Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$0,12 miliar pada Juli 2026. Surplus ini utamanya ditopang oleh lemak dan minyak hewani nabati hingga bahan bakar mineral.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bahwa surplus ini utamanya ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$3,10 miliar.
Pada Juli 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$0,12 miliar,”
ujar Ateng dalam konferensi pers Selasa, 1 September 2026.
Pendorong Surplus


Ateng menjelaskan, komoditas penyumbang surplus nonmigas utamanya berasal dari lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja
Sedangkan untuk neraca perdagangan migas pada Juli 2026 tercatat mengalami defisit sebesar US$2,98 miliar. Untuk komoditas penyumbang defisit terutama berasal dari hasil minyak dan minyak mentah.
Adapun secara kumulatif, Ateng mengatakan bahwa neraca perdagangan Indonesia juga mencatatkan surplus sebesar US$3,70 miliar sepanjang Januari-Juli 2026. Surplus ini utamanya berasal dari nonmigas sebesar US$22,45 miliar, sementara komoditas migas mencatat defisit sebesar US$18,75 miliar.
Negara Penyumbang Surplus
Ateng mengungkapkan, ada tiga negara penyumbang surplus perdagangan terbesar baik migas dan nonmigas sepanjang Januari-Juli 2026. Negara itu diantaranya Amerika Serikat (AS) sebesar US$10,48 miliar, India surplus sebesar US$7,80 miliar, dan Filipina US$4,95 miliar
Sedangkan tiga negara penyumbang defisit terdalam diantaranya China US$16,95 miliar, Singapura US$5,14 miliar, dan Australia defisit sebesar US$4,77 miliar.
Adapun neraca perdagangan Indonesia sudah mencatatkan defisit dua kali yakni pada Mei dan Juni 2026, yang memutus surplus selama 72 bulan beruntun. Pada Mei defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar, dan Juni sebesar US$0,45 miliar.


Sesuai Ramalan Ekonom
Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia akan mencatatkan surplus sebesar US$0,96 miliar pada Juli 2026.
Neraca perdagangan Juli 2026, saya memperkirakan Indonesia kembali membukukan surplus sekitar US$0,96 miliar setelah defisit US$0,45 miliar pada Juni,”
kata Josua kepada Owrite Selasa, 1 September 2026.
Josua menjelaskan, surplusnya neraca perdagangan utamanya karena perbaikan dari turunnya rata-rata harga minyak pada Juli. Sehingga nilai impor migas berkurang.
Ini penting karena defisit perdagangan pada Juni sangat dipengaruhi oleh kenaikan impor energi. Data resmi Juni menunjukkan ekspor US$25,46 miliar dan impor US$25,91 miliar, sehingga menghasilkan defisit sekitar US$0,45 miliar,”
jelasnya.























