Harga minyak mentah dunia hari ini menyentuh US$113 per barel. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, pemerintah akan terus mencermati perkembangan harga minyak dunia selama satu bulan ke depan.
Purbaya mengatakan, hal itu dilakukan untuk menentukan apakah diperlukan penyesuaian terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Saya akan evaluasi selama satu bulan ke depan (harga minyak dunia) apa yang terjadi dan kita akan lakukan adjustment seperlunya,”
ujar Purbaya di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Purbaya memastikan, pemerintah tidak akan terlambat mengambil keputusan untuk memitigasi dampak dari kenaikan harga minyak dunia.
Meski demikian, dia menyatakan tidak akan terburu-buru mengambil keputusan, sebab menurutnya harga minyak dunia terus mengalami perubahan.
Jadi temen-temen yang lain jangan cepet-cepet memastikan atau menyimpulkan harga (minyak) akan US$100 terus, bahkan ada yang bilang ‘menuju US$150, dan kita anggarannya akan nggak kuat’. Kita akan assess terus dari waktu ke waktu,”
terangnya.
Lebih lanjut Purbaya mengatakan, bila nantinya ada penyesuaian APBN, dipastikan pertumbuhan ekonomi tidak akan terganggu. Sebab, ia menilai ekonomi RI masih bisa ekspansi dan belum menunjukkan tanda-tanda adanya gangguan akibat melonjaknya harga minyak dunia.
Saya belum lihat ada gangguan dari aktivitas ekonomi dalam negeri gara-gara harga yang naik tinggi,”
katanya.
Di samping itu, Purbaya memastikan pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Hal ini karena fiskal dinilai masih bisa menahan dampak gejolak harga dalam jangka pendek.
Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM atau menaikkan harga BBM,”
imbuhnya.



