Setiap provinsi di Indonesia memang punya kekhasan dan keunikannya masing-masing. Hal ini bisa dilihat dari rumah adatnya.
Menariknya, jika sebagian besar provinsi hanya memiliki satu jenis rumah adat, Sulawesi Tengah (Sulteng) justru tampil beda.
Provinsi ini punya tiga jenis rumah adat sekaligus, yaitu Rumah Tambi, Rumah Souraja (Banua Oge), dan Rumah Lobo.
Keberagaman ini sejalan dengan kekayaan bahasanya, karena Sulteng dikenal sebagai salah satu provinsi dengan bahasa daerah terbanyak di Indonesia.
Setidaknya ada 21 bahasa daerah di Sulteng yang masih lestari hingga kini. Bahasa-bahasa tersebut dituturkan oleh berbagai suku seperti Kaili, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, Banggai, Balantak, Buol, hingga Toli-Toli.
Kekayaan budaya inilah yang turut mewarnai arsitektur bangunan tradisionalnya.
Dari ketiga rumah adat tersebut, Rumah Souraja milik suku Kaili menjadi salah satu yang paling menarik untuk dikenali. Tak hanya memiliki bentuk yang khas, rumah panggung ini juga menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan masyarakat setempat.
Tempat Tinggal Para Bangsawan


Sumber foto: Instagram/ @kurni625
Mengutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, kata Souraja secara harfiah berarti “rumah besar”. Dulunya bangunan ini difungsikan sebagai tempat tinggal khusus bagi para bangsawan atau raja (magau) beserta keluarganya.
Dari segi struktur, Rumah Souraja ditopang tiang-tiang kayu keras, seperti kayu ulin atau bayan. Atapnya dibuat berbentuk piramid segitiga dengan papan berukir yang disebut panapiri.
Sementara pada ujung bubungan atap, terdapat ukiran mahkota yang dikenal sebagai bangko-bangko yang menjadi salah satu ciri khas Rumah Souraja.
Tak hanya kokoh, bangunan ini juga dirancang dengan mempertimbangkan fungsi setiap ruang serta nilai-nilai yang dijunjung oleh masyarakat suku Kaili.
Memiliki Tiga Ruang Utama
Masuk ke bagian dalam, Rumah Souraja terbagi menjadi tiga area utama yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.
Bagian paling depan disebut Lonta Karawana, yaitu ruang untuk menerima tamu. Pada masa lalu, ruangan ini sengaja dibiarkan tanpa perabot. Nantinya, pemilik rumah cukup membentangkan tikar sebagai alas duduk sekaligus tempat beristirahat bagi tamu yang menginap.
Selanjutnya, ada Lonta Tatangana, ruang yang digunakan untuk menerima kerabat dan keluarga dekat.
Selain itu, ada juga Lonta Rorana yang berada di bagian belakang dan berfungsi sebagai ruang makan. Di sudut ruangan ini biasanya dibuat kamar tidur bagi anak perempuan atau gadis yang dirancang agar memudahkan orang tua untuk mengawasi anak mereka.
Dapurnya Dibangun Terpisah
Keunikan Rumah Souraja juga terlihat dari letak dapurnya. Dapur, atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan uruang avu, dibuat tidak menyatu dengan bangunan utama, melainkan dibangun di bagian belakang rumah.
Bangunan dapur ini dihubungkan dengan rumah utama melalui jembatan beratap yang disebut hambate atau jongke. Di sekitarnya terdapat ruang terbuka bernama pekuntu yang biasa dimanfaatkan anggota keluarga untuk bersantai atau menikmati udara segar.
Sementara itu, ada juga kolong rumah yang bisa digunakan sebagai tempat bekerja maupun menyimpan berbagai keperluan. Ada pula bagian loteng yang difungsikan sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka keluarga.
Makna Ukiran yang Ada di Bangunan
Kecantikan Rumah Souraja tak hanya tampak dari gagahnya bangunan panggung, tetapi juga dari hiasan ukiran yang memanjakan mata di dinding, pintu, jendela, hingga atap.
Motif flora berupa bunga dan dedaunan, serta sentuhan kaligrafi Arab menjadi ornamen yang paling dominan. Lebih dari sekadar hiasan visual, tiap lekuk ukirannya merupakan simbol kesuburan, kemuliaan, keramahtamahan, sekaligus doa bagi kesejahteraan para penghuninya.
Tak hanya menjadi tempat tinggal para bangsawan pada masanya, Rumah Adat Souraja juga menjadi bukti kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Sulawesi Tengah yang tetap terjaga hingga kini.
Setiap sudut bangunan, mulai dari tata ruang hingga ukiran yang menghiasinya, menyimpan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.




















