Kenaikan harga Dexlite sebesar 20,3 persen menjadi Rp23.700 per liter mulai 1 September 2026 dinilai perlu diikuti dengan transparansi mengenai struktur biaya dan efisiensi PT Pertamina (Persero).
Pengamat kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi memang dapat dipengaruhi faktor eksternal seperti harga minyak dan nilai tukar. Namun, sebelum konsumen diminta membayar lebih mahal, Pertamina juga perlu memastikan komponen biaya yang berada dalam kendali perusahaan dikelola secara efisien.
Pertamina sendiri juga tidak boleh luput dari evaluasi,”
kata Achmad dalam keterangan resmi, Selasa, 1 September 2026.
Transparansi Penting


Menurut dia, transparansi menjadi penting agar masyarakat dapat memahami komponen yang membentuk harga BBM nonsubsidi. Terlebih, kenaikan harga yang mencapai lebih dari 20 persen dalam satu kali penyesuaian berpotensi menambah beban masyarakat pengguna BBM nonsubsidi.
Sebelum konsumen diminta menerima harga lebih mahal atas nama keekonomian, Pertamina harus membuktikan bahwa struktur biayanya efisien,”
ujarnya.
Achmad pun menyoroti sejumlah aspek internal perusahaan yang menurutnya perlu dievaluasi, mulai dari operasional, pengadaan, distribusi hingga investasi.
Menurut dia, berbagai pengeluaran tersebut harus benar-benar memberikan nilai tambah dan tidak menjadi beban yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen.
Masyarakat tidak seharusnya membayar inefisiensi BUMN,”
tegas Achmad.
Di sisi lain, Achmad mengakui bahwa kenaikan harga Dexlite maupun Pertamina Dex tidak dapat serta-merta dianggap sebagai akibat inefisiensi Pertamina.
Ikuti Formula Pemerintah


Pertamina menyatakan harga BBM nonsubsidi mengikuti formula pemerintah yang antara lain dipengaruhi perkembangan harga minyak dan nilai tukar.
Karena itu, menurut dia, pemerintah dan Pertamina perlu memberikan penjelasan yang lebih terbuka mengenai pembentukan harga BBM nonsubsidi sehingga masyarakat dapat membedakan komponen biaya yang berasal dari faktor eksternal dengan biaya yang berasal dari operasional perusahaan.
Namun justru karena itu struktur pembentukan harga harus semakin transparan,”
tekannya.
Dengan transparansi tersebut, kenaikan harga BBM nonsubsidi diharapkan tidak hanya dipahami sebagai konsekuensi perubahan harga minyak global dan nilai tukar, tetapi juga mencerminkan struktur biaya yang efisien dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.























