Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Sabtu, 27 Jun 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Sefruit
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Jadwal Piala Dunia
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Sepak Bola
  • DPR
  • Purbaya
  • MBG
  • prabowo
  • Prabowo Subianto
  • iran
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Ekonomi Bisnis / Daya Beli Loyo, Target Ekonomi 5,4 Persen Realistis atau Sekadar Angka Ambisius?
Ekonomi Bisnis

Daya Beli Loyo, Target Ekonomi 5,4 Persen Realistis atau Sekadar Angka Ambisius?

Nisa-OWRITEAmin-Suciady-Owrite
Last updated: Desember 23, 2025 4:50 pm
By
Anisa Aulia
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro...
Follow:
Amin Suciady
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya,...
Follow:
6 bulan lalu
Share
Ilustrasi Uang Rupiah.
Ilustrasi Uang Rupiah. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
SHARE

Jelang memasuki awal 2026, pemerintah membidik target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada tahun depan. Target ini naik bila dibandingkan pertumbuhan tahun ini yang diproyeksikan hanya 5,2 persen.

Daftar isi Konten
  • Bisakah Target Tercapai?
  • Laju Pertumbuhan 2026 Bisa Tertahan
  • Rintangan untuk Mencapai Target
  • Proyeksi Lembaga Internasional Hingga Ekonom

Berdasarkan Buku II Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026, target ekonomi 5,4 persen dibidik karena berpijak pada stabilitas ekonomi domestik, capaian pembangunan nasional tahun berjalan, serta strategi ekonomi dan fiskal tahun 2026.

Maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 ditargetkan akan mencapai 5,4 persen. Akselerasi pertumbuhan ekonomi terus diarahkan supaya lebih inklusif melalui pencapaian sasaran dan target indikator pembangunan,”

tulis dokumen itu dikutip Selasa, 23 Desember 2025.

Bisakah Target Tercapai?

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, menilai target pertumbuhan 5,4 persen berpeluang tercapai. Namun, ada syarat agar target itu bisa dicapai.

Target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen pada 2026 pada dasarnya masih mungkin dicapai, namun bukan tanpa syarat,”

ujar Rizal kepada owrite.

Secara teknokratis kata Rizal, target pertumbuhan ekonomi 2026 lebih tepat dibaca sebagai skenario terburuk alias upper bound scenario, yang mensyaratkan akselerasi investasi produktif, perbaikan kualitas belanja pemerintah, serta pemulihan daya beli yang lebih kuat. 

Tanpa perbaikan pada faktor-faktor struktural tersebut, target 5,4 persen akan sulit dijadikan sebagai baseline pertumbuhan yang realistis,”

katanya.

Laju Pertumbuhan 2026 Bisa Tertahan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal III-2025 konsumsi rumah tangga tercatat hanya sebesar 4,89 persen secara year on year (yoy), atau turun dibandingkan kuartal II-2025 yang tumbuh 4,97 persen, dan kuartal III-2024 yang sebesar 4,91 persen.

Rizal menilai, dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga 4,89 persen ini mencerminkan daya beli masyarakat mengalami pelemahan. Kondisi ini pun berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi pada 2026.

Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB, perlambatan ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi 2026 jika tidak diimbangi oleh sumber pertumbuhan lain,”

jelasnya.

Menurut Rizal, risiko pelemahan daya beli ke depan masih ada, terutama bila penciptaan lapangan kerja formal melambat dan kebijakan fiskal kurang efektif menjaga pendapatan kelompok menengah-bawah. Akibatnya, dampaknya ke pertumbuhan akan sangat signifikan.

Dampaknya ke pertumbuhan cukup signifikan, setiap perlambatan kecil konsumsi akan langsung menurunkan pertumbuhan agregat, kecuali mampu dikompensasi oleh investasi dan ekspor dengan multiplier yang lebih tinggi,”

terangnya.

Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan pemerintah perlu mewaspadai belanja barang tahan lama yang masih lesu akibat tekanan pada kelas menengah. Sebab, ia mengatakan akan berdampak ke pertumbuhan ekonomi 2026. 

Pada saat yang sama, sinyal yang perlu diwaspadai adalah belanja barang tahan lama yang masih lesu akibat tekanan pada kelas menengah. Dampaknya ke pertumbuhan 2026 bisa besar, karena konsumsi rumah tangga adalah komponen terbesar PDB, sekitar 53,1 persen,”

jelasnya.

Berdasarkan hitung-hitungannya, jika pertumbuhan konsumsi lebih rendah 0,5 poin persentase dari yang diharapkan. Maka laju pertumbuhan ekonomi dapat berkurang sekitar 0,25 poin persentase, kecuali tertutup oleh akselerasi investasi, belanja pemerintah, atau ekspor. 

Karena itu, bila konsumsi bertahan di sekitar 4,9 persen, sementara target pertumbuhan 5,4 persen dikejar, beban pendorongnya akan semakin berat di investasi dan belanja pemerintah, dan keduanya harus benar-benar berkualitas serta tepat sasaran,”

terangnya.

Rintangan untuk Mencapai Target

Josua mengatakan, terdapat rintangan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, yang berasal dari hambatan domestik dan eksternal. 

Untuk tantangan yang berasal dari domestik diantaranya penciptaan kerja layak yang belum kuat, gejala pelemahan industri, biaya usaha yang tinggi, keruwetan perizinan, produktivitas tenaga kerja, ketergantungan bahan baku, akses pembiayaan, hingga penyusutan kelas menengah. 

Dari sisi penyaluran pembiayaan, tekanan pada rumah tangga dan UMKM juga terlihat dari tren pertumbuhan kredit yang melemah serta risiko kredit UMKM yang masih tinggi,”

jelasnya.

Sedangkan dari sisi ekternal yakni ekspor masih berpotensi tertahan, karena perang dagang dan perlambatan China. Sementara impor cenderung lebih cepat ketika investasi dan permintaan dipacu. 

Karena itu, agenda pemerintah yang paling perlu didorong adalah menjaga daya beli secara lebih terarah (bantuan sosial yang tepat sasaran dan stabilisasi harga pangan), sekaligus mempercepat belanja pemerintah ke sektor produktif yang memberi dampak berganda besar dan menyerap tenaga kerja,”

katanya.

Di saat yang sama Josua menilai, percepatan investasi swasta harus ditopang oleh perbaikan iklim usaha yang konkret mulai dari perizinan lebih cepat dan pasti, biaya logistik dan energi lebih kompetitif. Kemudian penguatan pembiayaan produktif agar penurunan suku bunga benar-benar mengalir ke kredit utamanya untuk UMKM dan sektor padat karya. 

Proyeksi Lembaga Internasional Hingga Ekonom

Josua memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan ada di kisaran 5,1 persen hingga 5,2 persen. Ia menilai, untuk mencapai target pertumbuhan 5,4 persen, dibutuhkan dorongan tambahan di luar skenario dasar.

Dari sisi otoritas moneter, kisaran proyeksi 2026 juga lebar 4,9 persen–5,7 persen, sehingga 5,4% tidak mustahil. Tetapi jelas mensyaratkan eksekusi kebijakan yang kuat dan konsisten,”

katanya.

Sedangkan Indef memproyeksi, pertumbuhan ekonomi RI pada 2026 sebesar 5,0 persen. Rizal mengatakan, perkiraan tersebut lebih realistis dengan mempertimbangkan kondisi daya beli, ketidakpastian global, dan kapasitas kebijakan domestik saat ini. 

Artinya, target 5,4 persen hanya akan tercapai bila ada mix policy push yang kuat dan konsisten dan langsung fokus pada sektor produktif; tanpa itu, ekonomi Indonesia cenderung tumbuh hanya tetap solid di angka kisaran 5 persen dan tetap diangka moderat,”

kata Rizal.

Kemudian Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,1 persen, atau naik dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 5,1 persen. Pertumbuhan itu didorong oleh perbaikan permintaan domestik yang berasal dari stimulus fiskal dan moneter.

Adapun World Bank atau Bank Dunia memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap 5,0 persen pada tahun 2026, dan naik  menjadi 5,2 persen pada tahun 2027. 

Di samping itu, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja mengungkapkan kondisi daya beli dari masyarakat saat ini. Ia mengatakan, rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan masih tumbuh.

Diperkirakan rata-rata tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan pada tahun 2025 masih akan tetap tumbuh dibandingkan dengan tahun 2024 sebesar kurang lebih 10 persen. Kinerja industri usaha ritel pada tahun 2025 ini juga diprediksi masih akan tetap tumbuh meski tidak akan signifikan yaitu tidak akan lebih dari 5 persen,”

ujar Alphonsus saat dihubungi owrite.

Alphonsus menuturkan, pihaknya masih optimis kinerja sektor ritel pada tahun 2026 akan lebih baik. Hal ini mempertimbangkan beberapa kendala yang sudah berhasil diatasi oleh pemerintah.

Optimis bahwa kinerja sektor ritel pada tahun 2026 yang akan datang akan lebih baik lagi mempertimbangkan pemerintah telah berhasil mengatasi beberapa kendala pada pelaksanaan program-program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis ( MBG ) sehingga dapat lebih mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,”

imbuhnya.
Tag:BPSeditoralrapbntarget ekonomi
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Salin Tautan
Nisa-OWRITE
ByAnisa Aulia
Reporter
Follow:
Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi bisnis, dengan fokus isu ekonomi makro serta berbagai kebijakan ekonomi yang memengaruhi dunia usaha dan perekonomian Indonesia.
Amin-Suciady-Owrite
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal Jakarta — diwujudkan lewat dua bukunya, Toponimi Jakarta Barat dan Toponimi Jakarta Timur, yang mendokumentasikan asal-usul nama wilayah dan jejak budaya ibu kota.
Trending di OWRITE
Arena Judi Berkedok Tempat Bermain, Omzet Tembus Rp2,1 Miliar Sebulan
By Rahmat Baihaqi
Barang bukti kasus judi berkedok arena permainan anak-anak
1
Lima Peserta SPPI Tewas, Kemhan Akui Ada Penyakit yang Tidak Terdeteksi saat Proses Seleksi Kesehatan
By Rika Pangesti
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia
2
Dembele Mengamuk! Prancis Gilas Norwegia dan Kunci Juara Grup I Piala Dunia 2026
By Hadi Febriansyah
Dembele mencetak Hattrick saat Prancis gilas Norwegia
3
Ekuador Berpesta! Kalahkan Jerman, Presiden Langsung Umumkan Hari Libur Nasional
By Hadi Febriansyah
Suporter Ekouador larut dalam euforia kemenangan timnya atas Jerman
4
Lolos Tes Kesehatan, Lima Calon Manajer Kopdes Merah Putih Justru Meninggal Saat Pendidikan
By Rika Pangesti
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertahanan (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia
5

BERITA LAINNYA

Proses transfer dari Bank Mandiri ke DANA
Ekonomi Bisnis

Bank Mandiri Kantongi Laba Rp23,3 Triliun hingga Mei 2026

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp23,3 triliun selama…

Nisa-OWRITEAmin-Suciady-Owrite
By
Anisa Aulia
Amin Suciady
1 hari lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam media briefing di Kantor Kemenkeu (sumber: Anisa Aulia/Owrite)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Blak-blakan Defisit APBN Tembus 3% Bila Anggaran MBG Direlokasi Bukan Dipotong

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 hari lalu
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam media briefing di Kantor Kemenkeu (sumber: Anisa Aulia/Owrite)
Ekonomi Bisnis

Purbaya Ungkap Sempat Mau Dimarahi Bos Himbara, Lho Kenapa?

Sejumlah direksi Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mendatangi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi…

Nisa-OWRITEdusep-malik
By
Anisa Aulia
Dusep Malik
1 hari lalu
PT Pertamina Patra Niaga salurkan 7,8 juta tabung LPG 3 kilogram jelang Ramadan.
Ekonomi Bisnis

CNG 3 Kg Siap Gantikan LPG Subsidi, Mulai Produksi Juli

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menargetkan produksi tabung…

iren natania longdongAmin-Suciady-Owrite
By
Natania Longdong
Amin Suciady
1 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up