Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) memproyeksikan puncak kenaikan harga bahan pokok akan terjadi menjelang Idulfitri tahun ini.
Selain menyoroti lonjakan harga di pasaran, IKAPPI mendesak pemerintah untuk segera menyiapkan langkah antisipasi terkait potensi putusnya rantai pasok pada masa pasca-Lebaran.
Sekretaris Jenderal DPP IKAPPI Reynaldi Sarijowan membeberkan deretan harga bahan pokok yang meroket tajam menjelang hari raya.
Berdasarkan data IKAPPI, harga cabai rawit merah kini menembus Rp105.000 per kilogram, diikuti cabai merah besar angka Rp69.000 per kilogram.
Komoditas pangan lainnya yang turut melonjak antara lain bawang merah (Rp56.000 per kilogram), bawang putih (Rp45.000 per kilogram), daging ayam (Rp50.000), telur (Rp32.000 per kilogram), serta minyak goreng curah (Rp21.000 per kilogram).
Menanggapi tingginya harga tersebut, Reynaldi berpendapat masyarakat akan tetap melakukan pembelian dalam jumlah besar guna memenuhi kebutuhan hari raya.
Fenomena ini dinilai sejalan dengan daya beli masyarakat yang berangsur pulih.
Ya, tentu dengan daya beli masyarakat yang semakin hari semakin membaik akan melakukan pembelian dengan jumlah yang mungkin saja besar, karena untuk hidangan selama Idulfitri. Momen ini kan setahun sekali,”
kata Reynaldi kepada owrite, Selasa, 17 Maret 2026.
Di tengah tren kenaikan harga mayoritas bahan pokok, IKAPPI mencatat ada upaya perbaikan pada harga Minyakita.
Reynaldi menyebut harga Minyakita perlahan mulai turun mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, kendati di beberapa titik, khususnya di Pulau Jawa, masih terpantau relatif tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, IKAPPI juga mengapresiasi Presiden Prabowo atas inisiatifnya menggunakan bahan pangan dan hasil bumi dalam negeri sebagai parsel ucapan Idulfitri.
Ini pertama kali dalam sejarah dan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia mengapresiasi. Presiden telah menyematkan keberpihakannya terhadap produksi dalam negeri atau hasil bumi negeri,”
ujar Reynaldi.
Namun, IKAPPI pun memberikan peringatan kepada pemerintah terkait potensi kerawanan pangan pada fase ketiga Ramadan atau pada H+3 hingga H+7 setelah Idulfitri.
Pada periode tersebut, harga pangan diprediksi kembali naik akibat terhambatnya suplai barang.
Itu yang harus diantisipasi karena pedagang pasar melakukan arus balik dari mudik, agar rantai pasok tetap terjaga di tiap pasar di seluruh Tanah Air,”
ucap Reynaldi.
Guna mencegah terjadinya kelangkaan barang dan lonjakan harga susulan di hari-hari rawan tersebut, IKAPPI mendorong pemerintah untuk segera melakukan tiga langkah intervensi strategis yakni menambah jumlah pasokan, memperkuat komunikasi di level pusat hingga ke daerah, dan operasi pengendalian harga.
Harga Stabil
Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar masih relatif stabil dan stok tersedia menjelang Lebaran.
Saat meninjau langsung di Pasar Rawasari Jakarta, Senin, 16 Maret 2026, Budi mengatakan pihaknya melakukan pengawasan langsung ke pasar untuk memastikan ketersediaan barang dan kestabilan harga di tingkat pedagang.
Menurut dia, kehadiran pemerintah di pasar juga dapat memberikan efek psikologis kepada pedagang agar tidak menjual komoditas di atas harga acuan penjualan (HAP) dan harga eceran tertinggi (HET).
Selain itu sebenarnya dengan pengecekan ke pasar itu secara psikologis bisa mempengaruhi pedagang untuk tidak menjual mahal atau tidak menjual di atas HET. Itu terus kami lakukan,”
ujar Budi.
Ia melanjutkan, memang terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga tipis, seperti cabai rawit dan telur, seiring meningkatnya permintaan menjelang Lebaran. Kenaikan harga tersebut masih dalam batas wajar.
Pemerintah bakal tetap memantau harga dan pasokan bahan pokok hingga periode Lebaran untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, salah satunya melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).



