Kalau dengar kata Debus, mungkin yang langsung terlintas di kepala adalah pertunjukan ekstrem yang nggak bisa masuk ke logika kita.
Karena pertunjukan ini memang identik dengan adegan orang ditusuk besi, disayat golok, berjalan di atas bara api, bahkan makan pecahan kaca, tapi tubuhnya masih terlihat fine-fine aja.
Buat Gen Z, pemandangan ini mungkin terasa seperti real life cheat code atau seperti melihat efek CGI di film aksi secara langsung. Padahal, Debus itu bukan sulap, bukan juga sekadar konten yang sengaja dibuat demi viral.
Di balik atraksi yang bikin geleng-geleng kepala itu, ternyata tersimpan sejarah panjang yang sudah diwariskan masyarakat Banten selama ratusan tahun lamanya.
Debus Tak Hanya Atraksi
Banyak orang mengira Debus itu pertunjukan adu nyali. Tapi faktanya, kesenian ini awalnya menjadi media penyebaran agama Islam di Banten.
Menurut Portal Resmi Provinsi Banten, Debus berkaitan erat dengan pengamalan Tarekat Rifaiyah yang dibawa ulama Nuruddin Ar-Raniry pada abad ke-16.
Para pengikut tarekat tersebut meyakini bahwa segala kekuatan berasal dari Allah SWT. Karena itu, mereka mengamalkan kalimat “Laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim”, yang artinya tidak ada daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah SWT. Keyakinan inilah yang kemudian jadi fondasi utama dalam pertunjukan Debus.
Apa Rahasia Pemain Debus Bisa Kebal?
Kalau berharap jawabannya karena ilmu sihir atau trik sulap, mungkin kamu bakal kecewa.
Karena menurut tradisi Debus, makna kebal bukan berasal dari kekuatan fisik semata. Para pemain percaya kemampuan tersebut lahir dari perpaduan antara keimanan, ketabahan, kedisiplinan, dan latihan yang dijalani secara serius.
Maka dari itu, sebelum tampil pemain Debus biasanya akan menjalani berbagai pantangan selama satu hingga dua minggu:
- Tidak minum minuman keras,
- Tidak berjudi,
- Tidak mencuri,
- Menjaga perilaku dan menahan hawa nafsu.
Semua itu dilakukan sebagai bentuk penyucian diri sebelum melakukan pertunjukan. Jadi, kalau dipikir-pikir, Debus ini lebih mirip latihan mental level maksimal daripada sekadar aksi ekstrem.
Berawal dari Medan Dakwah
Yang menarik, Debus juga pernah menjadi bagian dari sejarah perjuangan rakyat Banten. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa sekitar abad ke-17, Debus digunakan sebagai latihan perang bagi para prajurit untuk membangkitkan keberanian melawan penjajah Belanda.
Bahkan, kata Debus dipercaya berasal dari kata “tembus” yang merujuk pada alat berbahan besi sepanjang sekitar 40 sentimeter yang ujungnya dibuat runcing.
Dalam pertunjukannya, penonton akan disuguhi berbagai aksi yang bikin jantung ikut deg-degan, seperti atraksi:
- menusuk perut menggunakan Debus,
- menyayat tubuh dengan golok atau pisau,
- berjalan di atas bara api,
- membakar tubuh dengan minyak tanah,
- memakan kaca atau bola lampu,
- memanjat tangga yang terbuat dari mata golok tajam tanpa alas kaki,
- menggoreng telur di atas kepala, dan
- memecahkan kelapa menggunakan kepala sendiri.
Kalau baru pertama kali melihatnya, reaksi yang muncul biasanya cuma satu: “Kok bisa, ya?”
Debus Juga Punya Ritual Khusus
Sebelum atraksi dimulai, pertunjukan Debus akan diawali dengan lagu tradisional pembuka atau gembung.
Setelah itu dilanjutkan dengan zikir dan macapat yang berisi pujian kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW sebagai doa keselamatan. Barulah setelah itu dimainkan pencak silat sebelum masuk ke atraksi utama.
Selama pertunjukan berlangsung, suasana akan semakin hidup dengan iringan alat musik tradisional seperti gendang besar, gendang kecil, rebana, seruling, dan kecrek.
Pertunjukan juga biasanya dipimpin oleh seorang Syekh, didampingi para pezikir, pemain, serta penabuh musik.
Dengan adanya era media sosial seperti sekarang ini, ketika banyak orang berlomba mencari sensasi demi viral, Debus justru menunjukkan bahwa budaya lokal sudah menghadirkan pertunjukan spektakuler jauh sebelum lahirnya internet.
Bedanya, Debus tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membawa pesan tentang keberanian, disiplin, spiritualitas, dan keteguhan hati.
Tak heran jika Debus Banten telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.






















