Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Jumat, 28 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • DPR
  • KPK
  • Sepak Bola
  • prabowo
  • Korupsi
  • MBG
  • Prabowo Subianto
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Hype / Mengenal Cancel Culture, Budaya Boikot di Era Media Sosial
Hype

Mengenal Cancel Culture, Budaya Boikot di Era Media Sosial

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
Last updated: Agustus 27, 2026 12:18 pm
By
Ossid Duha Jussas Salma
ByOssid Duha Jussas Salma
Follow:
Ivan Syahruna Lubis
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Follow:
2 jam lalu
Share
Ilustrasi Perundungan
Perundungan (Foto: Unsplash/La Fabbrica Dei Sogni)
SHARE

Pernahkah kamu melihat seorang tokoh publik tiba-tiba dihujat setelah melakukan sesuatu yang dianggap salah? Dalam beberapa kasus, tekanan dari warganet bahkan berujung pada hilangnya dukungan, pekerjaan, hingga kontrak kerja. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah cancel culture.

Daftar isi Konten
  • Cancel Culture
  • Mengapa Terjadi?
  • Dampak Cancel Culture
  • Potensi Perundungan
  • Menyikapi Cancel Culture

Di era media sosial, sebuah unggahan, video, atau pernyataan dapat menyebar dengan cepat dan mengundang respons dari banyak orang.

Ketika publik menilai seseorang telah melakukan tindakan yang tidak dapat diterima, muncul dorongan untuk menghentikan dukungan terhadap orang tersebut.

Baca juga:
Viral Foto Diduga Peserta SPPI Nongkrong di Barak, Komentar Netizen… Viral di media sosial unggahan yang memperlihatkan foto sejumlah pria mengenakan Pakaian…
Ilmu Dagin, Ini 10 Singkatan Sering Digunakan di Kalangan Gen… Pernah nggak sih, lagi enak-enak baca chat atau scroll komentar TikTok eh tiba-tiba ketemu…
Hafalan Al-Qur’an Dijadikan Tantangan Dapat Miras, Bagaimana Hukumnya dalam Islam? Baru-baru ini viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan aksi sekelompok…
  • Viral Foto Diduga Peserta SPPI Nongkrong di Barak, Komentar Netizen Bikin Geleng-geleng…
  • Ilmu Dagin, Ini 10 Singkatan Sering Digunakan di Kalangan Gen Z 2026
  • Hafalan Al-Qur’an Dijadikan Tantangan Dapat Miras, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Namun, tidak semua aksi pembatalan dukungan dilakukan dengan tujuan yang sama. Simak penjelasan di bawah ini untuk memahami fenomena tersebut lebih lanjut.

Cancel Culture

Cancel culture merupakan fenomena ketika seseorang, kelompok, atau bahkan sebuah merek kehilangan dukungan publik karena dianggap melakukan atau mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan nilai tertentu.

Bentuknya dapat berupa berhenti mengikuti akun, tidak lagi membeli produk, menyerukan boikot, hingga menekan pihak lain agar menghentikan kerja sama dengan target.

Istilah cancel culture juga kerap dikaitkan dengan upaya meminta pertanggungjawaban seseorang atas perilaku yang dianggap bermasalah.

Mengapa Terjadi?

Fenomena cancel culture biasanya bermula dari sebuah tindakan, pernyataan, atau konten yang dianggap kontroversial.

Viral Turis Serukan Boikot Gili Trawangan, Dugaan Eksploitasi Kuda Picu Kemarahan

Ketika perbincangan berkembang, muncul berbagai komentar, kritik, hingga ajakan untuk menghentikan dukungan terhadap orang yang menjadi sasaran.

Bagi tokoh publik atau kreator, tekanan tersebut dapat meluas ke pihak yang bekerja sama dengannya, seperti perusahaan, penyelenggara acara, atau merek. Kecepatan media sosial membuat proses tersebut dapat berlangsung dalam waktu singkat.

Dampak Cancel Culture

Dampak cancel culture tidak hanya berkaitan dengan reputasi. Bagi orang yang menjadi sasaran, tekanan publik dalam jumlah besar dapat memengaruhi kehidupan sosial, pekerjaan, dan kondisi psikologis.

Seseorang dapat kehilangan kesempatan kerja, kontrak, atau dukungan dari publik. Dampaknya bisa jauh lebih berat bagi masyarakat biasa yang tidak memiliki popularitas atau sumber daya sebesar figur publik.

Selain itu, tekanan dari komentar negatif yang terus-menerus juga dapat menimbulkan stres dan membuat seseorang merasa terisolasi.

Karena itu, kritik di ruang digital tetap perlu disampaikan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang yang menjadi sasaran.

Potensi Perundungan

Kritik dan cancel culture tidak selalu dapat disamakan. Kritik seharusnya berfokus pada tindakan atau pernyataan yang dianggap bermasalah, sedangkan serangan pribadi dapat mengarah pada perundungan.

Misalnya, menyampaikan keberatan terhadap sebuah pernyataan disertai alasan dan informasi yang jelas merupakan bentuk kritik.

Sebaliknya, menghina fisik, menyebarkan data pribadi, mengancam, atau mengajak orang lain menyerang seseorang sudah melampaui batas kritik.

Perbedaan tersebut penting dipahami karena tujuan menyampaikan kritik seharusnya bukan untuk menghancurkan seseorang, melainkan mendorong pertanggungjawaban dan perubahan terhadap tindakan yang dianggap keliru.

Menyikapi Cancel Culture

Peneliti komunikasi sosial dan budaya Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, pernah menjelaskan bahwa praktik cancel culture dapat dilakukan dengan memperlihatkan, melabeli, dan mempermalukan seseorang di hadapan publik melalui media sosial.

Sementara itu, peneliti media sosial Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai fenomena tersebut dapat membuat pengguna media sosial, termasuk kreator konten, menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak.

Menuntut seseorang untuk bertanggung jawab atas kesalahannya merupakan hal yang berbeda dengan melakukan perundungan secara massal.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi, pengguna media sosial perlu memastikan bahwa kritik yang diberikan tidak justru menciptakan masalah baru.

Tag:Budaya BoikotCancel CulturemedsosPerundungan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Ivan OWRITE
ByIvan Syahruna Lubis
Redaktur
Follow:
Editor berita di OWRITE Media, meliput pemberitaan gaya hidup dan Peristiwa.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Trending di OWRITE
Tiga Bocah Bobol Toko di Padang, Ngaku Belajar dari Roblox hingga Aksinya Viral di Medsos
By Ani Ratnasari
Tiga bocah yang diduga melakukan aksi pembobolan sejumlah toko di Plaza Andalas, Padang, Sumatra Barat.
1
Budi Arie ‘Senggol’ Percepatan Pemilu, PKS: Sebaiknya Jokowi Jelaskan agar Tak Jadi Bola Liar
By Hardani Triyoga
Kepala Kantor Staf Presiden PKS, Pipin Sopian.
2
Demo 27 Agustus Memanas, Pos Polisi di Petamburan Dibakar Massa!
By Rahmat Tunny
Pos Polisi di Petamburan, Jakarta Dibakar Massa.
3
Di Depan Warga Pati, Dasco Siap Mundur Jika RUU Perampasan Aset Gagal Disahkan di 2026
By Rika Pangesti
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjawab pertanyaan wartawan usai rapat pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026). (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nym)
4
Kemenkeu Luruskan Omongan Purbaya Soal Rp7 T ke BPS, Ternyata Bukan Cuma DTSEN
By Anisa Aulia
Petugas sensus mendata meteran listrik rumah warga saat melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 di Kelurahan Maliaro, Ternate, Maluku Utara. (Sumber: Antara Foto/Andri Saputra/hma)
5

BERITA LAINNYA

Tiga bocah yang diduga melakukan aksi pembobolan sejumlah toko di Plaza Andalas, Padang, Sumatra Barat.
Hype

Tiga Bocah Bobol Toko di Padang, Ngaku Belajar dari Roblox hingga Aksinya Viral di Medsos

Polresta Padang berhasil mengamankan tiga bocah yang diduga melakukan aksi pembobolan sejumlah…

Ani RatnasariHardani Triyoga
By
Ani Ratnasari
Hardani Triyoga
12 jam lalu
Ilustrasi rambut rontok
Hype

Jangan Diabaikan! Ini Tujuh Tips Ampuh Cegah Kerontokan Rambut

Rambut rontok saat menyisir, keramas, atau bahkan menempel di bantal sering kali…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
14 jam lalu
Menu Daging MBG diduga terdapat peluru
Hype

Geger! Menu Daging MBG di Lampung Utara Diduga Mengandung Peluru Senapan Angin

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi bahan omongan netizen. Kali ini,…

Ani RatnasariIvan OWRITE
By
Ani Ratnasari
Ivan Syahruna Lubis
16 jam lalu
Rawon
Hype

Cita Rasa Rawon, Hidangan Tradisional dengan Kuah Hitam

Kuah hitam pekat dengan potongan daging sapi, taoge pendek, telur asin, kerupuk…

Ossid Duha Jussas SalmaIvan OWRITE
By
Ossid Duha Jussas Salma
Ivan Syahruna Lubis
17 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up