Perayaan Nyepi tahun ini akan berlangsung pada 19 Maret 2026. Jelang Nyepi, biasanya umat Hindu akan menggelar tradisi pawai ogoh-ogoh.
Ogoh-ogoh sendiri awalnya merupakan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna). Buta Yadnya merupakan rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia.
Dalam rangkaian Buta Yadnya, terdapat tradisi pawai ogoh-ogoh yang kemudian berkembang menjadi festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.
Dilansir dari Indonesia Kaya, Buta Yadnya terdiri dari dua tahapan, yaitu ritual mecaru (pecaruan) dan ngrupuk (pengerupukan). Mecaru merupakan upacara persembahan aneka sesajian (caru) kepada buta kala.
Upacara ini dilakukan dari tingkatan keluarga, banjar, kecamatan, kabupaten, kota, hingga tingkat provinsi.
Ngrupuk adalah ritual berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai-ramai.
Ritual ngrupuk yang biasa dilakukan bersamaan dengan arak-arakan ogoh-ogoh ini bertujuan agar buta kala beserta segala unsur negatif lainnya menjauh dan tidak mengganggu kehidupan umat manusia.
Untuk lebih jelasnya, owrite akan merangkum sejarah dan makna tradisi ogoh-ogoh. Berikut ulasannya, Selasa, 17 Maret 2026.
Sejarah Ogoh-Ogoh
Dalam bahasa Bali, ogoh-ogoh berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Ogoh-ogoh ini adalah patung Lelakut yang berfungsi untuk mengusir burung oleh petani di sawah.
Ogoh-ogoh dibuat sebagai simbol Butha Kala yang umum ditampilkan dengan tubuh besar, kuku panjang, dan bertaring, wajah yang seram, dan rambut yang berantakan.
Butha Kala dalam ajaran Hindu Dharma adalah istilah yang digunakan untuk merepresentasikan kekuatan alam semesta dan waktu yang begitu besar dan tak terbantahkan.
Konon, tradisi ini berasal dari tradisi Barong Landung dan atraksi Ndong-Nding Di Kabupaten Gianyar dan Karangasem dan sudah mengakar sejak dulu.
Makna Unik dibalik Ogoh-Ogoh
Kesenian ogoh-ogoh sudah melekat pada kepercayaan agama Hindu Dharma serta adat istiadat masyarakat Bali. Kehadiran ogoh-ogoh berkaitan dengan upacara Tawur Kesanga (penyucian jiwa dan raga dari berbagai perbuatan dosa).
Ketika sebuah ogoh-ogoh selesai dibuat, Ogoh-ogoh tersebut akan didoakan terlebih dahulu, dan diarak keliling desa dengan suara riuh menuju Sema, tempat pembakaran jenazah.
Di sanalah setiap ogoh-ogoh yang sudah diarak akan dibakar untuk menetralisir energi negatif yang ada di dalamnya.
Selain mengandung unsur pengharapan dan doa, tradisi ogoh-ogoh juga menjadi sarana pemersatu bagi masyarakat Bali. Hal ini menjadi manifestasi dimensi sosial masyarakat Bali yang penuh kekeluargaan.
Selain itu, karena proses pembuatan ogoh-ogoh yang rumit, dalam proses pembuatannya, diperlukan kekompakan dari seluruh warga, sehingga menciptakan gotong royong dan saling peduli.
Pawai Ogoh-Ogoh
Sejak tahun 1985, pawai ogoh-ogoh membawa semarak kemeriahan bagi masyarakat Bali. Seiring berjalannya waktu, ogoh-ogoh buka hanya sebagai perwujudan Butha Kala, tapi juga hadir dalam bentuk yang lebih kontemporer, seperti tokoh-tokoh yang dibenci masyarakat atau tokoh fiktif yang melambangkan kejahatan.
Kemeriahan pawai Ogoh-ogoh menarik perhatian banyak orang, termasuk para wisatawan domestik dan internasional. Sehingga banyak yang menunggu pawai Ogoh-ogoh saat penyambutan Hari Raya Nyepi.
