Kalau ada satu oleh-oleh yang hampir selalu diburu wisatawan saat berkunjung ke Medan, Sumater Utara jawabannya pasti Bika Ambon. Kue tradisional ini sudah lama menjadi ikon kuliner Kota Medan dan seolah wajib dibawa pulang setelah liburan.
Sekilas tampilannya memang sederhana. Namun, begitu dipotong, kamu akan menemukan tekstur yang khas dengan rongga-rongga menyerupai sarang lebah. Rasanya pun unik, kenyal, lembut, berpadu dengan aroma santan dan daun jeruk yang begitu menggoda. Nggak heran kalau sekali mencicipi, rasanya ingin tambah lagi.
Tapi, pernah nggak sih kamu bertanya-tanya, kenapa namanya Bika Ambon, padahal kue ini justru berasal dari Medan, bukan Ambon, Maluku? Nah, ternyata ada cerita menarik di balik nama legendaris tersebut.
Misteri di Balik Nama Bika Ambon
Dilansir dari Journal of Ethnic Foods, hingga kini belum ada penjelasan yang benar-benar pasti mengenai asal-usul nama Bika Ambon.
Salah satu cerita yang paling populer menyebutkan bahwa kue ini pertama kali dibuat oleh seorang perempuan keturunan Tionghoa yang tinggal di kawasan Jalan Ambon, Medan. Karena dibuat dan dijual di daerah tersebut, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Bika Ambon.
Namun, ada teori lain yang tak kalah menarik. Sejumlah peneliti menduga kata “bika” berasal dari bahasa Belanda yang merujuk pada bentuk menyerupai sarang lebah. Jika diperhatikan, bagian dalam Bika Ambon memang dipenuhi rongga-rongga kecil yang sangat mirip honeycomb.
Meski berbagai teori terus bermunculan, hingga kini asal-usul nama Bika Ambon masih menjadi misteri yang justru membuat kue ini semakin menarik untuk dikenang.
Teksturnya Unik, Rasanya Sulit Dilupakan
Kalau belum pernah mencicipinya, mungkin kamu akan mengira Bika Ambon hanyalah kue biasa.
Padahal, keistimewaannya justru terletak pada teksturnya. Saat dipotong, bagian dalamnya dipenuhi rongga-rongga cantik yang terbentuk secara alami. Teksturnya kenyal, tetapi tetap lembut dan tidak membuat tenggorokan terasa seret.
Ditambah lagi aroma santan yang berpadu dengan daun jeruk menciptakan cita rasa khas yang sulit ditemukan pada kue lainnya. Sementara bagian atasnya yang sedikit kecokelatan menghadirkan sensasi renyah tipis yang membuat setiap gigitan terasa semakin nikmat.
Tak heran jika banyak orang mengatakan bahwa setiap Bika Ambon memiliki karakter rasa yang berbeda.
Ternyata Membuat Bika Ambon Tidak Semudah Kelihatannya
Di balik rasanya yang lezat, proses pembuatan Bika Ambon ternyata membutuhkan kesabaran ekstra.
Adonannya dibuat dari campuran tepung sagu atau tapioka, tepung terigu, santan, telur, gula, dan ragi. Setelah semua bahan tercampur, adonan tidak langsung dipanggang, melainkan harus melalui proses fermentasi selama beberapa jam.
Nah, di sinilah rahasia utama tekstur khas Bika Ambon. Jika waktu fermentasi terlalu singkat, rongga-rongga cantiknya tidak akan terbentuk sempurna. Sebaliknya, jika terlalu lama, rasa kue justru bisa berubah menjadi sedikit pahit.
Karena itu, membuat Bika Ambon membutuhkan ketelitian dan ketepatan agar menghasilkan tekstur serta cita rasa terbaik.
Fakta Menarik yang Belum Banyak Diketahui
Tahukah kamu? Pada masa lalu, proses fermentasi Bika Ambon dipercaya menggunakan tuak.
Namun seiring perkembangan zaman, sebagian besar produsen menggantinya dengan ragi. Selain menghasilkan kualitas yang baik, penggunaan ragi juga membuat produk lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.
Kini, banyak produsen Bika Ambon bahkan telah mengantongi sertifikasi halal sehingga masyarakat bisa menikmatinya dengan lebih tenang.
Kalau dulu Bika Ambon identik dengan rasa original, sekarang pilihannya jauh lebih beragam.
Mulai dari pandan, cokelat, keju, vanila, stroberi, madu, hingga durian bisa kamu temukan dengan mudah. Meski begitu, rasa original tetap menjadi favorit banyak orang karena dianggap paling mempertahankan cita rasa autentik khas Medan.
Jalan Mojopahit, Surganya Pecinta Bika Ambon
Di tengah menjamurnya berbagai oleh-oleh modern, Bika Ambon tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu ikon kuliner Medan.
Salah satu tempat yang paling terkenal untuk berburu Bika Ambon adalah kawasan Jalan Mojopahit. Di sepanjang jalan ini berdiri deretan toko legendaris yang telah menjual Bika Ambon selama puluhan tahun.
Tak sedikit wisatawan yang sengaja mampir ke kawasan tersebut sebelum pulang demi membawa oleh-oleh khas Medan yang satu ini.
Bagi banyak orang, rasanya belum lengkap meninggalkan Medan tanpa membawa sekotak Bika Ambon.
Bukan hanya karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena kue ini menyimpan cerita panjang tentang sejarah, budaya, hingga tradisi kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menariknya lagi, meski kini Bika Ambon sudah bisa ditemukan di berbagai kota di Indonesia, banyak orang tetap rela mengantre untuk membeli langsung di Medan karena percaya cita rasanya jauh lebih autentik.
Jadi, kalau suatu hari nanti kamu berkesempatan berkunjung ke Medan, jangan lupa masukkan Bika Ambon ke dalam daftar oleh-oleh wajib. Siapa tahu, dari satu gigitan kamu juga ikut jatuh cinta pada cerita panjang yang tersimpan di balik kue legendaris ini.






















