Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan, kinerja penjualan eceran baik secara tahunan dan bulanan. Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang naik 6,9 persen secara year on year (yoy) dan 4,4 month to month (mtm).
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan kinerja penjualan eceran itu didorong oleh kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, sub kelompok sandang.
Sejalan dengan permintaan yang meningkat saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan persiapan Idul Fitri,”
ujar Denny dalam keterangannya Selasa, 10 Maret 2026.
Secara bulanan kata Denny, pertumbuhan IPR diperkirakan naik menjadi 4,4 persen secara mtm, dari sebelumnya terkontraksi 2,7 persen mtm. Menurutnya, seluruh kelompok mencatatkan peningkatan.
Hampir seluruh kelompok mencatatkan peningkatan dan mendorong kinerja penjualan eceran terutama pada kelompok peralatan informasi dan komunikasi 2,5 persen mtm, bahan bakar kendaraan bermotor 4,7 persen mtm, dan sub kelompok sandang 9,6 persen mtm,”
katanya.
Bank Indonesia memperkirakan, kinerja penjualan eceran naik di sebagian besar cakupan kota pada Februari 2026. Hal ini tercermin dari nilai indeks dan pertumbuhannya baik secara tahunan maupun bulanan.
Hampir seluruh cakupan kota diperkirakan meningkat, tertinggi di Surabaya tumbuh sebesar 15 persen yoy, Banjarmasin tumbuh sebesar 14,7 persen yoy, dan Makassar tumbuh sebesar 3, 6 persen yoy,”
tuturnya.
Adapun secara bulanan, peningkatan IPR utamanya didorong oleh kinerja penjualan pada mayoritas kota, khususnya Manado yang tumbuh sebesar 0,4 persen mtm.
Di samping itu, responden memperkirakan penjualan eceran dalam 3 bulan yang akan datang relatif stabil dan meningkat pada 6 bulan yang akan datang. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) April 2026 tercatat sebesar 146,7, relatif stabil dari 146,8 pada periode sebelumnya pasca normalisasi kegiatan karena Idul Fitri.
Sedangkan IEP pada Juli 2026 akan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan saat peak season liburan sekolah dan mid season sale.
Dari sisi harga, tekanan inflasi 3 bulan yang akan datang yakni April 2026 diperkirakan turun, namun pada 6 bulan yang akan datang yaitu Juli 2026 diperkirakan meningkat.

