Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau secara intensif dan real-time terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Berdasar hasil monitoring terkini BMKG, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terekam pada stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 19 milimeter dan berlangsung selama sekitar 29 detik.
Meski erupsi terekam oleh instrumen pemantauan, BMKG menyebut tidak menemukan ada anomali pada rekaman seismograf di sekitar waktu kejadian.
“BMKG terus melakukan pemantauan secara intensif terkait aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau,”
mengutip akun X BMKG, Minggu, 6 September 2026.
Tidak Ada Kenaikan Muka Air Laut Signifikan
Selain memantau aktivitas seismik, BMKG juga memantau kondisi muka air laut di sekitar wilayah terdampak. Hasil pemantauan hingga 5 September 2026 pukul 10.30 WIB menunjukkan tidak terdapat kenaikan muka air laut yang signifikan akibat aktivitas erupsi.
Kondisi ini menjadi salah satu indikator penting dalam pemantauan potensi dampak erupsi Anak Krakatau, khususnya terhadap kondisi laut di sekitar Selat Sunda. BMKG memastikan pemantauan tetap dilakukan secara real-time untuk melihat perkembangan aktivitas gunung.
BMKG juga berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan informasi mengenai kondisi terkini dapat segera disampaikan kepada masyarakat, serta menyediakan pemantauan citra satelit terkait sebaran abu vulkanik.
“Masyarakat diimbau mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal informasi resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi,”
kata BMKG.























