Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago meminta tradisi joget dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI di Istana Negara dihentikan.
Menurut Pangi, pemerintah harus menjaga perasaan rakyat yang masih menghadapi kehilangan lapangan pekerjaan, penurunan daya beli, dan beban biaya hidup yang semakin berat.
Peringatan HUT ke-81 Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Saya menyarankan baiknya ditiadakan joget-joget di istana, karena ini sangat sensitif,”
kata Pangi Syarwi dalam video story yang dikutip Owrite usai diizinkan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Pangi mengatakan pemerintah dan pejabat negara harus memiliki kepekaan terhadap kondisi ekonomi masyarakat. Kemeriahan peringatan kemerdekaan di istana bisa jadi sensitif ketika banyak rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dia mengingatkan agar pemerintah sebaiknya bisa menjaga perasaan rakyat yang kesulitan karena kehilangan pekerjaan hingga daya beli menurun.
Rakyat hari ini tentu saja banyak yang kehilangan lapangan pekerjaan, daya beli yang menurun, membuat mereka kesulitan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari karena beban biaya hidup yang makin mahal,”
ujar pakar politik yang juga akademisi itu.
Maka itu, Pangi meminta tradisi joget-joget yang sebelumnya dinormalisasi pada era Presiden Joko Widodo tidak kembali dilanjutkan.
Ia menilai pemerintah saat ini tak perlu mempertahankan kebiasaan tersebut dalam peringatan HUT ke-81 RI.
Jadi, saya pikir apa yang dilakukan, normalisasi yang dilakukan Pak Jokowi dulu, joget-joget di istana ini menurut saya nggak perlu dipertahankan. Nggak usah diteruskan,”
ujarnya.
Dikatakan Pangi, pejabat negara, pemerintah, maupun presiden harus menunjukkan wibawa sekaligus kepekaan terhadap kesulitan masyarakat.
Baginya, peringatan hari kemerdekaan seharusnya tidak hanya menampilkan kemeriahan, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap kondisi rakyat.
Karena pejabat atau pemerintah atau presiden harus punya wibawa, punya perasaan, punya kepekaan terhadap kesulitan yang sehari-hari dialami oleh rakyat,”
jelasnya.
Pangi menyarankan agar pemerintah menghentikan tradisi tersebut dan menggantinya dengan peringatan HUT RI yang lebih khidmat.
Ia menyarankan momentum kemerdekaan diisi dengan doa, tayangan perjuangan merebut kemerdekaan, serta kegiatan yang membangkitkan nasionalisme.
Karena itu saya menyarankan, stop, sudahi. Lebih baik lakukan peringatan HUT RI yang ke-81 dengan khidmat, dengan doa, mungkin juga memutar video-video perjuangan di awal-awal kemerdekaan, bagaimana merebut kemerdekaan,”
tuturnya.
Lebih lanjut, Pangi mengatakan nuansa nasionalisme akan lebih kuat jika peringatan HUT RI diisi dengan lagu-lagu kebangsaan dan tayangan sejarah perjuangan bangsa. Konsep itu dinilai lebih berkelas dibandingkan kemeriahan yang ditampilkan melalui joget-joget.
Mungkin itu jauh lebih berkelas tentang nasionalisme kita, lagu-lagu kebangsaan kita, dan seterusnya yang memantik jiwa nasionalisme. Jadi, nggak usah lagi yang prode-prode HUT RI yang sebelumnya, yang joget-joget itu,”
tuturnya.























