Setiap rangkaian pernikahan adat memiliki makna yang tidak hanya berkaitan dengan perayaan. Dalam masyarakat Bugis, sejumlah tahapan menjelang pernikahan menjadi bagian penting untuk mengantarkan calon pengantin memasuki kehidupan rumah tangga.
Salah satunya adalah tradisi Mappacci yang biasanya dilakukan sebelum akad nikah. Tradisi ini tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian acara, tetapi juga menyimpan doa, harapan, serta pesan kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Asal Kata Mappacci
Melansir dari laman Kementrian Agama RI (18 Mei 2026), kata Mappacci berkaitan dengan kata pacci dalam bahasa Bugis yang bermakna bersih atau suci.
Daun pacar menjadi unsur utama dalam prosesi karena digunakan untuk diusapkan pada tangan calon mempelai. Pengusapan daun pacar tersebut menyimbolkan harapan kehidupan rumah tangga dimulai dengan hati yang bersih.
Mappacci bukan merupakan syarat sah pernikahan dalam Islam. Tradisi ini merupakan warisan budaya masyarakat Bugis yang diwariskan antargenerasi.
Meski demikian, sejumlah nilai yang hadir dalam pelaksanaannya berkaitan dengan doa, kebersamaan keluarga, dan persiapan spiritual calon pengantin.
Filosofi Perlengkapan Mappacci
Saat Mappacci, terdapat sejumlah perlengkapan yang digunakan sebagai makna simbolis. Lilin, misalnya, melambangkan penerangan dalam menjalani kehidupan.
Cahaya yang dihasilkan diharapkan menjadi gambaran petunjuk dalam kehidupan rumah tangga.
Lalu, beras melambangkan rezeki dan kemakmuran. Sementara itu, bantal menjadi simbol kemuliaan dan kehormatan. Serta sarung yang terdiri atas tujuh lapis juga memiliki makna tersendiri.
Jumlah tersebut dikaitkan dengan harapan akan kemudahan, kesinambungan rezeki, serta kehidupan yang baik hingga generasi berikutnya.
Simbol dari Dedaunan
Perlengkapan lain yang digunakan dalam Mappacci adalah daun pisang dan daun nangka. Daun pisang menggambarkan kehidupan yang terus berlanjut.
Pertumbuhan daun yang silih berganti menjadi simbol kesinambungan. Sementara itu, daun nangka berkaitan dengan harapan dan cita-cita luhur.
Khatam Al-Qur’an
Dalam pelaksanaan Mappacci yang berpadu dengan nilai-nilai Islam, calon mempelai biasanya terlebih dahulu dipersiapkan secara spiritual.
Salah satu rangkaian yang dapat menyertainya adalah khatam Al-Qur’an sebelum prosesi Mappacci.
Setelah berbagai persiapan dilakukan, anggota keluarga kemudian bergantian memberikan pacci kepada calon pengantin. Prosesi tersebut disertai doa dan harapan. Momen ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk memberikan restu.
Nilai Kebersamaan
Mappacci memperlihatkan kuatnya posisi keluarga dalam kehidupan masyarakat Bugis. Calon pengantin tidak menjalani persiapan pernikahan seorang diri, tetapi didampingi oleh keluarga besar yang hadir memberikan dukungan dan doa.
Pertemuan tersebut sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga. Bagi calon pengantin, kehadiran orang-orang terdekat menjadi pengingat bahwa kehidupan rumah tangga yang akan dibangun juga membutuhkan dukungan, tanggung jawab, dan hubungan yang baik dengan keluarga.


















