Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tampil sebagai pembicara utama dalam ajang World Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Davos, Swiss. Kehadiran Prabowo di forum bergengsi tersebut menjadi sorotan dunia internasional.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut paparan Presiden Prabowo dalam forum ini merepresentasikan pendekatan ekonomi khas pemerintahannya yang disebut sebagai “Prabowonomics.”
WEF Davos tahun ini dihadiri oleh sekitar 65 kepala negara dan kepala pemerintahan, serta lebih dari 1.000 CEO perusahaan multinasional dari berbagai sektor strategis. Dalam kesempatan itu, Prabowo menyampaikan berbagai capaian dan arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Salah satu sorotan utama dalam pidato Prabowo adalah keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program unggulan pemerintah. Prabowo menyebut, skala produksi program tersebut akan melampaui kapasitas harian jaringan restoran cepat saji terbesar di dunia.
Kami memulai program makan bergizi gratis bagi ibu hamil dan menyusui, bayi, serta seluruh anak Indonesia. Pada hari pertama, kami memulai dengan 190 dapur yang melayani 570.000 orang per hari—570.000 porsi makanan per hari,”
ujar Prabowo dalam pidato WEF 2026 di Davos.
Setelah satu tahun, kami telah membangun 21.102 dapur dengan kapasitas produksi 59,8 juta porsi makanan per hari,”
tambahnya.
Dibandingkan McDonald’s, MBG Lebih Cepat Berkembang
Prabowo menjelaskan bahwa pencapaian tersebut menjadi signifikan jika dibandingkan dengan McDonald’s yang memerlukan waktu lebih dari 50 tahun untuk mencapai kapasitas produksi sekitar 68 juta porsi per hari.
Sementara itu, Indonesia melalui program MBG diproyeksikan mampu memproduksi 82,9 juta porsi makanan per hari pada Desember 2026, atau hanya sekitar dua tahun sejak program tersebut diluncurkan.
Sebagai perbandingan, McDonald’s memulai dapur pertamanya pada tahun 1940. Untuk mencapai 68 juta porsi per hari, mereka membutuhkan sekitar 55 tahun,”
ujar Prabowo.
Program Makan Bergizi Gratis juga memberikan dampak ekonomi yang luas. Hingga saat ini, program tersebut telah menggandeng sekitar 61 ribu pelaku UMKM dan menyerap 2,1 juta tenaga kerja.
Tenaga kerja tersebut terdiri atas sekitar 600 ribu pekerja dapur, serta 1,5 juta pekerja yang tersebar di sektor pemasok bahan pangan dan vendor pendukung.


