Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Rabu, 5 Agu 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Korupsi
  • prabowo
  • MBG
  • Piala Dunia 2026
  • Purbaya
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Daerah / (Part II) Satgas Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Prabowo: Beban Baru Kejar Ilusi 8 Persen
Daerah

(Part II) Satgas Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Prabowo: Beban Baru Kejar Ilusi 8 Persen

owrite-adi-briantikaAmin-Suciady-Owrite
Last updated: April 27, 2026 3:23 pm
By
Adi Briantika
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
3 bulan lalu
Share
Gambar ilustrasi saham
Gambar ilustrasi saham (Sumber: blog.bankmega.com)
SHARE

Apa Fungsi Strategis Polri?

Dalam Satuan itu terdapat Polri. Pakar Kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto, mencermati keterlibatan Korps Bhayangkara dalam satuan anyar bentukan Prabowo.

Daftar isi Konten
  • Apa Fungsi Strategis Polri?
  • Satu Persen pun Tak Sampai
  • Sinyal Buruk Koordinasi Kabinet

Polri tentu bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat dan penegakan hukum. Pembentukan Satgas di tubuh Polri secara khusus, adalah instrumen operasional untuk menangani persoalan spesifik, lintas fungsi, dan membutuhkan kecepatan di luar mekanisme rutin organisasi yang bersifat task force dan ad hoc,”

kata Bambang kepada owrite.id.

Satgas memungkinkan integrasi intelijen, pencegahan, dan penegakan hukum dalam satu komando yang lebih ringkas, sehingga respons bisa lebih cepat dan terkoordinasi.

Karena itu, lanjut Bambang, Satgas idealnya bersifat sementara (time-bound), berbasis target yang jelas, dan dibentuk hanya ketika struktur reguler tidak cukup adaptif menghadapi suatu isu, seperti pengamanan haji, pemilu, atau kejahatan berkompleksitas tinggi.

Namun, yang perlu dikritisi, Satgas sering kali kehilangan fungsi strategisnya jika dibentuk tanpa definisi masalah yang presisi, tanpa indikator keberhasilan, dan tanpa batas waktu yang tegas. 

Akibatnya terjadi tumpang tindih kewenangan, pemborosan sumber daya, bahkan sekadar menjadi respons simbolis institusi,”

ujar Bambang. 

Agar efektif, setiap Satgas harus memiliki mandat yang spesifik, komando operasional tunggal, indikator kinerja berbasis hasil (bukan sekadar aktivitas), serta mekanisme evaluasi dan pembubaran yang jelas.

Tanpa itu, memperbanyak Satgas justru menjadi tanda struktur kepolisian belum cukup kuat dan adaptif dalam menjalankan fungsi utama. 

Di sisi lain, pembentukan Satgas tersebut juga bisa dimaknai dalam kerangka hegemoni kekuasaan; bukan hanya sebagai instrumen teknis keamanan, tapi juga mekanisme konsolidasi kontrol negara atas ruang sosial. 

Dengan membingkai isu tertentu sebagai “prioritas khusus” yang membutuhkan respons cepat dan terpusat, negara membangun legitimasi untuk memperluas intervensi dan pengawasan, sekaligus membentuk persepsi publik tentang ancaman dan ketertiban.

Bambang berpendapat ini sejalan dengan logika hegemoni: dominasi tidak hanya dijalankan melalui koersif, tapi juga melalui persetujuan yang dibentuk lewat narasi, simbol, dan praktik institusional seperti Satgas. 

Risikonya, jika tidak dikontrol, Satgas dapat bergeser dari pemecah masalah menjadi alat reproduksi kekuasaan—memperkuat kontrol vertikal, menormalisasi tindakan luar biasa dan mereduksi ruang kritik publik. 

Karena itu, penting memastikan pembentukan Satgas tetap berbasis kebutuhan objektif, memiliki batas waktu dan indikator jelas, serta berada dalam pengawasan hukum dan publik. Tanpa itu, Satgas berpotensi menjadi instrumen hegemoni yang bekerja halus: tampak teknokratis, namun sesungguhnya memperluas jangkauan kuasa negara atas masyarakat,”

terang Bambang. 

Satu Persen pun Tak Sampai

Bila Satgas ini dibentuk untuk menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi 8 persen, maka hal tersebut tak akan terealisasi. Hal itu disampaikan oleh ekonom Center of Reform Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet.

Saya melihatnya sebagai alat koordinasi yang memang dibutuhkan, tapi jangan dibayangkan sebagai mesin yang bisa langsung mendorong ekonomi ke (pertumbuhan) 8 persen. Itu ekspektasi terlalu tinggi,”

ucap dia kepada owrite.id.

Demi mencapai pertumbuhan ambisius Prabowo, permasalahan bukan hanya soal koordinasi yang berantakan, melainkan ada sejumlah masalah.

Antara lain produktivitas rendah, tenaga kerja belum terserap optimal, investasi yang masuk makin padat modal, bahkan komoditas ekspor pun berat. Problem itu semua mustahil diselesaikan hanya dengan membentuk Satgas.

Yusuf memahami tujuan dari dibentuknya Satgas ini yaitu banyak program tidak terealisasi di lapangan karena rumitnya permasalahan birokrasi. Dia menyatakan, problem eksekusi di Indonesia itu nyata.

Banyak program yang sebenarnya ada, tapi mentok di lapangan karena koordinasi lintas kementerian tidak berfungsi maksimal.

Satgas ini diharapkan bisa membantu percepatan realisasi anggaran, mendorong proyek macet, dan memaksa instansi bergerak dalam satu ritme yang sama.

Jika mimpi ini menjadi nyata alias program bisa terealisasi, maka dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meskipun sedikit sekali.

Kalau itu berjalan, dampaknya memang ada. Realistisnya kecil, mungkin bertumbuh (sekitar) 0,2 atau 0,3 persen, bukan lonjakan besar,”

kata Yusuf.

Tak lupa Yusuf mengingatkan struktur jumbo dalam Satgas tersebut: Kalau tidak diberi kewenangan yang benar-benar kuat, maka berujung hanya jadi forum rapat tambahan.

Fungsi vital dari Satgas ini sebenarnya bukan menciptakan pertumbuhan, namun memastikan perencanaan dapat melaju di tengah menyempitnya ruang fiskal dan tekanan global.

Sinyal Buruk Koordinasi Kabinet

Direktur Eksekutif The Indonesian Institute Adinda Tenriangke Muchtar menilai, keberadaan Satgas kontradiktif dengan semangat efisiensi dan mengindikasikan ada masalah tata kelola pada internal pemerintah.

Prabowo menginstrusikan efisiensi anggaran, itu menjadi gaung mutlak yang dilakukan sejak ia duduk di kursi orang nomor wahid di Bumi Pertiwi. Namun, lahirnya Satgas ini mempertegas semakin tambunnya postur pemerintahan.

Keputusan seperti ini justru menunjukkan ada permasalahan dalam sinergi, koordinasi, dan komunikasi sntara presiden dengan anak buahnya. Karena kementerian yang ada saat ini saja sangat gemuk dan itu harus akui (untuk) mengakomodasi kepentingan politik pasca pemenangan pemilu,”

kata Adinda kepada owrite.id.

Adanya pemisahan kementerian pun hasilnya tak optimal. Nyatanya, kementerian yang besar itu tidak otomatis menjawab kompleksitas masalah. Menilik pada tupoksi Satgas yang termaktub dalam Keppres, Adinda mempertanyakan urgensi pembentukannya.

Poin-poin terkait pengawasan, evaluasi, bahkan koordinasi lintas sektor bukanlah sebuah tugas darurat dan genting yang harus diakomodasi dalam “anggota keluarga” baru.

Pertanyaannya adalah selama ini sejak pemerintahan aktif dan efektif berjalan, apa yang sudah dilakukan? Hal seperti monitoring, evaluasi, realisasi anggaran, program dan lain sebagainya, seharusnya sudah mengakar dan terbawa sejak kabinet ini terbentuk,”

terang Adinda.

Jika setiap kementerian, terutama Kementerian Koordinator, menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya dan mekanisme rapat kerja berjalan efektif, maka Satgas sama sekali tak diperlukan.

jika setiap kementerian, terutama Kementerian Koordinator, menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya dan mekanisme rapat kerja berjalan efektif, maka badan ad hoc seperti Satgas sama sekali tidak diperlukan.

Kolaborasi dan strategi yang terintegrasi lintas lembaga, seharusnya ada pada tahap perencanaan, bukan di tengah jalan. Pun ada permasalahan atau dinamika dalam pelaksanaannya, maka dituntaskan tanpa harus mengeluarkan Keppres.

Problem lainnya pun muncul yakni tumpang tindih kewenangan dan pemborosan APBN. Adinda mengingatkan para anggota Satgas merupakan para pejabat negara yang telah digaji oleh negara untuk menjalankan tupoksinya.

Lantas, prioritas presiden pun dipertanyakan. Jika alasan pembentukan Satgas adalah demi mengejar Asta Cita Indonesia Emas dan ekonomi kerakyatan, mengapa tiada urgensi serupa untuk sektor krusial lainnya?

Permasalahan negeri ini bukan hanya ekonomi, tapi tata kelola dan penegakan hukum. Saya mempertanyakan, apakah presiden juga berkomitmen untuk membuat Satgas Penegakan Hukum, Satgas Reformasi Birokrasi dan sebagainya yang juga ada dalam Asta Cita?”

tutur Adinda.
Tag:EditorialPolriPrabowo SubiantoPresidensatgas percepatan ekonomiSpill
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Asred
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Polemik ‘Gerombolan Sirkus’, Deddy Sitorus Layangkan Somasi dan Ultimatum 3×24 Jam ke Pengurus KWP
By Rika Pangesti
Anggota Komisi II DPR RI Deddy Yevri Sitorus
1
BPS: Laju Ekonomi RI Kuartal II-2026 Melambat ke 5,29 Persen
By Anisa Aulia
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik M. Edy Mahmud dalam konferensi pers di kantornya, 5 Agustus 2026.
2
Narasi Tim Jokowi soal Gelar Raja di NTT Berubah-ubah, Kredibilitas Politik Terancam
By Rahmat Tunny
Presiden RI ke-7 Joko Widodo atau Jokowi saat di NTT.
3
Kenapa Makin Banyak Nyamuk di Musim Kemarau? Ini Penjelasan Ilmiahnya 
By Ani Ratnasari
Nyamuk saat musin panas
4
Viral Pasien BPJS Soroti Komentar Nakes yang Tak Berempati
By Syifa Fauziah
Petugas melayani warga peserta program BPJS Kesehatan di Kantor BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Pusat, Jakarta
5

BERITA LAINNYA

Tim SAR evakuasi warga Padang, Sumbang saat banjir.
Daerah

Banjir Terjang Padang, Hujan Lebat Berjam-jam Rendam Rumah dan Seret Kendaraan di Jalan

Kota Padang, Sumatra Barat diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada Senin, 3…

Ani RatnasariHardani Triyoga
By
Ani Ratnasari
Hardani Triyoga
1 hari lalu
Greenpeace Indonesia gelar aksi saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Daerah

Greenpeace Bentangkan Spanduk Saat GIIAS Dibuka, Isu Raja Ampat Gegerkan Panggung Otomotif

Greenpeace Indonesia menggelar aksi saat pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS)…

iren natania longdongHardani Triyoga
By
Natania Longdong
Hardani Triyoga
5 hari lalu
Suasana rapat kerja Komisi II DPR dengan Kementerian Dalam Negeri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Daerah

Gaji ‘Fosil’ vs Beban ‘Monster’: APKASI Desak Pemerintah Godok Ulang Hak Keuangan Kepala Daerah

Ketua Umum APKASI Bursah Zarnubi mendesak pemerintah merevisi aturan hak keuangan kepala…

Rika Pangestiowrite-adi-briantika
By
Rika Pangesti
Adi Briantika
5 hari lalu
Pekerja kebersihan menyapu lantai sekolah pascaledakan bom rakitan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, Selasa (14/7/2026).
Daerah

Kasus MAN 3 Padang Jadi Alarm, Psikolog Sebut Bullying Bisa Berujung Tindakan Ekstrem

Kasus seorang siswa MAN 3 Padang yang bawa bom rakitan ke sekolah…

Syifa FauziahHardani Triyoga
By
Syifa Fauziah
Hardani Triyoga
6 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up