Pemerintah bersama sejumlah unsur gabungan masih berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan.
Kondisi kering yang melanda sejumlah wilayah membuat sumber air permukaan semakin terbatas. Situasi ini kemudian mendorong pemerintah menggenjot pembangunan dan pengaktifan sumur bor untuk mendukung proses pemadaman.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan karhutla, terutama di wilayah lahan gambut.
Pemerintah membutuhkan pasokan air yang memadai untuk melakukan pembasahan dan pendinginan secara berkelanjutan di lokasi yang terbakar.
Penguatan satuan tugas darat juga dilakukan melalui penambahan sarana dan prasarana pemadaman, termasuk pembangunan serta pengaktifan sumur bor di wilayah prioritas,”
demikian keterangan tertulis yang dikutip dari laman Kementerian Kehutanan, 21 Agustus 2026.
Ketersediaan Sumber Air
Pembangunan sumur bor dilakukan untuk memperpendek jarak pengambilan air sehingga petugas dapat lebih cepat mengisi peralatan pemadaman.
Ketersediaan sumber air yang lebih dekat juga dibutuhkan untuk menjaga proses pembasahan dan pendinginan tetap berlangsung.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting dalam penanganan kebakaran di lahan gambut. Api dan bara pada lahan gambut dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga berpotensi kembali muncul apabila proses pembasahan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Karena itu, pemadaman tidak hanya dilakukan dengan mematikan api yang terlihat di permukaan. Petugas juga perlu melakukan pembasahan dan pendinginan untuk mencegah bara di dalam gambut kembali terbakar.
Pemerintah saat ini memperkuat operasi terpadu penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, pelaku usaha, relawan, dan masyarakat.
Berdasarkan data operasi, sebanyak 12.880 personel gabungan dikerahkan di tiga provinsi tersebut. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah personel terbanyak, yakni 10.700 orang, disusul Kalimantan Barat sebanyak 1.410 orang, dan Kalimantan Selatan 770 orang.
Selain pembangunan sumur bor, petugas melakukan patroli terpadu, pemeriksaan lapangan, pemadaman darat, pembasahan dan pendinginan, penyekatan area terbakar, serta penjagaan lokasi rawan untuk mencegah api kembali muncul.




















