Banjir bandang dan tanah longsor telah memporak-porandakan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sebanyak 753 orang dinyatakan meninggal dunia, dan 650 warga masih hilang hingga Rabu, 3 Desember 2025.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir dan tanah longsor telah menyebabkan kerusakan bangunan yang masif, serta memutus akses di berbagai titik.
Hasil studi Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan, bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera pada periode November 2025 diprediksi menimbulkan kerugian ekonomi nasional sebesar Rp68,67 triliun.
Kerugian itu mencakup kerusakan rumah penduduk, kehilangan pendapatan rumah tangga, rusaknya fasilitas infrastruktur jalan dan jembatan, serta kehilangan produksi lahan pertanian.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet mengakui banjir dan tanah longsor di Sumatera memang akan menimbulkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi. Namun, gangguan itu hanya bersifat pada ekonomi wilayah tersebut.
Secara umum, banjir dan tanah longsor di Sumatera, khususnya di wilayah Sumatera bagian utara, memang menimbulkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi setempat. Sektor yang paling terdampak biasanya perdagangan lokal, mobilitas barang, dan aktivitas harian usaha kecil,”
Yusuf kepada owrite Rabu, 3 Desember 2025.
Yusuf menilai, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 secara nasional akan cenderung terbatas. Sebab sebagian ekonomi kuartal IV sudah terealisasi sebelum bencana terjadi.
Sebagian besar aktivitas ekonomi kuartal IV sudah terealisasi sebelum bencana terjadi, sehingga gangguan yang muncul lebih terasa pada level regional ketimbang langsung menggerus angka pertumbuhan nasional secara signifikan,”
Yusuf.
Meski dampaknya cenderung terbatas, Yusuf mendesak pemerintah responsif memenuhi kebutuhan darurat, menyalurkan bantuan bagi rumah tangga terdampak, dan mempercepat pemulihan infrastruktur dasar.
Lambannya respons pemerintah justru dikhawatirkan akan berdampak ke ekonomi kuartal berikutnya.
Respons yang cepat dan terkoordinasi akan membantu menahan dampak lanjutan di wilayah Sumatera bagian utara dan mencegah gangguan ekonomi itu terbawa ke kuartal berikutnya,”
Yusuf.
Sementara itu, Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan bencana di Sumatera berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tiga provisi tersebut mencapai 7,8 persen terhadap ekonomi nasional.
Kalau kita lihat dampak banjir di Sumatera terhadap PDB, itu kalau one-off eventnya ini sendiri itu perkiranya antara minus 0,08 sampai dengan 0,12 percentage point,”
Andry dalam acara Economy Outlook Kuartal IV.
Andry menuturkan, sebelum bencana terjadi pertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan sebesar 5,1 persen. Namun, kini memunculkan risiko bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut tidak akan mencapai 5,1 persen.
Jadi kalau tadi kita lihat ekspektasi di 5,1 persen pertumbuhan ekonomi, ya memang ada downside risknya. Memang perhitungannya adalah baru terjadi di pertengahan atau di awal bulan Desember ini, ini kalkulasinya tentu saja rolling terus ya, karena kan memang kejadiannya baru dan tentunya memang estimasi dari dampak terhadap ekonominya akan sangat terus di-update ya,”
Andry dalam acara Economy Outlook Kuartal IV.
Kerugian Ekonomi Bencana Sumatera
Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira dalam laporannya membeberkan terdapat lima jenis kerugian ekonomi akibat bencana banjir Sumatra.
Pertama kerugian rumah dengan masing-masing mencapai Rp30 juta per rumah. Kedua kerugian jembatan dengan masing-masing biaya pembangunan kembali jembatan sebesar Rp1 miliar.
Ketiga kerugian pendapatan keluarga sesuai dengan pendapatan rata-rata harian masing-masing provinsi dikali dengan 20 hari kerja, keempat kerugian lahan sawah dengan kehilangan mencapai Rp6.500 per kg dengan asumsi per hektar dapat menghasilkan 7 ton. Serta kelima perbaikan jalan per 1000 meter mencapai Rp100 juta.
Secara nasional, terjadi dampak penurunan produk domestik bruto mencapai Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29 persen,”
Bhima dalam studinya.
Adapun secara spesifik, Provinsi Aceh diperkirakan menderita kerugian sebesar Rp2,2 triliun, Sumatera Utara senilai Rp2,07 triliun, dan Sumatera Barat Rp2,01 triliun.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa pemerintah siap menambah anggaran untuk penanganan bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ia mengaku, anggaran tersebut sudah disediakan oleh Kementerian Keuangan.
BNPB ini masih ada Rp500 miliar lebih, di BNPB yang siap. Terus kalau nanti butuh dana tambahan kita siap juga menambah, dan sudah ada anggarannya,”
Purbaya di Park Hyatt, Jakarta.
Terkait berapa besaran dana yang akan dialokasikan oleh pemerintah untuk bencana tersebut. Purbaya mengatakan bahwa besaran anggaran akan disesuaikan dengan permintaan BNPB.
Ini tergantung permintaan BNPB, kan Anda tahu saya kaya. Tapi uangnya cukup, tinggal BNPB mengajukan ABT (Anggaran Belanja Tambahan) ke kita, nanti kita proses,”
Purbaya.
Purbaya menuturkan, alokasi anggaran tersebut bersumber dari pos darurat bencana. Dia mengatakan bahwa anggaran yang disiapkan akan cukup hingga masa rehabilitasi atau proses pemulihan usai bencana.
Pos darurat bencana kalau nggak salah, ada. Yang jelas, saya lupa kayaknya darurat bencana ada gitu,”
Purbaya.


