Bank Indonesia (BI) buka suara terkait melemahnya nilai tukar rupiah yang kini hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari ini rupiah ada di level Rp16.708/USD.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan melemahnya mata uang rupiah ini dipengaruhi oleh ketidakpastian global.
BI menyoroti, government shutdown AS yang tercatat merupakan terlama dalam sejarah, inflasi yang masih tinggi, hingga Fed Fund Rate yang berpotensi tetap hingga akhir tahun.
Ketidakpastiannya masih tinggi, DXY kecenderungan terus naik. Demikian juga dengan yield dari USD bonds treasury-nya Amerika itu juga untuk yang panjang itu masih tinggi yield-nya,”
Destry dalam konferensi pers, Rabu (19/11/2025).
Destry menjelaskan, kondisi tersebut akhirnya membuat investor menghindari risiko di pasar emerging market, termasuk Indonesia. Sehingga menyebabkan arus masuk atau inflow di emerging market terbatas.
Sehingga kalau kita lihat, apa yang terjadi dengan rupiah dan beberapa mata uang di regional saat ini, memang khususnya sejak bulan Oktober sampai saat ini terus mengalami pelemahan,”
Destry.
Ia menuturkan, selain rupiah sejumlah mata uang regional juga mengalami pelemahan. Sejak Oktober 2025 pelemahan rupiah 0,48 persen.
Hari ini rupiah menguat di level 0,21 persen, kemudian Filipina 0,25 persen, dan Thailand 0,11 persen,”
Deputi Gubernur Bank Indonesia.

