Andre juga mengklaim pemerintah sudah mencapai swasembada untuk delapan komoditas pangan, bahkan mulai membuka peluang ekspor beras.
Ia mempersilakan pihak yang menganggap klaim swasembada pemerintah tidak sesuai kenyataan untuk datang langsung ke gudang Bulog di berbagai daerah.
Menurut dia, kondisi persediaan beras dapat diperiksa untuk melihat sejauh mana pemerintah mampu menjaga ketersediaan pangan.
Saya mau mengundang yang mengkritik bahwa kita swasembada itu data palsu. Mari datang ke gudang Bulog masing-masing yang ada di berbagai kota/kabupaten maupun provinsi,”
ujarnya.
Dia mengaku pernah mendatangi gudang Bulog di Sumatra Barat dan melihat persediaan beras yang dinilainya mencukupi. Andre menyebut berdasarkan pengecekan yang dilakukannya beberapa waktu lalu, stok beras di provinsi tersebut diperkirakan aman hingga Maret 2027.
Lebih lanjut, Andre juga mengungkapkan adanya peluang ekspor beras ke Arab Saudi. Dia mengatakan sejumlah rekannya sempat menanyakan kemungkinan Indonesia mengirimkan 500 ton beras ke negara tersebut dengan persyaratan kualitas tertentu.
Saya sampaikan ke Pak Mentan. Kata Pak Mentan, ‘Bisa. Karena kita surplus.’ Surplus,”
kata Andre mengutip percakapannya dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.
Menurut Andre, peluang ekspor tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa produksi beras dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Selain beras, Andre menyoroti kebijakan pemerintah yang menetapkan harga pembelian gabah petani sebesar Rp6.500 per kilogram. Dia menilai kebijakan tersebut merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada petani sekaligus upaya menjaga kepastian harga hasil panen.