Perang yang kian memanas antara AS-Israel vs Iran mulai mengguncang pasar energi global. Harga minyak mentah Amerika Serikat mencatat lonjakan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan berjangka, dipicu isu kekhawatiran terganggunya pasokan energi dunia.
Dikutip dari CNBC, Minggu, 8 Maret 2026, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI)pada perdagangan Jumat melonjak 12,21 persen atau US$9,89 dan ditutup di level US$90,90 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent naik 8,52 persen atau US$7,28 menjadi US$92,69 per barel.
Secara mingguan, kenaikan WTI bahkan mencapai 35,63 persen atau tertinggi sejak kontrak berjangka minyak tersebut pertama kali diperdagangkan pada 1983. Brent juga melesat sekitar 28 persen, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April 2020, saat pandemi mengguncang pasar energi.
Lonjakan ini terjadi ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang semakin berbahaya. Presiden AS Donald Trump pada Jumat bahkan menuntut penyerahan tanpa syarat dari Iran, memicu kekhawatiran konflik berkepanjangan yang berpotensi merusak pasar energi global.
Ketegangan tersebut sudah berdampak langsung pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz, dimana menjadi jalur pelayaran vital yang merupakan pintu keluar bagi sebagian besar ekspor minyak dari Teluk Persia. Lalu lintas tanker minyak di Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti dan jika jalur ini benar-benar tertutup, dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi dunia.
Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi mengatakan kepada Financial Times bahwa harga minyak bisa melonjak hingga US$150 per barel dalam beberapa minggu ke depan jika kapal tanker tidak dapat melewati Selat Hormuz.
Menurutnya, situasi itu berpotensi mengguncang perekonomian global.
Hal ini bisa menjatuhkan ekonomi dunia,”
kata Kaabi.
Ia juga memperingatkan bahwa para eksportir energi di kawasan Teluk kemungkinan besar akan segera menyatakan force majeure, kondisi ketika kontrak tidak bisa dipenuhi akibat keadaan darurat di luar kendali.
Semua eksportir di kawasan Teluk pada akhirnya harus menyatakan force majeure,”
ujarnya.
Di sisi lain, pemerintahan Trump mencoba menenangkan pasar dengan meluncurkan program asuransi senilai US$20 miliar untuk tanker minyak di Teluk Persia. Namun langkah ini belum mampu meredam gejolak harga minyak.
Gangguan Produksi Mulai Muncul
Sementara itu, Irak dilaporkan telah menghentikan produksi sekitar 1,5 juta barel per hari, menurut dua pejabat pemerintah yang berbicara kepada Reuters.
Selain itu, Kuwait juga mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan minyak mereka sudah penuh.
Menurut Kepala Riset Komoditas Global JPMorgan, Natasha Kaneva, pasar kini mulai beralih dari sekadar menghitung risiko geopolitik menuju menghadapi gangguan pasokan yang nyata.
Pasar sedang bergeser dari sekadar menilai risiko geopolitik menjadi menghadapi gangguan operasional yang nyata,”
tulis Kaneva dalam catatan riset kepada klien.
Jika Selat Hormuz tetap tertutup, pemangkasan produksi minyak global bisa mencapai 6 juta barel per hari pada akhir pekan depan. JPMorgan juga memperkirakan Uni Emirat Arab akan mulai menghadapi keterbatasan pasokan dalam waktu dekat.
Dampaknya mulai terasa hingga ke konsumen. Harga rata-rata bensin reguler di AS melonjak hampir 27 sen dalam sepekan, mencapai US$3,25 per galon, menurut data organisasi perjalanan AAA.


