Pemerintah mewanti-wanti ketersediaan pasokan bahan pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), di tengah gangguan cuaca ekstrem.
Sejumlah antisipasi dilakukan pemerintah guna mencegah gejolak harga akibat cuaca ekstrem.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan pemerintah akan terus memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan masyarakat menjelang Nataru.
Hal ini termasuk penyediaan untuk mencukupi kebutuhan program prioritas pemerintah di tengah tantangan gangguan cuaca.
“Berbagai langkah dilakukan Pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya gejolak harga akibat cuaca ekstrem, di antaranya melalui operasi pasar, penguatan stok, cadangan pangan, dan intervensi harga,”
Febrio dalam keterangannya Selasa, 2 Desember 2025.
Lebih lanjut Febrio mengatakan, saat ini perekonomian Indonesia masih mempertahankan tren positif, hal itu terlihat dari beberapa indikator seperti PMI manufaktur yang terus ekspansif, neraca perdagangan yang surplus, serta inflasi yang terjaga.
Kita terus memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang terarah, termasuk stimulus kuartal IV/2025, sekaligus mendorong ekspor yang bernilai tambah dan menjaga ketahanan sektor padat karya untuk mengoptimalkan kontribusi pada ekonomi nasional,”
Febrio.
Adapun untuk aktivitas manufaktur Indonesia terus menunjukkan penguatan selama empat bulan terakhir, dengan PMI Manufaktur Indonesia tercatat ekspansif pada November 2025 di level 53,3.
Penguatan itu didorong oleh meningkatnya produksi, penyerapan tenaga kerja, dan aktivitas pembelian menjelang akhir tahun.
Ia menjelaskan, beberapa negara mitra dagang utama Indonesia juga mencatatkan ekspansi, seperti India (57,4) dan Amerika (51,9).
Kemudian di kawasan, negara-negara ASEAN menunjukkan penguatan aktivitas industri seperti, Thailand (56,8), Vietnam (53,8), dan Malaysia (50,1).
Sementara itu, surplus neraca perdagangan Oktober 2025 menunjukkan bahwa pondasi ekonomi yang kuat dan optimis.
Tercatat total nilai ekspor Indonesia secara kumulatif sebesar US$234,0 miliar, atau naik 7,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Sedangkan inflasi November 2025 tercatat melambat ke 2,72 persen secara year on year (yoy), lebih rendah dari Oktober 2,86 persen yoy, yang sejalan dengan meredanya tekanan volatile food yang turun ke 5,48 persen yoy) dari 6,59 persen yoy.
Meskipun begitu, Pemerintah terus mengantisipasi terjadinya gejolak harga seiring masuknya musim hujan yang dapat berdampak pada produksi pangan,”
Febrio.
Di samping itu, Febrio mengatakan pemerintah terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Hal itu dengan mendorong daya saing ekspor nasional, serta menjaga pasokan domestik terutama memastikan ketersediaan pangan agar tercipta harga yang stabil.
Pemerintah terus mencermati dinamika perekonomian global serta menyiapkan langkah untuk terus mendorong peningkatan daya saing produk ekspor nasional, keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, serta diversifikasi mitra dagang utama melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional,”
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan.


