Kasus seorang siswa MAN 3 Padang yang bawa bom rakitan ke sekolah karena diduga jadi korban bullying atau perundungan memicu keprihatinan.
Psikolog Meity Arianty menilai tindakan ekstrem itu bukan muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, aksi itu merupakan akumulasi tekanan psikologis yang tak pernah tertangani sehingga ada dorongan untuk melakukan balas dendam.
“Jadi, kemarahan hebat dan adanya dorongan balas dendam,”
kata Meity kepada Owrite, Kamis, 30 Juli 2026.
Meity menjelaskan fenomena itu dikenal sebagai bully-victim reaction yakni kondisi saat korban perundungan yang terus mengalami rasa sakit, ketidakberdayaan, dan isolasi sosial. Kondisi itu berubah menjadi pelaku kekerasan sebagai bentuk pelampiasan.
Ia mengatakan kondisi itu biasanya saat ketika korban merasa seluruh jalur penyelesaian masalah sudah gagal melindunginya. Kata dia, korban merasa tidak didengar, tak memiliki tempat mengadu, hingga kehilangan harapan.
Dengan kondisi itu memicu korban mencari cara ekstrem untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya.
Tindakan ekstrem seperti membawa bom rakitan menjadi bentuk manipulasi kontrol yang terdistorsi. Sebuah upaya dramatis untuk menghentikan penderitaannya sekaligus membalas kekuasaan yang selama ini merenggut martabatnya,”
ujarnya.
Meity menambahkan, korban yang merasa terus-menerus mengalami bullying bakal merasa tidak berdaya, sendirian, dan putus asa.
Merasa tidak punya tempat mengadu, putus asa karena tidak didengar dan merasa sendirian, maka jalan yang paling mudah ditempuh adalah membalas dengan cara yang ekstrem,”
tutur Meity.
Maka itu, ia menyampaikan kasus seperti ini semestinya jadi alarm bagi sekolah untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan bullying. Menurutnya, penanganan tak cukup hanya berfokus pada pelaku setelah insiden terjadi.
Namun, ia menekankan penting setiap korban perundungan bisa memperoleh perlindungan, pendampingan psikologis, serta saluran pengaduan yang benar-benar efektif. Dengan demikian, tak berkembang jadi tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.


























