Ketupat menjadi salah satu hidangan yang tidak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia. Makanan berbahan dasar beras yang dimasak dalam anyaman daun kelapa muda atau janur ini bukan sekadar pelengkap sajian hari raya, tetapi juga memiliki makna budaya dan filosofi yang mendalam.
Di berbagai daerah, ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam, rendang, atau sayur bersantan sebagai hidangan khas yang dinikmati bersama keluarga setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Meski sudah menjadu tradisi turun menurun, masih banyak yang belum paham mengenai sejarah dan filosofi sajian ketupat di momen Lebaran. Nah kali ini owrite akan merangkumnya. Berikut ulasannya dari berbagai sumber, Senin, 16 Maret 2026.
Sejarah Sajian Ketupat di Indonesia Saat Lebaran
Sajian ketupan di Hari Raya Lebaran awalnya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yang merupakan Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Dahulu, Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media dakwah, menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.
Pada masa itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dirayakan pada hari Idulfitri, sedangkan Bakda Kupat berlangsung seminggu setelahnya.
Dalam tradisi ini, masyarakat membuat ketupat dan membagikannya kepada tetangga sebagai bentuk kebersamaan dan permohonan maaf.
Makna Filosofis Ketupat
Tak hanya sekedar hidangan, ketupat juga memiliki filosofis yang mendalam. Anyaman daun kelapa yang membungkus ketupat melambangkan kesalahan manusia, sedangkan isi ketupat yang putih setelah dimasak melambangkan hati yang bersih setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat, yang merupakan kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Laku papat merujuk pada empat ajaran utama dalam Islam, yakni:
1. Lebaran – Melambangkan selesainya ibadah puasa Ramadan.
2. Luberan – Rezeki yang melimpah setelah berbagi dengan sesama.
3. Leburan – Hati yang bersih setelah saling memaafkan.
4. Laburan – Kesucian seperti kapur putih setelah menjalankan ibadah puasa.
Ketupat dan Tradisi Lebaran di Indonesia
Kini tradisi ketupat saat Lebaran sudah menyebar di berbagai daerah Indonesia. Di Sumatra dan Kalimantan, ketupat disajikan bersama opor ayam, rendang, dan gulai.
Di Bali, ketupat dikenal sebagai tipat dan sering digunakan dalam upacara adat Hindu. Sementara itu, di daerah pesisir, ketupat juga menjadi bagian dari tradisi sedekah laut.
Hingga saat ini, ketupat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri. Selain sebagai hidangan khas, ketupat juga menjadi simbol kebersamaan, kesucian hati, dan saling memaafkan setelah menjalani bulan Ramadan.
Ketupat bukan sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.
Ketupat menjadi simbol kebersamaan, kebersihan hati, dan permohonan maaf di hari kemenangan. Tak heran jika hingga kini, ketupat tetap menjadi hidangan khas yang selalu hadir dalam perayaan Lebaran.
Makna Filosofis Ketupat saat Lebaran
Ketupat menjadi salah satu hidangan yang tidak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia. Makanan berbahan dasar beras yang dimasak dalam anyaman daun kelapa muda atau janur ini bukan sekadar pelengkap sajian hari raya, tetapi juga memiliki makna budaya dan filosofi yang mendalam.
Di berbagai daerah, ketupat biasanya disajikan bersama opor ayam, rendang, atau sayur bersantan sebagai hidangan khas yang dinikmati bersama keluarga setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
Meski sudah menjadu tradisi turun menurun, masih banyak yang belum paham mengenai sejarah dan filosofi sajian ketupat di momen Lebaran. Nah kali ini owrite akan merangkumnya. Berikut ulasannya dari berbagai sumber, Senin, 16 Maret 2026.
Sajian Ketupat di Indonesia Saat Lebaran
Sajian ketupan di Hari Raya Lebaran awalnya diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, yang merupakan Wali Songo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa.
Dahulu, Sunan Kalijaga menggunakan ketupat sebagai media dakwah, menggabungkan ajaran Islam dengan budaya lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.
Pada masa itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dirayakan pada hari Idulfitri, sedangkan Bakda Kupat berlangsung seminggu setelahnya.
Dalam tradisi ini, masyarakat membuat ketupat dan membagikannya kepada tetangga sebagai bentuk kebersamaan dan permohonan maaf.
Makna Filosofis Ketupat
Tak hanya sekedar hidangan, ketupat juga memiliki filosofis yang mendalam. Anyaman daun kelapa yang membungkus ketupat melambangkan kesalahan manusia, sedangkan isi ketupat yang putih setelah dimasak melambangkan hati yang bersih setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Dalam bahasa Jawa, ketupat disebut kupat, yang merupakan kependekan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).
Laku papat merujuk pada empat ajaran utama dalam Islam, yakni:
- Lebaran – Melambangkan selesainya ibadah puasa Ramadan.
- Luberan – Rezeki yang melimpah setelah berbagi dengan sesama.
- Leburan – Hati yang bersih setelah saling memaafkan.
- Laburan – Kesucian seperti kapur putih setelah menjalankan ibadah puasa.
Ketupat dan Tradisi Lebaran
Kini tradisi ketupat saat Lebaran sudah menyebar di berbagai daerah Indonesia. Di Sumatra dan Kalimantan, ketupat disajikan bersama opor ayam, rendang, dan gulai.
Di Bali, ketupat dikenal sebagai tipat dan sering digunakan dalam upacara adat Hindu.
Sementara itu, di daerah pesisir, ketupat juga menjadi bagian dari tradisi sedekah laut.
Hingga saat ini, ketupat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri. Selain sebagai hidangan khas, ketupat juga menjadi simbol kebersamaan, kesucian hati, dan saling memaafkan setelah menjalani bulan Ramadan.
Ketupat bukan sekadar makanan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.
Ketupat menjadi simbol kebersamaan, kebersihan hati, dan permohonan maaf di hari kemenangan. Tak heran jika hingga kini, ketupat tetap menjadi hidangan khas yang selalu hadir dalam perayaan Lebaran.
