Ahli Geologi Lingkungan dan Kebencanaan, Dwikorita Karnawati menjelaskan alasan Sumatera berdampak paling parah akibat siklon tropis.
Ia mengatakan hal itu karena adanya faktor ilmiah dan non ilmiah.
Yang alamiah, sebetulnya, wilayah di Sumatera, mulai dari Aceh sampai Sumatera Selatan, itu lahannya memang rentan. Karena pulau itu terbentuk akibat tumbukan Lempeng Tektonik, Lempeng Samudera, Lempeng Indo-Australia istilahnya, menumpuk di bawah lempeng Benua Asia,”
Dwikorita kepada Owrite, Senin 1 Desember 2025.
Dwikorita menambahkan, akibat tumbukan itu, batuan-batuan yang dahulunya berada di dasar laut, terangkat membumbung tinggi membentuk pegunungan, menjadi pulau Sumatera.
Akibatnya terjadilah perbukitan barisan. Kemudian perbukitan barisan itu perbukitan yang terbentuk oleh patahan aktif, Sesar Semangku.
Singkat kata, lereng-lereng pegunungan dan perbukitan di wilayah Sumatera, tidak hanya Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, itu mulai dari ujung utara sampai Lampung, itu rentan. Rentan mudah bergerak, karena tersusun oleh batuan yang terpatah-patahkan akibat tumbukan lempeng, tersusun oleh batuan yang rapuh seperti itu, sehingga sangat mudah bergerak bila dipicu oleh hujan yang lebat,”
Dwikorita.
Lebih lanjut ia mengatakan kondisi makin parah ketika lahan rusak, contohnya hutan terbuka. Siklon tropis senyar yang mengakibatkan curah hujan ekstrim atau tinggi, mengakibatkan air hujan yang meresap itu menekan, mendesak, dan mendorong masa tanah dan batuan pada lereng untuk bergerak, menjadi longsor.
Kemudian material-material yang longsor itu terakumulasi di lembah-lembah luar sungai, lembah-lembah yang sempit dan membendung lembah-lembah itu. Dampaknya apa? Setelah longsor banyak terbentuk bendung-bendung air dari air hujan tadi,”
Dwikorita.
Karena hujannya turun cukup lama, maka bendung itu akhirnya jebol dan terjadilah banjir bandang dalam kecepatan yang tinggi,”
Dwikorita.
Kondisi tersebut ia sampaikan berdasarkan hasil studi yang pernah dilakukan di Taman Nasional Bukit Lawang, Taman Nasional Gunung Leuser di Sungai Tahoro, Wasior, Jember Jawa Timur, dan di beberapa lokasi di Indonesia.
Jadi akibat diawali dengan longsor-longsor pada lahan yang rentan kemudian curah hujannya tinggi, turun beberapa hari turun terus-menerus, akhirnya akumulasi air hujan itu yang terbendung oleh material longsor tadi menjadi jebol material longsornya,”
Dwikorita.
Untuk aspek non ilmiah sendiri, Dwikorita menyebut banyak data yang menunjukkan lahannya itu juga sudah mengalami deforestasi.
Deforestasi atau terbukanya lahan itu juga menambah makin parah kondisi yang alamiah itu menjadi semakin parah dan dampaknya makin dahsyat.
Dan periode ulangnya itu menjadi makin pendek. Jadi waktu kami melakukan studi di Bahoro, waktu itu kami mendapatkan data informasi bahwa periode ulangnya sekitar 50 tahunan. Tapi dengan terbukanya lahan yang harusnya terjadi 50 tahun kemudian itu menjadi semakin cepat terjadi,”
Dwikorita.
Menurutnya, pengaruh manusia itu memperparah kondisi alam yang memang sudah rentan, sebab tanpa diganggu pun alamnya itu sudah rentan.
Seharusnya kalau kita memiliki alam yang rentan, karena kita berada di ring of fires, pulau-pulau kita itu terbentuk dari tumbukan-tumbukan lereng, berarti lereng-lereng pegunungan kita ini lereng yang rapuh rentan, harusnya kita ini menjaga ekologi,”
Dwikorita.
Ia menyebut untuk mengatasi itu masyarakat disarankan untuk menjaga alam agar tidak longsor.


