Hari Anak Nasional (HAN) menjadi momentum untuk mengingat pentingnya memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dan berkembang secara optimal.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, penggunaan gadget pada anak usia dini semakin meningkat dan perlu mendapat perhatian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Profil Anak Usia Dini 2022 menunjukkan bahwa 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler (HP)/gadget, sementara 24,96% di antaranya telah mengakses internet.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perangkat digital kini semakin akrab dengan kehidupan anak-anak. Meski gadget dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar dan hiburan, penggunaannya yang berlebihan berisiko mengganggu tumbuh kembang anak.
Waktu Ideal Penggunaan Gadget
Melansir dari laman Halodoc (12 Agustus 2019), penelitian yang dipublikasikan dalam Humanistic Network for Science and Technology (2018) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan gadget dengan gangguan kesehatan mata.
Untuk membantu mengurangi keluhan tersebut, American Academy of Ophthalmology (AAO) merekomendasikan penerapan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.
Sebaliknya, apabila anak tetap menggunakan gadget dalam waktu yang lama tanpa istirahat, keluhan seperti mata lelah, mata kering, penglihatan kabur, hingga sakit kepala dapat semakin sering muncul dan berpotensi memengaruhi kesehatan mata dalam jangka panjang.
Dampak Kecanduan Gadget pada Anak
Kecanduan gadget dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak, antara lain:
- Gangguan kesehatan fisik, seperti mata lelah, gangguan tidur, sakit kepala, obesitas, dan masalah postur tubuh akibat terlalu lama menatap layar.
- Gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, stres, perubahan suasana hati, hingga meningkatnya risiko depresi.
- Menurunnya kemampuan bersosialisasi, karena anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dibandingkan berinteraksi dengan keluarga atau teman sebaya.
- Penurunan prestasi akademik, seperti sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, berkurangnya motivasi belajar, dan menurunnya hasil belajar.
- Gangguan perhatian dan hiperaktivitas, berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam Journal of Abnormal Psychology, anak dengan durasi penggunaan gadget yang lebih tinggi cenderung memiliki masalah perhatian dan gejala hiperaktivitas yang lebih besar.
Berbagai dampak tersebut menunjukkan bahwa penggunaan gadget pada anak perlu diawasi dan dibatasi agar tidak mengganggu kesehatan maupun tumbuh kembangnya.
Tips Mengurangi Dampak Penggunaan Gadget
Untuk mengurangi dampak paparan cahaya dari layar gadget, langkah sederhana yang dapat dilakukan bagi orang tua adalah mengurangi tingkat kecerahan layar agar mata tidak bekerja terlalu keras saat melihat layar dalam waktu lama.
Selain itu, biasakan anak untuk sering berkedip saat menggunakan gadget. Menatap layar terlalu lama dapat membuat frekuensi berkedip berkurang secara alami sehingga mata menjadi lebih kering. Berkedip membantu menjaga kelembapan mata.
Pengaturan tampilan layar juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan mata. Misalnya, menggunakan latar belakang atau mode berwarna abu-abu maupun mode gelap (dark mode) pada kondisi tertentu dapat membuat mata terasa lebih nyaman.
Di era digital, gadget memang dapat menjadi sarana belajar dan hiburan yang bermanfaat, tetapi penggunaannya tetap memerlukan batasan dan pendampingan dari orang tua. Dengan begitu, anak dapat memanfaatkan teknologi secara sehat tanpa mengorbankan kesehatan, perkembangan, dan masa depannya.




















