Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan mencatatkan surplus sebesar US$0,96 miliar pada Juli 2026. Angka pasti itu akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada siang ini.
Josua mengatakan setelah mengalami defisit, pada Juli neraca perdagangan akan mencaat surplus. Defisit neraca perdagangan tercatat sudah terjadi dua kali yakni pada Mei dan Juni 2026, yang memutus surplus selama 72 bulan beruntun.
Neraca perdagangan Juli 2026, saya memperkirakan Indonesia kembali membukukan surplus sekitar US$0,96 miliar setelah defisit US$0,45 miliar pada Juni,”
kata Josua kepada Owrite Selasa, 1 September 2026.
Penopang Surplus


Josua menjelaskan, surplusnya neraca perdagangan utamanya karena perbaikan dari turunnya rata-rata harga minyak pada Juli. Sehingga nilai impor migas berkurang.
Ini penting karena defisit perdagangan pada Juni sangat dipengaruhi oleh kenaikan impor energi. Data resmi Juni menunjukkan ekspor US$25,46 miliar dan impor US$25,91 miliar, sehingga menghasilkan defisit sekitar US$0,45 miliar,”
jelasnya.
Namun dari sisi ekspor, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi sekitar 5,27 persen secara tahunan dari 8,63 persen. Akan tetapi, tetap positif karena harga minyak sawit mentah relatif lebih tinggi dan permintaan China terhadap produk Indonesia membaik.
Impor China dari Indonesia pada Juli meningkat sekitar 4,10 persen secara bulanan setelah turun 8,76 persen pada Juni, sementara aktivitas angkutan laut global juga membaik,”
jelasnya.
Sementara itu, pertumbuhan impor Indonesia diperkirakan melambat menjadi sekitar 21,93 persen secara tahunan dari 34,27 persen. Hal ini terutama akibat penurunan rata-rata harga minyak serta turunnya ekspor China ke Indonesia sekitar 9,63 persen secara bulanan.
Jadi surplus Juli lebih banyak mencerminkan turunnya tekanan impor dibanding lonjakan ekspor,”
jelasnya.
Masalah Belum Selesai


Josua mengatakan, meski pada Juli neraca perdagangan diperkirakan surplus namun dinilai bahwa masalah di sektor eksternal belum selesai. Menurutnya, neraca perdagangan saat ini masih rapuh.
Kami masih melihat neraca perdagangan cukup rapuh karena agenda pro-growth pemerintah akan menjaga permintaan domestik dan impor tetap tinggi. Sementara permintaan global yang lebih lemah, ketidakpastian perdagangan, dan konflik geopolitik dapat menahan ekspor,”
ujarnya.
Maka dari itu, Josua masih memproyeksikan defisit transaksi berjalan 2026 sekitar 2,49 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Untuk cadangan devisa berpotensi berada pada kisaran US$143–US$147 miliar pada akhir tahun.























