Bareskrim Polri mendalami dugaan keterlibatan korporasi dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjerat 72 tersangka di sembilan Polda
Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Irhamni menyatakan para tersangka mengaku membakar lahan atas inisiatif pribadi. Meski begitu, Polri akan tetap mendalami transksi keuangan mereka yang mengarah pada korporasi.
“Akan kami bagi untuk menegakkan hukum, mengejar pelaku-pelaku individu maupun korporasi yang terlibat,”
ujar Irhamni saat jumpa pers, dikutip pada Senin, 24 Agustus 2026.
Penelurusan transaksi keuangan guna mengetahui biaya operasional para pembakar berasal dari uang pribadi atau dari pihak perusahaan yang ingin memanfaatkan momentum kemarau untuk membuka lahan sawit.
“Kami tidak percaya pengakuan dia, tetapi fakta bukti transaksi ataupun bukti lain akan kami cari. Apakah ada keterlibatan pihak-pihak lain ataupun korporasi?
tutur Irhamni.
Tak Mungkin Biaya Pribadi
Polri mencurigai para pembakar hutan tidak bekerja secara cuma-cuma. Diduga ada sosok pemodal atau yang mendanai para tersangka untuk membuka lahan dengan cara membumihanguskan.
Selanjutnya, kepolisian bakal menggandeng Pusat Pelatihan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk memburu aliran dana yang diduga berkaitan dengan perkara ini, serta menggeledah dan menyita barang bukti.
“Dia membakar tidak gratis. Pasti ada pemodal, pendana, pasti diberikan uang. Uang itu dari mana, itu yang kami cari,”
kata Irhamni.
Pembakaran Jadi Favorit
Berdasarkan pengakuan para tersangka, mereka memang sengaja membuka lahan dengan cara membakar lahan lantaran metode tersebut lebih murah modal ketimbang menggunakan alat perkebunan.
Pembukaan lahan telah terjadi sejak beberapa bulan lalu, dengan cara menebang pepohonan.
“Untuk mempermudah untuk pembukaan lahan tersebut biasanya (pohon ditebang),”
ucap Irhamni.
Bila kawasan lahan sudah terbuka, para pelaku masih dihadapkan dengan biaya land clearing yang menggunakan alat berat dan bahan bakar.
Alhasil, pembakaran lahan menjadi jalan pintas. Cara tersebut mereka anggap lebih efisien dari segi ekonomi kebanding menyewa alat untuk membersihkan sisa vegetasi di lahan.
“Karena untuk membersihkan atau land clearing, mahal kalau menggunakan alat. Apalagi sekarang BBM juga mahal. Cara termudah adalah dibakar,”
lanjut dia.
Mitos?
Bukan hanya murah, dalih lain para tersangka yakni abu sisa pembakaran diyakini membuat tanah lebih subur.
“Setelah pembakaran itu tanah menjadi lebih subur, karena hasil pembakaran abu dan sebagainya itu bisa menjadi pupuk. Maka ini menjadi (cara) favorit mereka untuk melakukan modus seperti ini,”
kata Irhamni.























