Baru masuk awal tahun 2026, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit atau tekor sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Penyebab APBN defisit pada awal tahun ini karena, realisasi belanja lebih besar dibandingkan pendapatan negara. Realisasi belanja negara mencapai Rp227,3 triliun atau tumbuh 25,7 persen secara year on year (yoy), sedangkan pendapatan negara hanya Rp172,7 triliun atau tumbuh 9,5 persen yoy.
Posisi defisit APBN tercatat Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,”
ujar Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Adapun dari realisasi belanja negara Rp227,3 triliun ini, belanja terbesar berasal dari pemerintah pusat, khususnya belanja non kementerian lembaga (K/L).
Belanja negara sendiri terbagi menjadi dua, yakni belanja pemerintah pusat realisasinya sebesar Rp131,9 triliun atau 4,2 persen dari pagu APBN 2026. Kemudian Transfer ke Daerah (TKD) realisasinya Rp95,3 persen atau 13,8 persen dari pagu APBN.
Bila dirinci, realisasi belanja pemerintah pusat masih terbagi lagi menjadi dua bagian, yakni belanja K/L dan non K/L. Untuk belanja K/L realisasinya sebesar Rp55,8 triliun atau tumbuh 128,9 persen, dan belanja non K/L realisasinya Rp76,1 triliun atau 23,4 persen.
Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, realisasi belanja non K/L yang sebesar Rp76,1 triliun atau 4,6 persen dari pagu ini dipengaruhi oleh pembayaran manfaat pensiun dan pembayaran bunga utang tepat waktu.
Sedangkan belanja K/L Rp55,8 triliun atau 3,7 persen dari pagu APBN 2026, dipengaruhi oleh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penyaluran Bansos (PBI JKN dan PKH), serta percepatan belanja modal.
Ini adalah percepatan belanja yang dilakukan oleh seluruh pemerintah pusat terutama kementerian dan lembaga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, mendukung kesejahteraan masyarakat melalui APBN,”
ujar Suahasil.
Di samping itu, untuk realisasi pendapatan negara yang sebesar Rp172,7 triliun ini berasal dari penerimaan perpajakan sebesar Rp138,9 triliun atau 5,2 persen dari pagi APBN.
Jika dirinci, terdiri dari penerimaan pajak realisasinya sebesar Rp116,2 triliun atau 4,9 persen dari pagu, serta kepabeanan dan cukai Rp22,6 triliun atau 6,7 persen dari pagu APBN 2026.
Lalu, realisasi pendapatan negara Januari 2026 juga terdiri dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari pagu APBN 2026.


