Penunjukan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah Presiden Prabowo Subianto untuk mencari pilihan aman di tengah kebutuhan menjaga stabilitas moneter dan kepercayaan pasar.
Ekonom sekaligus Menteri Keuangan dalam Kabinet Bayangan Indonesia, Bhima Yudhistira, menilai posisi strategis di BI harus tetap diisi figur yang memahami kultur dan mekanisme internal bank sentral. Sehingga, keputusan memilih Destry tidak terlepas dari kekhawatiran munculnya gejolak pasar jika posisi Gubernur BI diisi figur dari luar internal bank sentral.
Kalau saya melihatnya begini, Prabowo justru sekarang lebih cari aman dulu. Sementara posisi Thomas Djiwandono kan sudah Deputi Gubernur. Maka sebenarnya, kalaupun mengisi posisi Deputi Gubernur Senior, sebaiknya dari internal Bank Indonesia, bukan Thomas Djiwandono,”
kata Bhima kepada Owrite, Selasa, 11 Agustus 2026.
Meredam Gonjang-Ganjing


Bhima menilai pilihan terhadap Destry dapat dibaca sebagai upaya pemerintah meredam potensi gonjang-ganjing moneter, terutama dari sisi kepercayaan pasar dan likuiditas sektor keuangan.
Namun, Bhima mengingatkan penunjukan gubernur baru tidak otomatis menyelesaikan persoalan yang membayangi BI. Tantangan terbesar justru bagaimana bank sentral menjaga jarak dari kepentingan politik pemerintah.
Ia menilai BI harus mengembalikan kepercayaan publik terhadap independensinya, terlebih setelah masuknya Danantara dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Nah, tapi ini belum selesai karena tugas dari Bank Indonesia secara lembaga adalah harus mengembalikan kepercayaan publik terhadap independensi,”
katanya.
Keberadaan Danantara di KSSK


Bhima bahkan mengingatkan keberadaan Danantara dalam KSSK tetap perlu dicermati, meski lembaga tersebut tidak memiliki hak suara.
Karena percuma ada KSSK yang sekarang masuk Danantara di situ. Meskipun tidak memiliki hak suara, Danantara ini bisa memainkan peran untuk melakukan intervensi pada kebijakan moneter,”
ujarnya.
Karena itu, Bhima meminta BI tidak sekadar menjadi penjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga berani mengambil posisi ketika kebijakan pemerintah dinilai berisiko terhadap sektor moneter.
Nah, di sinilah Bank Indonesia harus tegas untuk berani menolak semua intervensi politik, dan Bank Indonesia berani tegas menolak program-program prioritas Presiden Prabowo yang berisiko terhadap stabilitas sektor moneter,”
tegasnya.
PR Destry Berat


Selain independensi, Bhima menyebut pekerjaan rumah Destry juga mencakup upaya membersihkan kembali citra BI dari berbagai tuduhan yang menyeret institusi tersebut.
Itu dulu, dan membersihkan Bank Indonesia dari tuduhan-tuduhan terkait korupsi dana CSR dan lain-lain,”
katanya.
Menurut Bhima, penunjukan Destry dapat menjadi titik balik bagi BI. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada keberanian Destry mengambil keputusan secara independen, meski di tengah struktur kepemimpinan BI terdapat Thomas Djiwandono. Diketahui, Thomas Djiwandono adalah keponakan dari Presiden RI, Prabowo.
Nah, ini sebenarnya adalah titik balik dan tergantung Destry nantinya. Meskipun ada Thomas Djiwandono, kalau Destry bisa mengambil keputusan yang independen, kepercayaan terhadap Bank Indonesia bisa kembali lagi,”
tegasnya.























