Negara-negara G7 menyatakan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung pasokan energi global, setelah perang AS-Israel vs Iran menyebabkan harga minyak melonjak.
Namun, pertemuan darurat para menteri keuangan G7 dan Badan Energi Internasional (IEA) berakhir tanpa kesepakatan untuk melepaskan cadangan minyak mentah strategis.
Diketahui, harga minyak mencapai hampir US$120 per barel pada hari Senin, 9 Maret 2026, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan, sebelum kemudian turun tajam setelah Presiden Trump meningkatkan harapan bahwa perang akan segera berakhir.
Pada pertemuan virtual tersebut, opsi pelepasan minyak dari cadangan merupakan salah satu dari beberapa opsi yang dibahas, dimana Fatih Birol, kepala IEA, mengatakan pasar minyak global telah memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Selain tantangan transit melalui Selat Hormuz, sejumlah besar produksi minyak telah dikurangi. Ini menciptakan risiko yang signifikan dan terus meningkat bagi pasar,”
kata Birol, dikutip dari BBC Internasional, Selasa, 10 Maret 2026.
Negara-negara anggota IEA saat ini memegang lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, dengan tambahan 600 juta barel cadangan industri yang dipegang berdasarkan kewajiban pemerintah,”
tambahnya.
Setelah pertemuan tersebut, Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan, bahwa pihaknya belum sampai ke tahap pembahasan mengenai cadangan darurat minyak akan dilepaskan.
Jika cadangan dilepaskan, ini akan menjadi yang pertama kalinya sejak 2022 setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.
Dalam pernyataan setelah pertemuan tersebut, G7 mengatakan: “Kami siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti pelepasan cadangan.”
Menteri Keuangan Rachel Reeves mengatakan, pada hari Senin bahwa Inggris menggunakan pertemuan tersebut untuk menyerukan de-eskalasi segera di Timur Tengah dan menjamin keamanan bagi kapal-kapal di wilayah tersebut.
Saya siap mendukung koordinasi pelepasan cadangan minyak kolektif IEA,”
tambahnya.
Tidak hanya itu, gangguan besar terhadap pasokan energi dari kawasan ini mengancam akan menaikkan harga bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia. Inflasi yang meningkat dapat menyebabkan berkurangnya pemotongan suku bunga oleh bank sentral.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya dikirim melalui Selat Hormuz. Namun, lalu lintas melalui jalur sempit tersebut hampir terhenti sejak perang dimulai lebih dari seminggu yang lalu.


