Harga minyak terus merosot pada perdagangan Jumat. Kondisi ini sejalan dengan para investor mencermati usulan Arab Saudi untuk memimpin koalisi pertahanan maritim multinasional yang bertujuan memperkuat keamanan di jalur pelayaran utama di Laut Merah.
Arab Saudi berupaya memimpin koalisi untuk meningkatkan kerja sama pertahanan di Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa 14 negara, termasuk Turki, Pakistan, Mesir, Sudan, dan Djibouti sudah mengeluarkan pernyataan bersama yang mendukung pembentukan aliansi keamanan maritim tersebut.
Dilansir dari Economic Times, pada Jumat, 31 Juli 2026, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$88 per barel turun 1,16 persen atau US$1,03 per barel.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun lebih dari 2 persen menjadi US$81,70 per barel. Pada sesi sebelumnya, minyak mentah Brent ditutup turun US$1,71 atau 1,88 persen di level US$89,03 per barel, meskipun harga berfluktuasi tajam selama sesi tersebut.
Harga Sempat Naik


Minyak acuan tersebut sempat melonjak ke level tertinggi intraday di US$93,31 per barel, setelah Washington dan Teheran kembali saling melancarkan serangan terhadap sasaran militer masing-masing. Sementara itu, kontrak berjangka WTI AS turun 87 sen atau 1,03 persen dan ditutup di US$83,59 per barel, setelah sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$85,94 per barel.
Adapun perkembangan terbaru ini terjadi setelah militan Houthi yang didukung Iran di Yaman mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pekan lalu. Langkah itu mengancam aktivitas pelayaran di Laut Merah, yang merupakan jalur penting bagi ekspor minyak Arab Saudi sekaligus alternatif dari Selat Hormuz yang telah terblokade.
Iran Tolak Usul Oman


Sementara itu, Iran dan Oman melanjutkan pembahasan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, menurut kantor berita Iranian Labour News Agency. Namun pada Rabu, seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran telah menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama jalur strategis tersebut oleh negara-negara kawasan.
Di perkembangan lain, Mesir pada Kamis mengonfirmasi bahwa serangan drone menjadi penyebab kebakaran di dua kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Laut Mediterania. Pemerintah Mesir menepis kemungkinan bahwa kebakaran tersebut terjadi akibat kecelakaan.
Konfirmasi itu menyusul penilaian sebelumnya dari perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, yang menyatakan pada Rabu bahwa sebuah drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas milik perusahaan AS yang sedang bersandar di pelabuhan tersebut. Insiden ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas.























