Berbagai negara di dunia memiliki tradisi untuk merayakan musim panen sebagai bentuk rasa syukur, termasuk Korea Selatan.
Di negara tersebut, masyarakat mengenal Chuseok, sebuah hari raya yang menjadi salah satu perayaan paling penting setiap tahunnya.
Chuseok tidak hanya menjadi momen berkumpul bersama keluarga, tetapi juga waktu untuk menghormati leluhur, menikmati hasil panen, dan melestarikan berbagai tradisi yang telah diwariskan selama ribuan tahun.
Berikut pengertian Chuseok beserta sejarah dan tradisi yang masih dijalankan hingga sekarang.
Dilansir dari laman National Museum of Asian Art, simak penjelasan berikut tentang tradisi Chusoek
Mengenal Chuseok
Chuseok merupakan hari raya tradisional yang dirayakan setiap tanggal 15 bulan kedelapan dalam kalender lunar atau kalender bulan. Karena bertepatan dengan bulan purnama terbesar di musim gugur, Chuseok juga dikenal sebagai Festival Bulan Purnama (Mid-Autumn Festival) atau sering disebut Korean Thanksgiving.
Tradisi ini juga sekaligus menjadi momen mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen. Tidak hanya dirayakan sebagai hari libur nasional, Chuseok juga menjadi waktu bagi keluarga untuk berkumpul, mengenang leluhur, dan menikmati berbagai hidangan khas yang dibuat dari hasil panen baru.
Sejarah Singkat
Tradisi Chuseok telah berlangsung selama lebih dari 2.000 tahun dan diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Silla. Pada masa itu, sebagian besar masyarakat Korea bekerja sebagai petani sehingga musim panen menjadi waktu yang sangat penting.
Nama lain Chuseok adalah Hangawi, yang berarti “hari besar di pertengahan musim gugur”. Setelah panen selesai, masyarakat berkumpul untuk mengucapkan syukur atas hasil bumi sekaligus menghormati para leluhur yang diyakini telah memberikan berkah bagi keluarga.
Hingga kini, Chuseok tetap menjadi salah satu hari raya terbesar di Korea Selatan bersama Seollal atau Tahun Baru Imlek Korea.
Tradisi yang Dilakukan
- Charye, Upacara Penghormatan Leluhur
Pada pagi hari Chuseok, keluarga melaksanakan charye, yaitu upacara penghormatan kepada leluhur. Mereka menata meja persembahan yang berisi nasi, buah-buahan, minuman, serta berbagai makanan yang dibuat dari hasil panen.
- Mengunjungi dan Membersihkan Makam Leluhur
Setelah upacara selesai, banyak keluarga mengunjungi makam leluhur atau seongmyo. Mereka juga melakukan beolcho, yaitu membersihkan rumput dan area sekitar makam sebagai bentuk bakti kepada anggota keluarga yang telah meninggal.
- Berkumpul Bersama Keluarga
Seperti tradisi mudik di Indonesia, masyarakat Korea juga pulang ke kampung halaman saat Chuseok. Mereka menghabiskan waktu bersama keluarga besar, menikmati hidangan khas, serta mempererat hubungan antargenerasi.
Karena jutaan orang melakukan perjalanan pada waktu yang sama, Chuseok menjadi salah satu periode dengan arus mudik terbesar di Korea Selatan.
Makanan Khas Chuseok
Salah satu makanan yang identik dengan Chuseok adalah songpyeon, yaitu kue beras berbentuk setengah bulan yang dibuat dari tepung beras hasil panen baru. Songpyeon biasanya diisi dengan wijen manis, kacang merah, kacang hijau, atau kastanye, kemudian dikukus di atas daun pinus sehingga menghasilkan aroma yang khas.
Pembuatan songpyeon juga menjadi tradisi keluarga. Pada malam sebelum Chuseok, anggota keluarga berkumpul untuk membuat kue ini bersama-sama.
Selain berkumpul bersama keluarga, masyarakat Korea juga memiliki tradisi memberikan hadiah kepada kerabat, teman, maupun rekan kerja sebagai bentuk rasa terima kasih.
Hadiah yang diberikan umumnya berupa buah premium, daging sapi berkualitas, produk kesehatan, minyak goreng, perlengkapan mandi, hingga makanan tradisional.
Hingga kini, Chuseok tetap menjadi salah satu hari raya paling penting di Korea Selatan. Selain menjadi waktu untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga, perayaan ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Korea terus melestarikan tradisi serta nilai-nilai penghormatan kepada leluhur.




















