Proyek LNG Abadi Masela dinilai dapat menjadi salah satu penopang ketahanan energi nasional seiring dimulainya pembangunan proyek tersebut. Groundbreaking yang digelar pada 16 Juli 2026, menjadi momentum penting setelah pengembangan Blok Masela melalui proses panjang sejak Kontrak Kerja Sama (KKS) pertama kali ditandatangani pada 1998.
Diketahui, produksi gas bruto Lapangan Abadi Masela diproyeksikan mencapai sekitar 1,75 BSCFD. Dengan kapasitas tersebut, proyek ini berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi defisit pasokan gas di sejumlah wilayah, sekaligus mendukung kebutuhan gas untuk sektor industri, kelistrikan, petrokimia, hingga smelter, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Groundbreaking pengembangan Lapangan Abadi Masela menjadi momentum penting bagi ketahanan energi dan perekonomian nasional, terutama karena proyek ini memiliki kapasitas produksi dan cadangan yang signifikan,”
kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Agustus 2026.
34 Persen Produksi Gas Nasional


Total cadangan gas Lapangan Abadi Masela disebut mencapai sekitar 18,54 TSCF atau setara 53,30 persen dari total cadangan terbukti gas nasional pada 2025. Sementara itu, produksi gas dari lapangan tersebut diproyeksikan dapat mencapai sekitar 34 persen dari produksi gas nasional saat ini.
Dari sisi ekonomi, nilai investasi pengembangan Lapangan Abadi Masela yang direncanakan mencapai US$34,75 miliar atau sekitar Rp590 triliun (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS). Berdasarkan kajian ReforMiner, investasi tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional hingga sekitar Rp2.363 triliun.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian ESDM 2023, total biaya pengembangan Lapangan Abadi Masela sepanjang umur proyek diperkirakan mencapai US$34,754 miliar. Angka tersebut terdiri atas investasi di luar sunk cost sebesar US$20,946 miliar, biaya operasi US$12,978 miliar, serta biaya abandonment and site restoration (ASR) US$830 juta.
Nilai tersebut setara sekitar 2,3 kali realisasi investasi hulu migas nasional sepanjang 2025 yang mencapai US$15,42 miliar. Besarnya nilai investasi menunjukkan potensi kontribusi proyek Masela terhadap aktivitas ekonomi nasional, termasuk melalui belanja modal, kegiatan konstruksi, serta tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan di daerah penghasil.
Program Hilirisasi


Pengembangan Lapangan Abadi Masela juga dinilai sejalan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah. Proyek tersebut berpotensi mendukung kebutuhan gas di Indonesia Timur untuk pengembangan industri petrokimia, smelter, pembangkit listrik, dan sektor industri lainnya yang diproyeksikan mencapai sekitar 380-680 MMSCFD.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Pada puncak konstruksi, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 12.000 orang, dengan sekitar 30 persen atau 3.600 pekerja berasal dari masyarakat lokal.
Jumlah tersebut baru mencakup tenaga kerja yang terlibat secara langsung. Dampak terhadap penciptaan lapangan kerja berpotensi lebih besar apabila turut memperhitungkan aktivitas ekonomi lain yang tumbuh akibat keberadaan proyek, mulai dari jasa penunjang, logistik, perdagangan, akomodasi, hingga usaha masyarakat di sekitar wilayah proyek.
PHE Jadi Faktor Terpenting Blok Masela


ReforMiner menilai masuknya Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam struktur konsorsium proyek LNG Abadi Masela juga dapat menjadi faktor penting dalam mempercepat dan memperkuat pengembangan Blok Masela.
Sebagai BUMN, Pertamina memiliki keunggulan berupa penguasaan infrastruktur distribusi gas serta pangsa pasar niaga gas domestik yang besar.
Posisi tersebut dinilai dapat membantu mengurangi risiko pasar melalui integrasi bisnis dari sektor hulu hingga hilir. Melalui anak usahanya, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pertagas, Pertamina memiliki akses terhadap infrastruktur transmisi, distribusi, serta jaringan konsumen gas domestik.
Menurut Komaidi, sinergi dengan calon pembeli gas domestik juga perlu diperkuat agar kesepakatan awal dapat segera ditindaklanjuti menjadi Gas Sales Agreement (GSA) atau Sales and Purchase Agreement (SPA) yang pasti, berjangka panjang, dan bankable.
Kepastian penyerapan di dalam negeri dapat mengurangi eksposur proyek terhadap volatilitas harga LNG spot global dan membantu menjaga kelayakan ekonomi proyek dalam jangka panjang,”
ujar Komaidi.
Integrasi Pertamina melalui PHE di sektor hulu dan PGN di sektor midstream-hilir juga dapat dioptimalkan untuk mendukung penyerapan domestik sedikitnya 60 persen dari produksi gas Masela.
PGN saat ini mengelola jaringan pipa lebih dari 35.000 kilometer, melayani pasar di 17 provinsi dan 74 kabupaten/kota, serta memiliki posisi dominan dalam infrastruktur hilir dan menguasai sekitar 91,36 persen niaga gas nasional.
Komaidi menambahkan, posisi Pertamina sebagai BUMN strategis juga dapat membantu memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator, dan BUMN dalam penyelesaian berbagai kebutuhan proyek. Hal itu mencakup perizinan, pengadaan lahan, pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), pengadaan utama, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.
Dukungan Danantara


Dari sisi pembiayaan, posisi Pertamina juga diperkuat oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Menurut Komaidi, keberadaan Danantara dapat memperluas pilihan pembiayaan proyek melalui sindikasi perbankan, penerbitan instrumen utang, maupun optimalisasi modal kerja antar-BUMN.
Dukungan finansial institusional ini turut menurunkan risiko kredit Pertamina dalam mendanai proyek Masela, sekaligus memberikan keyakinan kepada mitra internasional seperti INPEX dan penyedia dana eksternal mengenai keberlanjutan arus kas proyek,”
ungkapnya.
Keberadaan badan usaha negara dalam konsorsium juga dinilai memperkuat posisi kepentingan nasional dalam proyek tersebut. Kondisi ini berpotensi memudahkan koordinasi pemerintah dalam pemberian dukungan, termasuk insentif fiskal, kemudahan regulasi impor barang modal, serta jaminan keamanan operasional proyek.
Masih Ada Tahapan Panjang Menuju Produksi
Meski groundbreaking menandai kemajuan penting, Komaidi mengingatkan pengembangan Abadi Masela masih menghadapi sejumlah tahapan krusial sebelum memasuki fase produksi. Proyek tersebut masih harus menyelesaikan Front-End Engineering Design (FEED), mencapai Final Investment Decision (FID) yang ditargetkan pada akhir 2026, menjalankan Engineering, Procurement and Construction (EPC), hingga commissioning dan produksi perdana.
Panjangnya tahapan tersebut menunjukkan bahwa risiko proyek, baik dari aspek teknis maupun nonteknis, masih perlu dikelola secara konsisten. Terlebih, proyek Abadi Masela memiliki sejarah pengembangan yang panjang dan sebelumnya menghadapi perubahan konsep pengembangan.
Komaidi menilai keberhasilan pengembangan proyek Abadi Masela yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) akan sangat bergantung pada konsistensi dan kepastian kebijakan pemerintah.
Perubahan rencana pengembangan, termasuk perubahan skema dari LNG terapung menjadi LNG darat, memberikan dampak yang tidak sederhana. Perubahan tersebut mengharuskan dilakukannya penyusunan ulang desain, lokasi fasilitas, kebutuhan lahan, infrastruktur, keekonomian, dan jadwal pelaksanaan proyek,”
imbuhnya.






















