Harga minyak melonjak lebih dari 8 persen pada Kamis, karena para pelaku pasar dinilai belum yakin cadangan minyak pemerintah mampu menutup guncangan pasokan besar akibat perang di Timur Tengah.
Melansir CNBC pada Kamis, 12 Maret 2026, harga minyak mentah Amerika Serikat atau West Texas Intermediate (WTI) naik 8,8 persen menjadi US$95 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent naik sekitar 8,88 persen ke level US$100 per barel.
Kenaikan ini terjadi meskipun International Energy Agency (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah darurat terbesar dalam sejarah.
IEA mengatakan pada Rabu bahwa 32 negara anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Langkah ini menandai aksi pelepasan cadangan minyak terkoordinasi terbesar sejak lembaga tersebut dibentuk setelah embargo minyak 1973.
Sementara itu, Amerika Serikat mengumumkan akan melepaskan 172 juta barel dari cadangan minyak strategisnya, Menteri Energi Chris Wright mengatakan pengiriman dapat dimulai minggu depan dan membutuhkan waktu sekitar 120 hari untuk seluruh proses selesai.
Pasar minyak dinilai mengabaikan pengumuman pelepasan tersebut, seiring dengan harga yang masih terus naik. Kondisi ini mencerminkan skeptisisme para pelaku pasar bahwa langkah tersebut mampu menutup potensi kekurangan pasokan jika arus pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu
Harga saat ini masih dalam mode panik. Ada banyak emosi, ketakutan, dan ketidakpastian yang tertanam dalam harga yang kita lihat,”
kata Pavel Molchanov, strategis investasi senior di Raymond James.


