Indonesia seringkali punya hal-hal yang dianggap biasa. Suara telolet bus, jalanan yang ramai, angkot warna-warni, sampai suasana kota yang penuh hiruk-pikuk.
Karena terlalu sering melihatnya setiap hari, kita jadi lupa kalau semua itu sebenarnya punya ciri khas yang nggak dimiliki negara lain.
Hal itulah yang berhasil diangkat oleh No Na lewat comeback mereka dengan single terbaru berjudul “honk!”.
Sekilas, honk! memang terlihat seperti music video pop yang ceria dan penuh warna. Tapi kalau diperhatikan lebih dekat, visualnya dipenuhi elemen-elemen yang terasa sangat Indonesia.
Bukan cuma jadi latar, tetapi benar-benar dijadikan identitas yang membuat video ini punya karakter sendiri.
Salah satu yang paling mencuri perhatian tentu adalah kemunculan fenomena “Om Telolet Om.” Buat orang Indonesia, suara klakson bus mungkin terdengar biasa saja. Tapi beberapa tahun lalu, fenomena ini bahkan sempat viral hingga dikenal di berbagai negara.
No Na pun mengangkatnya kembali sebagai simbol budaya pop Indonesia yang unik dan penuh nostalgia.
Bukan cuma itu, suasana jalanan yang sibuk, kendaraan umum, hingga warna-warni khas kota juga ikut memperkuat nuansa lokal dalam video tersebut.
Semuanya terasa akrab, tetapi dikemas dengan visual modern yang membuat Indonesia terlihat fresh dan estetik.
Inilah yang membuat honk! terasa berbeda. No Na nggak berusaha menyembunyikan identitas Indonesia demi terlihat internasional. Justru sebaliknya, mereka menjadikan unsur-unsur lokal sebagai kekuatan utama.
Belakangan ini memang semakin banyak musisi Indonesia yang berani membawa identitas budaya ke dalam karya mereka.
Bukan lagi sekadar memakai batik atau menampilkan pemandangan alam, tetapi juga mengangkat kehidupan sehari-hari yang selama ini mungkin dianggap terlalu biasa untuk dijadikan karya.
Padahal, justru hal-hal sederhana itulah yang paling mudah dikenali dan diingat.
Banyak negara berhasil membangun identitas budaya pop lewat keseharian mereka. Jepang dikenal lewat kereta dan vending machine, Korea Selatan dengan gang-gang kotanya serta minimarket, sementara Indonesia punya cerita sendiri lewat jalanan yang hidup, transportasi umum, hingga fenomena seperti telolet.
Lewat honk!, No Na seolah mengingatkan bahwa identitas nggak selalu harus tampil megah. Kadang, hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari justru bisa menjadi sesuatu yang paling ikonik ketika dikemas dengan cara yang kreatif.
Comeback ini juga menjadi bukti bahwa karya yang berkelas nggak harus meninggalkan akar budayanya. Sebaliknya, semakin kuat identitas yang dibawa, semakin mudah sebuah karya dikenali di tengah banyaknya rilisan musik global.
Pada akhirnya, honk! bukan cuma menjadi penanda kembalinya No Na ke industri musik, tetapi juga menjadi perayaan kecil terhadap Indonesia. Tentang suara yang sering kita dengar, jalanan yang setiap hari kita lewati, dan hal-hal sederhana yang ternyata bisa terlihat begitu keren ketika dipandang dari sudut yang berbeda.
Mungkin selama ini kita terlalu terbiasa hidup di tengah semua itu, sampai lupa kalau Indonesia memang punya pesonanya sendiri. Dan lewat honk!, No Na berhasil mengingatkan kita bahwa hal-hal yang terasa “Indonesia banget” justru layak dirayakan.
Jangan lupa share artikel ini ke temanmu yang juga dibuat kagum sama visual honk! dari No Na. Siapa tahu setelah ini mereka jadi makin bangga sama hal-hal kecil yang ada di Indonesia. Dan pastinya, follow Instagram @sefruitmedia buat informasi seputar musik, pop culture, dan tren yang dikemas dengan seru dan relate buat Gen Z!










