PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan, laba bersih sebesar Rp5,6 triliun pada kuartal I-2026. Jumlah itu naik 4,09 persen dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp5,38 triliun.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena mengatakan, pertumbuhan laba ini ditopang oleh kombinasi bisnis yang sehat, peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan non bunga, serta kualitas aset yang semakin resilien.
Menghasilkan laba bersih sebesar Rp5,6 triliun hingga kuartal I-2026,”
kata Hussein dalam keterangan resmi Rabu, 29 April 2026.
Hussein menjelaskan, pada kuartal I-2026 dana pihak ketiga (DPK) menjadi salah satu penopang utama kinerja keuangan Perseroan. Dana murah (CASA) tercatat mencapai 26,6 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp731,6 triliun, ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 39,7 persen yoy dan tabungan 10,4 persen yoy.
Pencapaian ini tidak diperoleh dengan singkat, melainkan hasil dari upaya setiap lini bisnis terutama kinerja cabang yang didukung oleh platform digital channel BNIdirect dan wondr by BNI,”
terangnya.
Adapun hingga akhir Maret 2026, BNI mampu meningkatkan CASA market share sebesar 120 basis poin (bps) dari 10,1 persen di Maret 2025, menjadi 11,3 persen di Februari 2026. Dampak positifnya, biaya dana menjadi lebih efisien.
Selain itu, platform digital juga menjadi pendorong utama dengan jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 13 juta. Kemudian BNIdirect mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16 persen secara yoy. Pertumbuhan ini berperan dalam memperkuat dana giro korporasi serta meningkatkan efisiensi layanan bagi segmen bisnis.
Di samping itu, penguatan pertumbuhan CASA mendorong penyaluran kredit yang mencatatkan akselerasi pertumbuhan sehat sebesar 20,1 persen secara yoy, menjadi Rp919,3 triliun pada Maret 2026.
Penyaluran kredit ini tumbuh seimbang di sisi business banking dan consumer ritel untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Struktur pendanaan yang tumbuh solid dan ekspansi kredit yang sehat menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar 12,1 persen yoy,”
jelasnya.
Adapun untuk pendapatan non-bunga tumbuh 12,6 persen, terutama didorong peningkatan fee dari transaksi pada platform digital atau e-channel. Hussein menjelaskan, kinerja yang positif ini mendukung pencapaian Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) Rp9,3 triliun.
Lalu dari sisi kualitas aset, perbaikan kinerja terus berlanjut dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) membaik menjadi 1,9 persen, Loan at Risk berada di level 8,6 persen atau sudah lebih baik dari level sebelum pandemi, serta credit cost di level 1,1 persen sesuai dengan guidance.
Hussein menuturkan, untuk fundamental keuangan BNI juga tetap terjaga kuat, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 83,5 persen, serta rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di level 18,5 persen. Hal ini mencerminkan peran intermediasi yang optimal serta struktur permodalan yang sehat.
Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,”
tutur Paolo.


