Siapa yang pernah senyum-senyum sendiri cuma karena dapat notifikasi dari gebetan? Atau langsung semangat menjalani hari setelah dikabari doi?
Kalau pernah, tenang aja, perasaan ini valid kok. Hal yang wajar jika ada perasaan excited di awal hubungan. Rasanya semua hal jadi menyenangkan, mulai dari nunggu balasan chat sampai menghitung hari buat ketemu lagi.
Tapi, apakah rasa berbunga-bunga itu sudah cukup untuk membuat hubungan bisa bertahan lama? Menurut psikolog sekaligus peneliti hubungan romantis Joanne Davila, jawabannya adalah belum tentu.
Melalui kanal YouTube TEDx Talks, Davila menjelaskan bahwa hubungan yang sehat bukan hanya dibangun dari rasa cinta atau chemistry aja.
Karena ada keterampilan khusus yang harus dipelajari sejak awal, agar hubungan bisa berjalan lebih sehat dan langgeng.
Excited Itu Wajar
Di fase awal hubungan, wajar kalau semuanya terasa menyenangkan. Kamu mungkin jadi lebih sering mengecek ponsel, menunggu balasan chat, atau ingin menghabiskan waktu bersama pasangan.
Namun, menurut Davila, banyak orang terlalu menikmati fase berbunga-bunga sampai lupa untuk membangun fondasi hubungan yang sehat.
Padahal, hubungan yang baik bukan cuma soal bikin bahagia, tetapi juga membuat kedua orang merasa aman, dihargai, didengarkan, dan nyaman menjadi diri sendiri.
Hubungan Awalnya Manis
Sebenarnya banyak orang tahu seperti apa hubungan yang sehat. Masalahnya, tidak semua orang tahu bagaimana cara membangunnya sejak awal.
Sering kali seseorang baru belajar setelah hubungannya bermasalah, misalnya lewat konseling pasangan atau kelas pranikah. Padahal, keterampilan menjalin hubungan seharusnya mulai dipelajari jauh sebelum konflik itu muncul.
Karena itulah Davila bersama timnya mengembangkan konsep romantic competence, yaitu kemampuan untuk membangun dan menjaga hubungan yang sehat sejak awal.
Kunci Hubungan Sehat
1. Insight: Kenali Diri Sendiri Dulu
Insight berarti memahami diri sendiri, mulai dari kebutuhan, keinginan, hingga alasan di balik setiap tindakan.
Misalnya, kamu jadi mudah kesal kepada pasangan. Setelah dipikir-pikir, ternyata penyebabnya bukan karena pasanganmu melakukan kesalahan, melainkan karena kamu sedang stres dengan pekerjaan atau tugas kuliah.
Semakin mengenal diri sendiri, semakin kecil kemungkinan kamu melampiaskan emosi kepada orang yang kamu sayangi.
Insight juga membantu memahami karakter pasangan. Misalnya, pasangan memang sering terlambat karena itu memang kebiasaannya, bukan karena sengaja tidak menghargaimu.
2. Mutuality: Jangan Cuma Mau Dimengerti
Hubungan yang sehat bukan soal siapa yang paling banyak berkorban.
Mutuality berarti menyadari bahwa kebutuhanmu dan kebutuhan pasangan sama-sama penting. Karena itu, jangan takut menyampaikan apa yang kamu inginkan dengan jelas, sekaligus belajar mendengarkan kebutuhan pasangan.
Misalnya kalau kamu sebenarnya ingin hadiah ulang tahun, katakan saja dan jangan berharap pasangan bisa membaca semua isi kepalamu. Komunikasi yang jujur jauh lebih baik daripada memendam harapan lalu kecewa sendiri.
3. Emotion Regulation: Jangan Sedikit-Sedikit Overthinking
Pernah panik karena doi telat balas chat? Padahal kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu kunci hubungan yang sehat.
Daripada langsung berpikir, “Dia pasti sudah bosan sama aku,” cobalah memberi ruang untuk berpikir lebih tenang. Tidak semua hal harus langsung disimpulkan sebagai sesuatu yang buruk.
Kemampuan ini juga membantu seseorang menghadapi konflik, bahkan putus cinta, tanpa kehilangan harga diri atau mengambil keputusan secara impulsif.
Tidak Pernah Bertengkar
Banyak orang mengira pasangan yang cocok adalah pasangan yang tidak pernah berdebat. Padahal, menurut Davila, hal yang penting dalam hubungan adalah bagaimana cara menyelesaikan konflik saat masalah datang.
Hubungan akan mulai terasa toxic kalau sudah muncul kritik, saling merendahkan, permusuhan, kekerasan, atau mengabaikan kebutuhan pasangan.
Sebaliknya, hubungan yang sehat ditandai dengan komunikasi yang terbuka, rasa saling menghargai, saling mendukung, dan membuat keduanya merasa sama-sama berharga.
Jadi, merasa excited saat jatuh cinta bukanlah sesuatu yang salah. Justru itulah salah satu bagian paling menyenangkan dari sebuah hubungan.
Yang perlu diingat, jangan sampai rasa berbunga-bunga membuatmu menutup mata terhadap tanda bahaya, memendam perasaan, atau berharap pasangan selalu bisa menebak isi kepalamu.
Pada akhirnya, hubungan yang langgeng bukan cuma dibangun oleh rasa cinta. Kemampuan mengenal diri sendiri, saling memahami, dan mengelola emosi justru menjadi bekal yang membuat hubungan bisa bertahan lebih lama.




















