Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 12 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Harta Karun Gas di Timur RI Mulai Digarap, Masela Bisa Sumbang 34% Produksi Nasional
Ekonomi Bisnis

Harta Karun Gas di Timur RI Mulai Digarap, Masela Bisa Sumbang 34% Produksi Nasional

iren natania longdongdusep-malik
Last updated: Agustus 12, 2026 9:28 pm
By
Natania Longdong
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id,...
Follow:
Dusep Malik
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Follow:
2 jam lalu
Share
Pengeboran Onshore Milik Pertamina. (Sumber: Dok. PHE)
Pengeboran Onshore Milik Pertamina. (Sumber: Dok. PHE)
SHARE

Proyek LNG Abadi Masela dinilai dapat menjadi salah satu penopang ketahanan energi nasional seiring dimulainya pembangunan proyek tersebut. Groundbreaking yang digelar pada 16 Juli 2026, menjadi momentum penting setelah pengembangan Blok Masela melalui proses panjang sejak Kontrak Kerja Sama (KKS) pertama kali ditandatangani pada 1998.

Daftar isi Konten
  • 34 Persen Produksi Gas Nasional
  • Program Hilirisasi 
  • PHE Jadi Faktor Terpenting Blok Masela
  • Dukungan Danantara
  • Masih Ada Tahapan Panjang Menuju Produksi

Diketahui, produksi gas bruto Lapangan Abadi Masela diproyeksikan mencapai sekitar 1,75 BSCFD. Dengan kapasitas tersebut, proyek ini berpotensi menjadi salah satu solusi untuk mengatasi defisit pasokan gas di sejumlah wilayah, sekaligus mendukung kebutuhan gas untuk sektor industri, kelistrikan, petrokimia, hingga smelter, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Groundbreaking pengembangan Lapangan Abadi Masela menjadi momentum penting bagi ketahanan energi dan perekonomian nasional, terutama karena proyek ini memiliki kapasitas produksi dan cadangan yang signifikan,”

kata Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro dalam keterangan tertulis, Rabu, 12 Agustus 2026.
Baca juga:
Kendaraan Listrik Makin Banyak, ESDM Percepat Pemerataan SPKLU hingga 2030 Pertumbuhan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang semakin pesat mendorong pemerintah…
Siap-siap, Pemerintah Bakal Perketat 'Orang Have' Beli Pertalite Pemerintah akan memperketat pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi yakni Pertalite. Pengguna…
Konflik Timur Tengah Mereda, Harga Minyak RI Dipatok Turun ke… Pemerintah resmi menetapkan rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price…
  • Kendaraan Listrik Makin Banyak, ESDM Percepat Pemerataan SPKLU hingga 2030
  • Siap-siap, Pemerintah Bakal Perketat 'Orang Have' Beli Pertalite
  • Konflik Timur Tengah Mereda, Harga Minyak RI Dipatok Turun ke US$81,68 per…

34 Persen Produksi Gas Nasional

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat groundbreakin g Proyek Abadi Masela. (Sumber: YT BPMI)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat groundbreakin g Proyek Abadi Masela. (Sumber: YT BPMI)

Total cadangan gas Lapangan Abadi Masela disebut mencapai sekitar 18,54 TSCF atau setara 53,30 persen dari total cadangan terbukti gas nasional pada 2025. Sementara itu, produksi gas dari lapangan tersebut diproyeksikan dapat mencapai sekitar 34 persen dari produksi gas nasional saat ini.

Dari sisi ekonomi, nilai investasi pengembangan Lapangan Abadi Masela yang direncanakan mencapai US$34,75 miliar atau sekitar Rp590 triliun (asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS). Berdasarkan kajian ReforMiner, investasi tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional hingga sekitar Rp2.363 triliun.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian ESDM 2023, total biaya pengembangan Lapangan Abadi Masela sepanjang umur proyek diperkirakan mencapai US$34,754 miliar. Angka tersebut terdiri atas investasi di luar sunk cost sebesar US$20,946 miliar, biaya operasi US$12,978 miliar, serta biaya abandonment and site restoration (ASR) US$830 juta.

Nilai tersebut setara sekitar 2,3 kali realisasi investasi hulu migas nasional sepanjang 2025 yang mencapai US$15,42 miliar. Besarnya nilai investasi menunjukkan potensi kontribusi proyek Masela terhadap aktivitas ekonomi nasional, termasuk melalui belanja modal, kegiatan konstruksi, serta tumbuhnya aktivitas ekonomi turunan di daerah penghasil.

Program Hilirisasi 

Gedung Kementerian ESDM. (Sumber: Google Street View)
Gedung Kementerian ESDM. (Sumber: Google Street View)

Pengembangan Lapangan Abadi Masela juga dinilai sejalan dengan kebijakan hilirisasi pemerintah. Proyek tersebut berpotensi mendukung kebutuhan gas di Indonesia Timur untuk pengembangan industri petrokimia, smelter, pembangkit listrik, dan sektor industri lainnya yang diproyeksikan mencapai sekitar 380-680 MMSCFD.

Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Pada puncak konstruksi, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 12.000 orang, dengan sekitar 30 persen atau 3.600 pekerja berasal dari masyarakat lokal.

Jumlah tersebut baru mencakup tenaga kerja yang terlibat secara langsung. Dampak terhadap penciptaan lapangan kerja berpotensi lebih besar apabila turut memperhitungkan aktivitas ekonomi lain yang tumbuh akibat keberadaan proyek, mulai dari jasa penunjang, logistik, perdagangan, akomodasi, hingga usaha masyarakat di sekitar wilayah proyek.

PHE Jadi Faktor Terpenting Blok Masela

Perwira Pertamina mengecek instalasi kilang minyak. (Sumber: Dok. PHE)
Perwira Pertamina mengecek instalasi kilang minyak. (Sumber: Dok. PHE)

ReforMiner menilai masuknya Pertamina Hulu Energi (PHE) dalam struktur konsorsium proyek LNG Abadi Masela juga dapat menjadi faktor penting dalam mempercepat dan memperkuat pengembangan Blok Masela.

Sebagai BUMN, Pertamina memiliki keunggulan berupa penguasaan infrastruktur distribusi gas serta pangsa pasar niaga gas domestik yang besar.

Posisi tersebut dinilai dapat membantu mengurangi risiko pasar melalui integrasi bisnis dari sektor hulu hingga hilir. Melalui anak usahanya, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan PT Pertagas, Pertamina memiliki akses terhadap infrastruktur transmisi, distribusi, serta jaringan konsumen gas domestik.

Menurut Komaidi, sinergi dengan calon pembeli gas domestik juga perlu diperkuat agar kesepakatan awal dapat segera ditindaklanjuti menjadi Gas Sales Agreement (GSA) atau Sales and Purchase Agreement (SPA) yang pasti, berjangka panjang, dan bankable.

Kepastian penyerapan di dalam negeri dapat mengurangi eksposur proyek terhadap volatilitas harga LNG spot global dan membantu menjaga kelayakan ekonomi proyek dalam jangka panjang,”

ujar Komaidi.

Integrasi Pertamina melalui PHE di sektor hulu dan PGN di sektor midstream-hilir juga dapat dioptimalkan untuk mendukung penyerapan domestik sedikitnya 60 persen dari produksi gas Masela.

PGN saat ini mengelola jaringan pipa lebih dari 35.000 kilometer, melayani pasar di 17 provinsi dan 74 kabupaten/kota, serta memiliki posisi dominan dalam infrastruktur hilir dan menguasai sekitar 91,36 persen niaga gas nasional.

Komaidi menambahkan, posisi Pertamina sebagai BUMN strategis juga dapat membantu memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator, dan BUMN dalam penyelesaian berbagai kebutuhan proyek. Hal itu mencakup perizinan, pengadaan lahan, pemenuhan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), pengadaan utama, hingga pembangunan infrastruktur pendukung.

Dukungan Danantara

Wisma Danantara Indonesia. (Sumber: Google/Amalia Ayuningtyas)
Wisma Danantara Indonesia. (Sumber: Google/Amalia Ayuningtyas)

Dari sisi pembiayaan, posisi Pertamina juga diperkuat oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Menurut Komaidi, keberadaan Danantara dapat memperluas pilihan pembiayaan proyek melalui sindikasi perbankan, penerbitan instrumen utang, maupun optimalisasi modal kerja antar-BUMN.

Dukungan finansial institusional ini turut menurunkan risiko kredit Pertamina dalam mendanai proyek Masela, sekaligus memberikan keyakinan kepada mitra internasional seperti INPEX dan penyedia dana eksternal mengenai keberlanjutan arus kas proyek,”

ungkapnya.

Keberadaan badan usaha negara dalam konsorsium juga dinilai memperkuat posisi kepentingan nasional dalam proyek tersebut. Kondisi ini berpotensi memudahkan koordinasi pemerintah dalam pemberian dukungan, termasuk insentif fiskal, kemudahan regulasi impor barang modal, serta jaminan keamanan operasional proyek.

Masih Ada Tahapan Panjang Menuju Produksi

Meski groundbreaking menandai kemajuan penting, Komaidi mengingatkan pengembangan Abadi Masela masih menghadapi sejumlah tahapan krusial sebelum memasuki fase produksi. Proyek tersebut masih harus menyelesaikan Front-End Engineering Design (FEED), mencapai Final Investment Decision (FID) yang ditargetkan pada akhir 2026, menjalankan Engineering, Procurement and Construction (EPC), hingga commissioning dan produksi perdana.

Panjangnya tahapan tersebut menunjukkan bahwa risiko proyek, baik dari aspek teknis maupun nonteknis, masih perlu dikelola secara konsisten. Terlebih, proyek Abadi Masela memiliki sejarah pengembangan yang panjang dan sebelumnya menghadapi perubahan konsep pengembangan.

Komaidi menilai keberhasilan pengembangan proyek Abadi Masela yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) akan sangat bergantung pada konsistensi dan kepastian kebijakan pemerintah.

Perubahan rencana pengembangan, termasuk perubahan skema dari LNG terapung menjadi LNG darat, memberikan dampak yang tidak sederhana. Perubahan tersebut mengharuskan dilakukannya penyusunan ulang desain, lokasi fasilitas, kebutuhan lahan, infrastruktur, keekonomian, dan jadwal pelaksanaan proyek,”

imbuhnya.
Baca juga:
Harga Batu Bara Merosot, ESDM Pangkas HBA Agustus Jadi US$124,44… Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan Harga Batu bara Acuan…
PNBP Kementerian ESDM 2025 Tembus Rp138 Triliun, Bahlil Garansi Tetap… Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral…
Kementerian ESDM Ungkap Alasan HIP Biodiesel Juli 2026 Tembus Rp14.562… Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkap alasan di balik penetapan…
  • Harga Batu Bara Merosot, ESDM Pangkas HBA Agustus Jadi US$124,44 per Ton
  • PNBP Kementerian ESDM 2025 Tembus Rp138 Triliun, Bahlil Garansi Tetap Akuntabel
  • Kementerian ESDM Ungkap Alasan HIP Biodiesel Juli 2026 Tembus Rp14.562 per Liter
Tag:Blok Abadi MaselaESDMHilirisasiLNGmaselaPertamina Hulu EnergiProduksi Gas
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
iren natania longdong
ByNatania Longdong
News Reporter
Follow:
Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat tahun meliput untuk Viva.co.id, Liputan6.com, dan Tirto.id, ia dikenal lewat reportase mendalam soal bisnis, pertambangan, dan dampak kebijakan energi terhadap masyarakat.
dusep-malik
ByDusep Malik
Redaktur
Follow:
Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Seskab Teddy-Bahlil Masuk Tiga Besar Menteri Terbaik Versi IPO, Pengamat: Sangat Tidak Logis
By Rika Pangesti
Ilustrasi Bahlil
1
Viral Challenge Hafalan Alquran Berhadiah Miras, Newport Akhirnya Klarifikasi dan Minta Maaf
By Syifa Fauziah
Booth Newport di festival musik.
2
Mengerikan! WNI Jadi Korban Serangan Rudal Houthi, Kapal Tihama Terbakar di Selat Bab al-Mandeb
By Natania Longdong
Ilustrasi kapal yang diserang rudal.
3
Utang Pemerintah Membengkak Rp373 Triliun dalam 3 Bulan, Kini Tembus Rp10.293 Triliun
By Anisa Aulia
Tumpukan uang rupiah dari tabungan masyarakat. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
4
Megawati Bicara 4 Bekal Manusia Indonesia: Jangan Jadi Penjilat dan Sering Loncat Pagar!
By Rika Pangesti
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam acara Ekspos Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II. (Sumber: YouTube BPIP RI)
5

BERITA LAINNYA

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenkeu, Jakarta (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Prabowo Mau Sisihkan Keuntungan BUMN Dialihkan ke APBN, Purbaya: Buat Bayar Utang

Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan menyisihkan sebagian keuntungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
2 jam lalu
Warga melihat barang dagangan melalui perangkat elektronik pada aplikasi platform niaga elektronik (e-commerce) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2026). (Sumber: Antara Foto/Harviyan Perdana Putra/nym)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Buka Peluang Pajak Marketplace Dapat Ditunda Lagi, Asalkan… 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka peluang untuk kembali menunda pemberlakuan pemungutan…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
5 jam lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kantor Kemenkeu, Jakarta (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Ekonomi Bisnis

Utang Pemerintah Tembus Rp10.293 Triliun, Gini Cara Purbaya Biar Tak Tambah Banyak

Utang pemerintah mencapai Rp10.293,69 triliun per Juni 2026 atau 41,26 persen terhadap…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
7 jam lalu
Pengunjung mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari layar gawai di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Sumber: Antara Foto/Fakhri Hermansyah/hma)
Ekonomi Bisnis

IHSG Ditutup Menghijau 1,69 Persen, Tapi Rupiah Malah Loyo ke Rp17.877 per Dolar AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah ditutup bertolak belakang…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
7 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up