Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan belum akan melakukan perombakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di tengah kenaikan harga minyak dunia. APBN katanya, masih memiliki ruang fiskal untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak mentah.
Purbaya mengatakan, berdasarkan hitungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) realisasi harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) per 11 Maret masih di sekitar US$68 per barel. Sehingga katanya, harga minyak dunia masih berada dalam target asumsi makro 2026 yang sebesar US$70 per barel.
Berdasarkan estimasi kami, realisasi ICP secara average year to date hingga 11 Maret 2026 sekitar US$68 per barrel, ini sudah memasukkan kenaikan yang US$120 per barel yang sebentar itu ya. Ini masih dibawa asumsi APBN yang ditetapkan sebesar US$70 dolar per barrel,”
ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Kantornya, Rabu, 11 Maret 2026.
Purbaya mengatakan, dengan realisasi itu fiskal masih memiliki ruang untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga minyak dalam pelaksanaan APBN 2026.
Kemarin banyak yang nanya tuh harga minyak sudah US$100 per barel, apakah pemerintah akan segera merubah APBN-nya? Belum, karena kalau dari sini sampai kemarin masih US$68 per barel,”
jelasnya.
Purbaya memastikan, kondisi APBN saat ini masih bagus. Kendati demikian, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak global, dan kemungkinan akan dilakukannya evaluasi bila harga minyak terus menekan fiskal.
Kita masih bagus fiskalnya, nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi kita akan tentunya mengatur APBN. Tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir,”
katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Lucky Alfirman mengatakan, Kementerian Keuangan sudah berpengalaman mengelola APBN di tengah ketidakpastian. Untuk itu, pihaknya selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Jadi kita juga kalau mengelola APBN, mengambil keputusan pun kita juga harus hati-hati. Karena nggak bisa langsung baru berubah sedikit, kita langsung ngambil posisi, karena kita harus melihatnya secara keseluruhan,”
jelasnya.
Kemenkeu kata Lucky, akan terus memantau dan mewaspadai perkembangan dinamika yang terjadi. Langkah yang diambil katanya, akan diambil pada waktu yang tepat.
Jadi kalau saat ini kita terus mewaspadai, mencermati, tapi juga kita nanti akan mengambil langkah-langkah sesuai dengan kebutuhan dan timing yang tepat,”
katanya.


