Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai bahwa titik terlemah dalam tubuh Kepolisian Republik Indonesia (Polri) saat ini berada pada sektor penegakan hukum.
Meski demikian, Mahfud menilai dua fungsi lain yakni pengayoman dan pelayanan publik masih berjalan relatif baik.
Yang paling buruk itu penegakan hukumnya. Kalau pengayoman dan pelayanan publik, masih bisa dikatakan baik,”
Mahfud dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya.
Mahfud mengungkapkan bahwa kelemahan di tubuh Polri sebenarnya sudah disadari oleh pihak internal.
Dalam rapat tim Komite Percepatan Reformasi Polri, berbagai persoalan seperti hedonisme, kesewenang-wenangan, hingga pemerasan muncul secara terbuka dalam presentasi kepada para petinggi kepolisian.
Mereka sendiri yang menyebutkan kelemahan-kelemahannya. Mulai dari hedonisme, kesewenang-wenangan, hingga pemerasan, semuanya muncul dalam paparan tim reformasi Polri,”
ujar Mahfud dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya.
Tiga Bulan Tenggat Reformasi Polri
Sebagai bagian dari upaya mempercepat reformasi, Mahfud memberikan tenggat waktu tiga bulan agar tim reformasi dapat menampilkan hasil nyata.
Ia menekankan bahwa proses ini akan berjalan terbuka dan melibatkan publik secara aktif.
Kita menargetkan dalam tiga bulan harus sudah terlihat hasilnya. Dalam dua minggu ke depan, tim sudah harus bekerja maksimal,”
Mahfud.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu juga menyampaikan rencana untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam waktu dua hingga tiga minggu mendatang.
Kami akan segera mengundang masyarakat untuk ikut berpartisipasi, karena reformasi Polri tidak bisa hanya dikerjakan dari dalam,”
Mahfud.
Reformasi Kolaboratif, Bukan Konfrontatif
Mahfud menegaskan bahwa tim reformasi Polri bukanlah lawan bagi institusi kepolisian.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar perubahan bisa berjalan efektif dan berkelanjutan.
Tim ini datang bukan sebagai musuh. Kalau datang sebagai musuh, pasti tidak akan efektif. Kita harus bicara dari hati ke hati,” ujarnya.
Mahfud.
Ia juga menantang masyarakat untuk berkontribusi dengan solusi konkret, bukan sekadar mengkritik tanpa arah.
Masyarakat silakan memberi masukan dan solusi. Jangan hanya mengkritik. Semua orang tahu ada masalah pemerasan atau hedonisme, tapi yang penting adalah mencari penyebab dan solusinya,”
Mahfud.
Mahfud MD menegaskan, reformasi Polri adalah proyek bersama bangsa, bukan tanggung jawab satu pihak saja.
Ia berharap dengan adanya partisipasi publik dan transparansi, kepercayaan masyarakat terhadap Polri dapat kembali meningkat.
Kalau kita bekerja sama dengan jujur dan terbuka, saya yakin Polri bisa pulih menjadi lembaga yang benar-benar melindungi dan mengayomi rakyat,”
Mahfud.


