Istilah narsistik sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terkesan egois, suka mencari perhatian, atau terlalu fokus pada dirinya sendiri. Padahal, memiliki beberapa sifat tersebut tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Kondisi ini lebih kompleks daripada sekadar ingin dipuji atau terlihat percaya diri. NPD dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya, berhubungan dengan orang lain, serta merespons kritik maupun penolakan. Lantas seperti apa ciri narsistik? Dilansir dari laman EMC Healthcare, berikut penjelasannya.
Apa Itu NPD?
NPD atau gangguan kepribadian narsistik merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan perasaan diri yang sangat penting atau superior, kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, serta kesulitan berempati kepada orang lain.
Seseorang dengan NPD juga dapat memiliki kebutuhan yang kuat untuk mendapatkan perlakuan khusus dan pengakuan dari lingkungan sekitar. Ketika kebutuhan atau ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, mereka bisa merasa tersinggung, terhina, atau terluka.
Menurut American Psychiatric Association (APA), NPD merupakan kondisi yang lebih menetap, berat, dan bermasalah dibandingkan penggunaan istilah “narsis” dalam percakapan sehari-hari. Diagnosisnya pun perlu dilakukan oleh tenaga profesional berdasarkan evaluasi klinis.
Penyebab
Hingga kini, belum diketahui secara pasti satu penyebab utama NPD. Namun para ahli menduga beberapa faktor yang diduga berperan antara lain:
- Lingkungan dan pola asuh, termasuk pengalaman mendapatkan pujian atau kritik secara berlebihan, pola asuh yang terlalu memanjakan atau mengontrol, maupun kurang pemenuhan kebutuhan emosional.
- Riwayat keluarga, karena karakteristik kepribadian tertentu dan kerentanan terhadap gangguan mental dapat dipengaruhi oleh faktor keluarga.
- Faktor neurobiologis, termasuk kemungkinan adanya perbedaan tertentu pada struktur atau fungsi otak yang berkaitan dengan regulasi emosi, empati, dan cara seseorang memandang diri sendiri.
Meski demikian, faktor-faktor tersebut tidak berarti seseorang pasti mengalami NPD.
Kebanyakan Laki-Laki
NPD bukan kondisi yang dapat ditentukan hanya dengan melihat seseorang yang suka mencari perhatian atau senang mendapat pujian. Prevalensi gangguan ini juga berbeda-beda bergantung pada populasi dan metode penelitian yang digunakan.
Salah satu penelitian epidemiologi besar di Amerika Serikat yang melibatkan 34.653 orang dewasa menemukan prevalensi NPD sepanjang hidup sebesar 6,2 persen. Dalam penelitian tersebut, prevalensi pada laki-laki mencapai 7,7 persen, sedangkan pada perempuan sebesar 4,8 persen.
Gejala Perilaku NPD
Beberapa karakteristik yang dapat ditemukan pada NPD yakni:
- Merasa berhak mendapat perlakuan istimewa. Seringnya, mereka memiliki keyakinan bahwa dirinya pantas mendapatkan perlakuan khusus dibandingkan orang lain.
- Sangat membutuhkan pujian. Mereka mungkin berusaha menunjukkan pencapaian atau keunggulan untuk memperoleh perhatian dan validasi dari orang lain.
- Sensitif terhadap kritik. Seseorang dengan NPD dapat sangat sensitif terhadap kritik, penolakan, atau kegagalan. Situasi tersebut dapat memunculkan rasa malu, tersinggung, marah, atau terluka.
- Memanfaatkan orang lain. Seorang NPD dapat menggunakan orang lain untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan pribadi.
- Sulit berempati. Kesulitan memahami atau mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan orang lain merupakan salah satu karakteristik penting NPD.
- Merasa lebih unggul. Mereka memandang dirinya sebagai individu yang lebih istimewa, superior, atau hanya layak berhubungan dengan orang yang dianggap memiliki status atau kemampuan tertentu.
- Mereka dapat merasa iri terhadap pencapaian orang lain atau meyakini bahwa orang lain iri terhadap dirinya.
Bukan Sekadar Narsis
Seseorang yang suka mengunggah pencapaian, senang mendapat pujian, percaya diri, atau sesekali bersikap egois belum tentu mengalami NPD. Gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi klinis dengan pola yang menetap dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan.
NPD dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama hubungan interpersonal. Penelitian juga menunjukkan adanya hubungan NPD dengan gangguan suasana hati, kecemasan, penggunaan zat, serta berbagai persoalan dalam kehidupan sosial, pekerjaan, dan hubungan.
Diagnosis NPD membutuhkan evaluasi oleh tenaga profesional kesehatan mental, seperti psikolog klinis atau psikiater. Memahami NPD bukan sekadar tentang mengenali orang yang suka dipuji atau terlihat percaya diri, tetapi juga memahami bahwa gangguan kepribadian merupakan kondisi kompleks dan membutuhkan penilaian klinis.






















