Pengamat sepak bola sekaligus jurnalis senior, Haris Pardede atau yang akrab disapa Bung Harpa, angkat bicara mengenai roadmap jangka panjang PSSI bertajuk Project 2034: Garuda Membara.
Ia menilai dokumen tersebut justru memperkuat kritik publik yang ramai beredar di media sosial, terutama soal roadmap yang hanya terdiri dari tiga halaman.
Roadmap yang menjadi tuntutan Ultras Garuda saat aksi demo Jumat lalu akhirnya muncul, tapi hanya berupa tiga lembar dokumen. Itu pun jelas terlihat tidak matang,”
Bung Harpa kepada Owrite.id.
Menurutnya, roadmap itu tak lebih dari tindakan meredam amarah suporter, bukan jawaban strategis atas masalah sepak bola nasional.
Hal ini tampak dari waktu peluncurannya yang sangat cepat, yaitu kurang dari 24 jam setelah kelompok suporter Ultras Garuda melakukan protes di kantor PSSI, GBK Arena.
Bentuk Kepanikan PSSI
Bung Harpa menduga roadmap ini dibuat secara terburu-buru sehingga tidak menyentuh akar persoalan sesungguhnya.
Dalam sebuah pernyataan di Magelang, Ketua Umum PSSI Erick Thohir sempat mengatakan bahwa dokumen itu sebenarnya telah lama disiapkan.
Namun Bung Harpa menilai klaim tersebut bertentangan dengan kenyataan di lapangan.
Publik sudah meminta roadmap sejak lama, bukan cuma Ultras Garuda. Tapi hingga hari ini tidak pernah ada penjelasan lengkap,”
Bung Harpa.
Ketika ditanya mengenai ketidaksesuaian isi roadmap dengan keputusan PSSI lainnya misalnya menghapus FIFA Matchday November Bung Harpa memilih tidak memperpanjang komentar.
Sebab, menurutnya, inkonsistensi seperti itu sudah sering terjadi di tubuh PSSI. Ia mempertanyakan kejelasan proses penyusunan roadmap tersebut.
Apakah dokumen itu memang sudah lama ada? Atau baru dibuat? Atau sekadar revisi setelah masuknya Direktur Teknik, Alexander Zuirs?”
Bung Harpa.
Dari sudut pandangnya, roadmap tersebut lebih terlihat sebagai reaksi spontan, bukan dokumen kerja jangka panjang yang disiapkan secara profesional.
Tidak ada rincian anggaran, mekanisme pelaksana, timeline detail, hingga indikator keberhasilan. Semua aspek penting itu tak tercantum.
Bung Harpa menyarankan agar PSSI segera memberikan klarifikasi resmi mengenai roadmap yang telah beredar di media.
Ia berharap federasi lebih terbuka dan jujur terkait isu-isu yang kini terus menjadi bahan diskusi publik.
Pola Komunikasi PSSI Berantakan
Ia juga menyoroti buruknya pola komunikasi PSSI selama ini. Menurutnya, ketika federasi mengambil langkah yang tidak selaras dengan aspirasi publik, konflik tidak bisa dihindari.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah peralihan pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert.
Publik, kata Harpa, sudah berusaha menerima keputusan itu sebagai bentuk memberi kesempatan kepada PSSI menjalankan visi Erick Thohir.
Namun alasan yang diberikan PSSI justru dinilai tidak masuk akal.
