Bagi sebagian masyarakat Jawa, sebelum melaksanakan pernikahan biasanya ada tradisi yang masih sering dilakukan, yaitu menghitung weton jodoh.
Bukan untuk memastikan masa depan rumah tangga, masyarakat Jawa biasa menyebut tradisi ini sebagai bentuk ikhtiar sekaligus menghormati warisan budaya yang sudah ada sejak lama.
Praktisi kejawen, Dewi Sundari, dalam kanal YouTube menjelaskan bahwa perhitungan weton merupakan bagian dari ilmu titen, yaitu pengetahuan yang lahir dari pengamatan dan pengalaman masyarakat secara turun-temurun.
Artinya, hasil perhitungan weton sebaiknya dijadikan sebagai pengetahuan budaya, bukan penentu mutlak apakah sebuah hubungan akan langgeng atau tidak.
Apa Itu Weton?
Weton merupakan gabungan antara hari lahir dan pasaran Jawa. Masing-masing memiliki nilai yang disebut neptu. Nilai inilah yang nantinya dijumlahkan untuk menghitung kecocokan pasangan.
Nilai neptu hari:
- Minggu: 5
- Senin: 4
- Selasa: 3
- Rabu: 7
- Kamis: 8
- Jumat: 6
- Sabtu: 9
Nilai neptu pasaran:
- Legi: 5
- Pahing: 9
- Pon: 7
- Wage: 4
- Kliwon: 8
Menghitung Weton Jodoh
Cara menghitungnya sebenarnya cukup mudah, mengutip dari kitab Primbon Betaljemur Adammakna karya Kanjeng Pangeran Harya Cakraningrat, tepatnya pada pembahasan tentang perhitungan untuk pernikahan. Berikut cara menghitung weton jodoh:
- Hitung neptu masing-masing pasangan dengan menjumlahkan nilai hari dan pasaran-nya.
- Jumlahkan total neptu laki-laki dan perempuan.
- Bagi hasilnya dengan angka 7.
- Lihat angka sisanya. Nah, sisa pembagian itulah yang menjadi hasil weton jodoh menurut Primbon Jawa.
Contoh perhitungan:
- Misalnya, laki-laki lahir Rabu Pon.
- Rabu = 7
- Pon = 7
- Total neptu-nya menjadi 14.
Sementara perempuan lahir Jumat Pahing.
- Jumat = 6
- Pahing = 9
- Total neptu-nya 15.
- Kemudian jumlahkan keduanya: $14 + 15 = 29$.
- Lalu bagi dengan 7: $29 \div 7 = 4$ sisa 1.
Artinya, hasil perhitungan weton pasangan tersebut adalah angka 1.
Perhitungan Weton Jodoh
Berikut arti hasil perhitungan weton jodoh menurut kitab Primbon Betaljemur Adammakna yang dijelaskan Dewi Sundari:
- Sisa 1 – Wasesa Segara
Dipercaya memiliki sifat bijaksana, berwibawa, lapang dada, dan mudah memaafkan. Hasil ini termasuk yang dianggap baik.
- Sisa 2 – Tunggak Semi
Melambangkan pasangan yang memiliki rezeki lancar dan kehidupan yang terus berkembang.
- Sisa 3 – Satria Wibawa
Diartikan sebagai pasangan yang akan memperoleh kemuliaan dan kehormatan.
- Sisa 4 – Sumur Sinaba
Melambangkan sosok yang bijaksana, menjadi tempat bertanya, serta cocok menjadi pemimpin. Hasil ini juga termasuk kategori baik.
- Sisa 5 – Satria Wirang
Dalam Primbon Jawa, hasil ini dikaitkan dengan berbagai cobaan atau kesedihan dalam kehidupan rumah tangga.
- Sisa 6 – Bumi Kepetak
Diartikan sebagai pasangan yang mungkin menghadapi banyak tantangan, tetapi dikenal rajin bekerja dan tahan menghadapi kesulitan.
- Habis dibagi 7 (tanpa sisa) – Lebu Ketiup Angin
Dalam Primbon Jawa, hasil ini dikaitkan dengan keinginan yang sulit tercapai serta kehidupan yang penuh ujian.
Dewi Sundari kembali mengingatkan bahwa perhitungan weton hanyalah bagian dari tradisi dan ilmu titen. Karena itu, hasilnya tidak perlu dijadikan patokan mutlak dalam menentukan jodoh.
Pada akhirnya, hubungan yang langgeng tetap dibangun lewat komunikasi yang baik, saling menghargai, saling percaya, dan komitmen dari kedua pasangan.
Weton bisa menjadi bagian dari warisan budaya yang menarik untuk dipelajari, tetapi bukan penentu masa depan seseorang.




















