsi.
Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh setelah terpapar abu vulkanik. Jika muncul sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pada mata, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Abu vulkanik memang terlihat seperti debu biasa, tetapi kandungan dan karakter partikelnya membuat paparan tidak boleh disepelekan.
Dengan membatasi aktivitas di luar, menggunakan perlindungan yang tepat, dan memberi perhatian lebih kepada kelompok rentan, risiko gangguan kesehatan akibat abu vulkanik dapat dikurangi.



















